Category Archives: Ringan & Penting

“Beton” Pun Berbicara!

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik Sipil UIR

             Kata beton dalam bahasa Indonesia berasal dari kata yang sama dalam bahasa Belanda. Kata Concrete dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin concretus yang berarti tumbuh bersama Atau menggabung menjadi satu. Dalam bahasa Jepang digunakan kata katau-zai, yang arti harafiahnya material-material seperti tulang; mungkin karena agregat mirip tulang-tulang hewan. Apapun definisinya, beton adalah material yang terdiri dari semen, batu kapur, air, batu pecah, krikil, pasir, dan besi beton.

Seandainya, material-material pembentuk beton ini bisa berbicara, mereka akan berdiskusi dan berdebat dengan sangat alot. Tak kalah, loh, dengan anggota dewan yang terhormat. Si batu yang merasa dirinya paling hebat. Berkat kehebatannya beton kelihatan kokoh, tegap dan gagah. Sang besi tidak mau kalah. Tanpa dirinya tembok beton tidak bisa berdiri tegak. Kerikil dan Pasir secara berbarengan bicara bahwa meski mereka berukuran kecil, tapi kontribusinya justru yang paling besar. Dengan ukuran yang kecil, mereka bisa menyelusup kesana kemari, menutup dan mengisi semua celah, sehingga kelemahan tembok beton yang berongga berhasil ditutupnya.

Tak kalah lantang dengan yang lain, semen dan batu kapur juga ikut berbicara. Mereka yang mengikat semuanya menjadi satu kesatuan utuh. Tanpa mereka, batu, besi, kerikil dan pasir hanya menjadi serpihan yang tak berarti.

Tetapi mereka, semuanya lupa. Lupa, bahwa airlah yang menyatuhkan mereka semua. Berkat air, semen dan batu kapur bisa mengikat komponen lainnya. Air yang selama ini diam, mulai mau berbicara. Air pun berbicara dengan bijaksana. Si air bilang bahwa dirinya bisa saja ikut terlibat perdebatan dan menonjol-nonjolkan diri dan jasanya. Namun untuk apa? Cobalah kalian renungkan secara jujur. Apakah tembok beton ini bisa menjadi sekokoh sekarang tanpa kehadiran salah satu di antara kita? Itu tidak mungkin. Tembok beton ini bisa sekokoh sekarang berkat sumbangan dan kontribusi kita semua, tanpa terkeculai. Lantas apa gunanya saling menonjolkan jasa dan keakuannya? Cobalah kita renungkannya secara jujur.

Mendengar ucapan air yang dinding menyejukkan dan bebas dari ego diri itu, kawan-kawannya langsung terdiam. Mereka merasa malu, tersindir. Masih dengan ucapan menyejukkan si air terus melanjutkan, “yang penting kita pikirkan bersama sekarang adalah cara bagaimana kita semua kompak melawan erosi dan korosi yang menggerogoti. Apakah yang disebabkan oleh air asin, udara yang mengandung garam, bahan kimia atau gempa bumi. Kalau kita semua kompak, meskipun mungkin saja kita terkalahkan, namun kalah secara terhormat. Kita boleh saja kalah, tapi tidak dengan mudah. Kita mungkin saja tumbang, namun tidak akan tunggang langgang. Kita boleh saja hancur, tapi dengan semangat yang pantang mundur. Kita boleh saja jatuh, tetapi tidak jatuh tapai. Maka saudaraku, marilah kita lebih kompak bersatu. Selamanya. Kita telah dipertemukan takdir sebagai satu kesatuan, mari dengan kehormatan penuh kita jaga keutuhan dan kelestariannya. Jaga dan jaga. Selamanya, tanpa terkecuali.”***      

Advertisements

Ternyata Perputaran Arah Jarum Jam Kita “Counter Naturalwise”

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

 

            ‘Perjanjian Tanda’ adalah salah satu ketentuan yang harus disepakati dalam menentukan arah perputaran gaya dalam ilmu Mekanika Teknik. Selama ini kita cenderung menggunakan perputaran gaya yang Searah Jarum atau ‘Clockwise’ sebagai tanpa  Positiv dan berlawanan Arah Jarum Jam atau Counter Clockwise sebagai tanda negativ. Nampaknya yang selama ini kita lazim sebut clockwise (searah jarum jam) sebenarnya lebih tepat kita sebut counter naturalwise (bertentangan dengan arah gerak alamiah), sedangkan yang lazim kita sebut sebagai counter closkwise (kebalikan arah jarum jam) justru lebih tepat disebut natural-wise atau ‘fitrah wise’ (searah dengan gerak alami atau searah dengan gerak fitrah).

            Dalam konstelasi alam makro, ternyata bahwa arah rotasi bumi dan rotasi bulan pada porosnya dilukiskan dari kanan ke kiri, dan arah pergerakan atau perputaran planet-planet di dalam tata surya (solar system) kita pun ternyata dilukiskan dari kanan ke kiri, bukan dari kiri kekanan. Jam Hijriyah: Solar Time yang ditulis oleh Harist Abu Ukasyah sendiri, yang unik pada jam dinding ini adalah semua jarumnya berputar dari kanan ke kiri, kebalikan dari arah perputaran jarum-jarum jam yang lazim kita kenal.

            Mengapa jarum jam Islam berputar dari kanan ke kiri? Arah gerak bagi hal-hal baik harus dimulai dari kanan ke kiri. Menurut Saad Muhamad Al-Mardafy (dalam buku: Kabah Pusat Dunia Sebuah Mukjizat Ilmiah) menjelaskan ada dua alasan untuk ini, kalau dikaji secara cermat, semua benda di dalam konstelasi alamraya ini, baik alam makro maupun alam mikro, apabila dilihat dari arah normal (yakni dari “atas ke bawah” atau “dari depan ke belakang” atau “dari diam ke bergerak maju”, dan sebagainya), ternyata tidak satu pun benda di alam raya ini yang bergerak dari arah kiri ke kanan seperti arah perputaran jarum jam yang selama ini kita kenal.

            Lintasan orbit penerbangan apollo ketika menuju bulan dan ketika kembali dari bulan menuju bumi juga dilukiskan mengikuti arah dari kanan ke kiri. Bahkan, arah pelari cepat pada lintasan lari yang mengelilingi stadiun atletik, kalau diproyeksikan dari atas ke bawah juga menunjukan dari kanan ke kiri. Gerakan pembalap sepeda pada lintasan “vellodrome” dan pacuan kuda juga mengikuti arah dari kanan ke kiri. Sampai dengan permainan Domino dan “Congkak” anak-anak juga mengikuti arah dari kanan ke kiri.

            Dalam konstelasi alam mikro, para pakar kimia inti juga melukiskan pergerakan elektron mengelilingi inti atom pada lintasan orbitnya masing-masing mengikuti arah kanan ke kiri. Seorang pakar matematika ketika masih belajar Matematika Dasar juga diajari membagi sistem salib sumbu dalam bidang Euclidus (Euclidean Field) menjadi empat bagian (kuadran), penetapan kuadran I, Kuadran II, Kuadran III, dan Kuadran IV juga mengikuti arah kanan ke kiri, persis seperti arah jarum jam Islam ciptaan Abu Ukasyah dan Syafril.

            Alasan kedua, adalah perputaran fitrah dari kanan ke kiri juga sesuai dengan sunnah Rasul, yakni “mendahulukan yang kanan daripada yang kiri dalam mengerjakan setiap pekerjaan yang baik-baik, baik pekerjaan ibadah ukrawi maupun pekerjaan duniawi, termasuk tertawaf mengelilingi kabah dalam rangkaian ibadah haji di Masjid Al-Haram.***       

 

Selamatkan Diri Anda Dari Bayangan Masa Lalu!

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

                 Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengundurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Dalam Al-Qur’an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

            Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Selamatkan diri Anda dari bayangan masa lalu! Apakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempat terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingatlah, ketertarikan Anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya, keterbakaran emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memperihatinkan, dan sekaligus menakutkan.

            Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu.

            Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikian: ”Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya.” Dan konon, kata orang yang mengerti bahasa binatang, sekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini, “Mengapa engkau tidak menarik gerobak?”

            “Aku benci hayalan,” Jawab keledai.

            Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya sibuk oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal, betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk memgembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab, yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.

            Orang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikitpun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah pernah melawan sunah kehidupan! (dikutip dari, Buku: La Tahzan:4-6)***

Hati Sang Koruptor Sangat berbahaya

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

                  Bila cerita masalah ‘berbahaya’, saya pun teringat sepenggal fragmen dalam seuatu film silat. Ceritanya begini. Alkisah seorang permaisuri yang berniat untuk membunuh sang baginda raja yang sedang berkuasa, dengan cara meracuni minumannya. Lantas, sang permaisuri pun mejumpai seorang dukun terkenal untuk meminta racun yang sangat berbahaya itu. Singkat cerita sang dukun pun memberikan racun sesuai dengan pesanan permaisuri. “Apakah di dunia ini ada racun yang lebih berbahaya dari racun ini?”, tanya sang permaisuri. “Ada”, jawab sang dukun. “Apa itu?”, tanya sang permaisuri lagi. “Hati Manusia”, jawab sang dukun.

            Bila hati manusia lebih berbahaya dari racun yang paling berbahaya di dunia, berarti hati koruptor lebih berbahaya dari bentuk korupsi apapun yang sangat berbahaya sekalipun. Mengapa korupsi sangat berbahay bagi segala sendi kehidupan bangsa. Marilah kita kutip tentang bahayanya korupsi dari buku ‘Koruptor itu kafir: 87-88), antara lain sebagai berikut ini.

            Korupsi merupakan kejahatan multikompleks, walaupun terkesan hanya terkait dengan persoalan maliyyah (harta benda). Meskipun fiqih atau hukum Islam telah banyak membahas konsep kejahatan terkait harta benda, korupsi merupakan karakter tersendiri. Ia tidak hanya melibatkan seseorang yang berkuasa, tetapi meliputi kejahatan yang langsung dilakukan oleh seseorang melalui kekuasaan yang diembannya. Dalam risywah (biasa diartikan suap) yang telah banyak dibicarakan dalam fiqih, misalnya pemegang kekuasaan hanya menerima harta benda dari orang yang tidak berkuasa untuk tujuan tertentu. Korupsi lebih serius daripada itu karena meliputi kasus pemegang kekuasaan yang langsung mencuri harta publik melalui otoritas yang dimiliki tanpa melibatkan orang lain yang berada di luar lingkar kekuasaan.

            Sebagai kejahatan modern, korupsi terus berkembang baik jenis, motif, pelaku maupun polanya. Dampak kerusakan yang diakibatkannya pun semakin meluas baik terhadap kedaulatan negara, kesejahteraan rakyat, penegakan hukum sampai dengan moralitas bangsa, bahkan pengahayatan agama. Korupsi telah merusak sikap berbangsa mulai dari perilaku hingga cara berpikir. Ketika korupsi telah berada pada titik itu, maka ia dapat menjadi budaya atau kebiasaan dan dianggap wajar. Budaya korupsi demikian dapat dilakukan oleh penyalahgunaan agama sebagai legitimasi sehingga tak jarang agama seakan-akan membenarkan sebuah tindakan yang termasuk dalam kategori korupsi.***

Pilih Pimimpin, Boleh Mengungkap Keburukan Lawan?

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik Sipil UIR

        

Marilah kita kuti infeormasi Al-Qur’an berikut ini: “Dan ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khlifah di muka bumi. “ Mereka berkata, “Akankah Engkau jadikan di sana (makhluk) yang merusak dan menumpahkan darah? Dan padahal kami menyucikan dengan memuji-Mu dan mengkuduskan-Mu.” (Q.S. Al- Baqarah [2]: 30).

Malaikat berani menyampaikan pendapat yang berbeda kepada Allah. Menurut Bambang Pranggono (dalam bukunya: Mukjizat Sains dalam Al-Qur’an), mengatakan: “tampaknya malaikat berminat juga menjadi kalifah”. Hal ini tidak sama dengan pelajaran dari guru-guru kita bahwa malaikat tidak punya keinginan dan selalu taat tanpa bertanya. Hikmahnya Allah yang jelas-jelas Mahakuasa saja memberi kesempatan berbeda pendapat, manusia sebenarnya tidak pantas memaksa kehendak kepada sesama.  

Malaikat mempunyai informasi tentang sifat perilaku buruk calon khalifah pesaingnya. Bahwa mereka gemar merusak dan saling membunuh. Selanjutnya malaikat menonjolkan sifat-sifat baik dirinya, yaitu selalu bertasbih memuji menyucikan Tuhan. Artinya, dalam proses pemilihan calon pmimpin, mengungkap keburukan lawan dan memuji keunggulan diri sah-sah saja. Buktinya Allah tidak menghardik malaikat karena itu. Dalam sejarah Islam, kita membaca betapa serunya pidato salaing menonjolkan keunggulan kelompoknya dan merendahkan lawan antara wakil Muhajirin dan wakil Anshar, ketika brebut kekhalifahan setelah wafatnya Rasulullah Saw. Lantas, bagaimana hasil argumentasi malaikat itu? Apakah yang ditunjuk jadi khalifah adalah orang yang selalu berperilaku baik?

Ternyata tidak. Allah tidak membantah kecaman malaikat tentang buruknya sifat calon kalifah yang dijagokan oleh-Nya. Dia hanya berfirman, “Aku tahu apa-apa yang kamu tidak ketahui,” dan tepap memilih Adam jadi khalifah. Tampaknya gemar merusak dan menumpahkan darah bukan halangan untuk menjdi pemimpin, malah mungkin itu justru sebagian dari sifat yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang efektif.

Orang yang sangat lembut hati, bertasbih, dan berzikir saja tetapi tidak tega berperang, tidak bisa menjadi pemimpin yang tegas. Abu Bakar r.a. memang lembut, tetapi ketika menjadi khlaifah dia berkata, “Aku akan perangi orang yang shalat tetapi tidak mau bayar zakat.” Dan dia  hancurkan tanpa ampun suku-suku yang membelot dan nabi-nabi palsu.

Sebenarnya malaikat menyindir, Adam tidaklah lebih unggul. Bukankah Adam juga tidak akan bisa menjelaskan nama-nama segala sesuatu tanpa  diberi “bocoran” oleh Allah. Jadi, bila diberi bocoran yang sama, malaikat merasa akan menang. Artinya, untuk memenangkan jago kita, kita boleh saja memihak. Tidak apa-apa menutup-nutupi informasi kepada calon saingan lain. Dalam kasus Nabi Adam, terungkap bahwa kombinasi yang pas untuk jabatan khlifah di bumi yaitu punya sifat keras, berani perang dipadu dengan kecerdasan, dan menguasai informasi. Malaikat mempunyai kombinasi sifat yang lain: Lurus, polos, dan tekun bertahmid dan bertasbih. Ini sifat yang baik tetapi tidak pas untuk posisi khalifah di bumi. Begitulah inspirsi dari Al-Qur’an Surat Al-Baqarah. Wallaahu a’lam.***

Hakim Yang Anti Nepotisme

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik Sipil UIR

Tak jarang bila Bapaknya pejabat, anaknya bertindak lebih dari pejabat. Apabila bapak penguasa, anaknya pun lebih berkuasa. Bila bapaknya aparat negara, bukan hanya anak saja, saudara, keponakan, besan, dan famili-famili jauh biasanya ikut menikmati fasilitas negara. Bagaimana kalau bapaknya hakim? Silahkan jawaban sendiri.

Continue reading

Babat Habis Koruptor Sebelum Terlambat

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

Lelah sudah kisah pahit penderitaan rakyat karena ulah koruptor. Cukup sudah penderitaan masyarakat kecil karena ketamakan hati busuk koruptor. Sudah saatnyalah para penghianat bangsa ini dibasmi dari muka bumi Indonesia. Dari dulu sampai saat ini, dengan segala aturan dan undang-undang bukannya mengurangi jumah mereka, tetapi malahan koruptor semakin tumbuh subur disekeliling kita. Tinggal satu cara yakni babat habis koruptor sebelum terlambat.

Berikut ini saya sajikan suatu kisah menarik tentang membabat habis koruptor sebelum terlambat. Kisah ini (Imelda Saputra, Inspirasi 5 Menit) menceritakan seorang Raja bijak yang mengutus seorang hakim ke suatu daerah untuk mengadili seorang pejabat negara yang terbukti melakukan korupsi, di mananya ia telah menerima laporan yang akurat sebelumnya.

Continue reading

Bukan Alam Sekarang

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Dosen Magister Teknik Sipil UIR

Jika pada suatu malam yang cerah kita memandang langit, barangkali terucap kalimat: “Indah sekali malam ini.” Akan tetapi pernahkah terlintas di benak Anda bahwa malam itu sebenarnya bukan malam itu! “Lho, maksudnya gimana”? Ya, sesungguhnya pemandangan langit yang sedang kita nikmati pada malam itu bukanlah kondisi langit pada saat itu. Kenapa bisa demikian? Karena, cahaya benda-benda langit yang ditangkap oleh mata kita berasal dari jarak yang sangat jauh dan berbeda. Ada yang berasal dari bintang terdekat-berjarak 8 tahun cahaya-tapi ada juga yang berasal dari galaksi nun jauh berjarak 1 miliar tahun cahaya.

Continue reading

Koruptor Itu Kafir

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

Demikianlah judul sebuah buku yang disusun dari hasil kerja sama dan konsolidasi mutakhir dari organisasi massa Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang didukung oleh kemitraan bagi perusahaan Tata Pemerintah. Meskipun NU dan Muhammadiayah jarang-jarang bisa akur, tetapi untuk hal yang satu ini mereka sepakat.

Salah satu paragraf kata pengantar dari editornya, mengatakan: Dalam tradisi Islam, tindakan syirik merupakan perbuatan yang tidak dimaafkan Allah. Mengandaikan bahwa korupsi adalah salah satu bentuk dari syirik, jelas para koruptor menjadi sejajar dengan musrik. Selain itu, dalam buku itu juga disebut bahwa pelaku korupsi akan dilaknat Allah SWT. Itu berdasarkan hadis Nabi: “Allah melaknat orang yang melakukan suap (risywah) dan menerima suap” (HR ibn Majah). Suap atau risywah merupakan  salah satu elemen dari tindak korupsi.

Continue reading

Koruptor Bagaikan Kalajengking

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/Praktisi HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia)/ dan Dosen Teknik Sipil UIR

Survey membuktikan kebanyakan koruptor itu adalah orang yang berpendidikan, tahu hukum tetapi menghianati hukum. Orang yang tahu agama tetapi ingkar terhadap agama, selalu membahas masalah kemanusiaan tetapi tindakannya tidak berprikemanusiaan, bertindak amoral, mumpung berkuasa libas saja apa yang bisa dimangsa. Kalau begitu apanya yang salah? Jawabannya pasti mentalnya yang tidak sehat, lebih setiap koruptor punyai aset yang sama, yakni “Tabiat” korup seperti Kalajengking. Mengapa seperti kalajengking?Bila Anda ingin tahu silahkan ikut kisah binatang penyengat berikut ini.

Continue reading