Category Archives: Pengamat Perkotaan

Penjara Buat Perencana Asal Jadi

Remembering Ruby Tower

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Dosen Magister Teknik Sipil Universitas Islam Riau

Bukan tidak mungkin akibat penyimpangan atau kesalahan rancangan yang dilakukan perencana/konsultan mengakibatkan runtuhnya bangunan tersebut. Hasil penelitian teknis mengungkapkan mengenai ambruknya Gedung The Ruby Tower di Manila tahun 1968, Hotel New World di Singapura tahun 1986, dan Jembatan Sarinah di Jakarta tahun 1981 diakibatkan oleh kesalahan perencana yang dilakukan oleh konsultannya Wiratman Wangsadinata, 1955 (kutipan: Bisnis Konstruksi Dihadang Banyak Persoalan, oleh Sulistijo Sidarto Mulyo).

Untuk dapat dijadikan pelajaran bersama, ada baiknya diceritakan sekilas mengenai salah satu  kasus ambruknya gedung di atas. The Ruby Tower adalah sebuah gedung beton bertulang 6 lantai di Kota Manila, Filipina, yang ditempati oleh 19 unit perkantoran di lantai bawah, 19 unit perkantoran di lantai kedua dan sisanya terdiri dari 76 unit hunian.

Gedung ini mengalami ambruk total pada tanggal 2 Agustus 1968 akibat suatu gempa ringan (percepatan sekitar 0,07 g), sehingga menimbulkan korban jiwa 328 orang dan luka-luka berat 147 orang.

Pada saat runtuh, umur gedung tidak begitu jelas, tetapi diperkirakan sudah lebih dari satu tahun. Pemerintah melakukan penyelidikan, kemudian hasilnya dikemukakan dalam tiga laporan, yaitu laporan “Citizen Committee” (terdiri dari 14 ahli) yang dibentuk oleh Walikota Manila, laporan Team UNESCO (terdiri dari 4 orang ahli, 3 dari Jepang dan 1 dari slandia Baru) yang diminta oleh Pemerintah, serta laporan dari The Philippine Institute of Civil Engineers (PICE).

Dari hasil laporan-laporan tersebut disimpulkan, bahwa ada kelalaian/kesalahan konsultan dalam merencanakan dan mengawasi pelaksanaannya sebagai faktor utama yang menyebabkan ambruknya gedung, dan menimbulkan begitu banyak korban jiwa. Akhirnya, lima orang tenaga “ahli”, yaitu seorang arsitek dan empat orang insinyur sipil dijatuhi hukuman penjara.

Nah! Bagaimana dengan perencana yang ada di Kota Pekanbaru? Terutama bangunan swasta, yang katanya perencananya adalah pemegang SIBP. Mengapa katanya? Karena secara formal memang diteken oleh pemegang SIBP, tetapi yang mengambar entah siapa-siapa. Jadi! Jagan heran. Apabila dijumpai pemegang SIBP yang teken digambar IMB itu ke itu oarangnya.

Saya baca di papan nama IMB pemegang ISBP selalu berinitial “S”, saya baca digambar lampiran IMB juga selalu menjumpai initial “S”. Beberapa proyek bermasalah yang saya tangani juga pemegang SIBP-nya ber initial “S”.

Mengingat hasil desain konstruksi SIBP masih banyak yang amburadul seperti, di tanah rawa hanya dipasang pondasi umpat (tidak ada pancangnya), besi sloof sering dipasang terbalik, dimensi kolom dan balok ada yang kekecilan, dan sebagainya.

Melalui artikel yang singkat ini saya kembali mengingatkan kepada pemegang SIBP yang bersangkutan agar berhati-hati karena kegagalan bangunan bisa menyebabkan saudara di “Penjara”. Buat Dinas Tata-Tata Kota hendaknya lebih selektif memilih dan menentukan pemagang SIBP yang berkompeten pada bidangnya. Ingat! Undang-Undang Jasa Konstruksi, baik perencana, pengawas, pelaksana, dan pemilik bangunan bisa mendapat ancamanan penjara.***

Advertisements

Si Tukang Bangunan Ber andai-andai dengan Rp. 2 Miliar

1

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Dosen Magister Teknik Sipil Universitas Islam Riau

Dilihat dari kaca mata puluhan masyarakat yang tergabung dalam Dewan Pimpinan Daerah Barisan Rakyat Anti Korupsi (Bara Api) serta Mahasiswa yang mengelar aksi demo di depan kantor Walikota. Aksi ini menyorot dugaan korupsi yang dilakukan Walikota Pekanbaru, Firdaus MT dalam penunjukkan langsung proyek tenda senilai Rp. 2 miliar ( Metro Riau, Sabtu tanggal 18 Oktober, halaman 14, dengan judul: Bara Api Sorot Dugaan Korupsi Firdaus).

Itu bila dilihat dari kacamata Aktivis, tentu berbeda bila dilihat dari kaca mata Tukang. Karena Si Tukang selama ini hanya belajar RAB (Rencana Anggaran Biaya) dan tidak pernah belajar hukum, maka dia pun tidak tahu apakah ada korupsi atau tidak. Si Tukang hanya bisa berandai-andai dengan uang Rp. 2 miliar, bila digunakan pada bidang bangunan. Boleh, kan? Kata seorang Tukang!

Siapa yang pernah berandai-andai? Katanya, dalam agama yang dianut berandai-andai memiliki hukumnya sendiri yaitu haram dan dibolehkan. Dalam konteks ini Dia mau bicarakan andai-andai yang dibolehkan saja seperti pengandaian karena keinginan untuk mendapatkan sesuatu. Bukan karena penyesalan atau protes terhadap takdir. Hukumnya tergantung dari apa yang diangankan. Kalau yang diangan/andaikan untuk kebaikan maka nilainya pahala dan sebaliknya. Tapi jika yang diangankan itu kemaksiatan ya jelas nilainya dosa dong. Kata Si Tukang.

Seandainya uang sebesar Rp. 2 miliar, akan dibangunkan Ruko berlantai-2 di tanah kosong di kampungnya dengan RAB Rp. 200 juta per pintu, maka Dia akan mendapat 10 pintu Ruko. Karena terbayang olehnya Tiang Pancang Mini Pile, seandainya uang sebesar Rp. 2 miliar dibelikan ke Tiang Pancang, dengan harga Rp. 135 ribu per meter yang panjangnya 6 meter per batang, dengan harga Rp. 810.00 per batang, makaDia kan mendapatkan Tiang Pancang sebanyak 2.464 batang. Seandainya satu pintu Ruko Menggunakan 12 Batang tiang pancang, maka cukup digunakan untuk tiang pancang 205 pintu Ruko.

Kemudian Si Tukang pun terpikir ingin membuat jalan setapak, seperti banyak sumbangan pekerjaan jalan beton yang dilihatnya beberapa waktu yang lalu di masa Pileg (Pemilihan legislative). Seandainya uang sebesar Rp. 2 miliar dibutakan ke Jalan setapak beton cor dengan lebar 3 meter tebal 15 cm dengan volume 0,45 m3 per meternya, seandainya harga satu meter kubik beton adalah Rp. 4 juta, maka Si Tukang akan mendapatkan hasil pengecoran jalan sepanjang 1.111 meter atau 1,111 km.

Tak tik tak tuk, jari Si Tukang lincah memencet angka angka di kalkulator. 2 miliar rupiah! Wow, Si Tukang takjub melihat angka yang besar itu. Si Tukang berpikir kalau uang ini digunakan untuk membangun rumah fakir miskin di kampungnya pasti bisa dapat lumayan banyak.  Apalagi buat modal usaha kecil. Kalau satu orang dikasih modal lima juta rupiah maka bisa menghasikan 400 pengusaha baru dikampungnya. Kalau mereka sukses pasti kampung Si Tukang ngak miskin lagi kayak sekarang.***

Islamic Center Kegagalan Bangunan Atau Bukan?

 

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

Masjid Islamic Center Kampar, terlihat kondisi fisik bangunan Muamalah dan gedung Mahligai Bungsu diberitakan di media masa retak, keramik lantai pecah, atap bocor sehingga tidak dapat difungsikan sebagaimana mestinya. Apakah dapat digolongkan sebagai kegagalan bangunan? Menurut Kadis PU Kampar, karena yang rusak bukan struktural maka tidak digolongkan sebagai “Kegagalan Bangunan”.  Caba kita lihat dasar hukumnya, yang dimaksud dengan “Kegagalan Bangunan” adalah keadaan bangunan yang tidak berfungsi, baik secara keseluruhan maupun sebagian dari segi teknis, manfaat, keselamatan dan kesehatan kerja, dan atau keselamatan umum sebagai  akibat kesalahan Penyedia Jasa dan atau Pengguna Jasa setelah penyerahan akhir pekerjaan konstruksi. (Pasal 34, PP No. 29 Tahun 2000).

Tergolong kepada kegagalan bangunan atau tidak, harus segera ada tindak lanjutnya. Harusnya kita tidak berputar-putar disekitar kegagalan bangunan atau tidaknya. Perlu tindakan yang nyata agar tidak terus menjadi polemik, segera bentuk Tim Independen, untuk mengadakan Penelitian. Kegagalan Bangunan pada ayat 1 (satu) Pasal ini, adalah apabila terjadi sebelum Umur Rencana Bangunan berakhir. Umur Rencana Bangunan untuk pekerjaan ini ditetapkan selama 10 (sepuluh) tahun, terhitung sejak Penyerahan Akhir Pekerjaan. Umur rencana bangunan ini dapat tercapai dengan asumsi bangunan digunakan sesuai dengan fungsinya dan dilaksanakan pemeliharaan rutin pada tahun berikutnya.

(a). Kegagalan bangunan dinilai dan ditetapkan oleh 1 (satu) atau lebih penilai ahli yang profesional dan kompeten dalam bidangnya serta bersifat independen dan mampu memberikan penilaian secara obyektif, yang harus dibentuk dalam waktu paling lambat  1 (satu) bulan sejak diterimanya laporan mengenai terjadinya kegagalan bangunan. (b). Penilai hasil sebagaimana dimaksud dalam butir 4.a. dipilih, disepakati bersama oleh Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa. (c). Pemerintah berwenang untuk mengambil tindakan tertentu apabila kegagalan bangunan mengakibatkan kerugian dan atau menimbulkan gangguan pada keselamatan umum, termasuk memberikan pendapat dalam penunjukan, proses penilaian dan hasil kerja penilai ahli yang dibentuk dan disepakati oleh para pihak. (d). Penilai ahli sebagaimana tersebut di atas, harus memiliki sertifikat keahlian dan terdaftar pada lembaga.

Sudahkah tindakan konkrit ini diambil? ***

PLTA Kotapanjang Penyebab Sarang Penyakit

 

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik Sipil UIR

             Laporan WHO (1983) mnyebutkan, bahwa permukaan air waduk yang relatif tenang dengan jumlah air berjuta-juta meter kubik, merupakan sarana potensial untuk munculnya wabah penyakit malaria, deman berdarah, muntaber dan diare. Penduduk di sekitar waduk memiliki prevalensi yang tinggi untuk menderita jenis-jenis penyakit tersebut.

            Malaria merupakan jenis penyakit yang telah lama dikenal dan telah berulang kali menjadi wabah di berbagai tempat di dunia. Salah satu jenisnya adalah malaria tropica yang sering menyebabkan kematian. Penyakit ini sangat menurunkan produktivitas dan memudahkan orang terjangkit penyakit lain.

            Pengobatan malaria hingga saat ini belum bisa dilakukan secara tuntas dan sering menimbulkan efek sampingan. Pencegahan ataupun pengendalian penyakit ini hanya dapat dilakukan dengan baik apabila dapat dilakukan pengendalian populasi vektornya, yaitu nyamuk Anopheles yang sarangnya sangat bervariasi, mulai dari air tawar, air payau serta genangan air lainnya, termasuk air waduk untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) ataupun irigasi dan pengendalian banjir.

            Menurut Mukhlis Akhadi dalam Majalah Konstruksi No. 401 Tahun XXXV Mei 2011 halaman 51. Wabah penyakit malaria diketahui meningkat di kawasan bendungan Tucurui di Brazil semenjak kehadiran bendungan itu. Kehadiran PLTA Kotapanjang menyebabkan memburuknya kualitas air waduk dan berkembang biaknya nyamuk-nyakmuk penyebab wabah malaria di daerah itu. Selain penyakit malaria, genangan air waduk juga dapat berperan sebagai tempat berkembang biaknya penyakit demam berdarah. Penyakit ini ditandai dengan gejala demam dan pendarahan dengan penyebab adalah virus Denque.

            Ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pembangunan sebuah bendungan, baik untuk irigasi maupun PLTA Pengelolaan air waduk harus dilakukan secara cermat agar daerah genangan air itu tidak menjadi sarana berkembangbiaknya penyakit-penyakit menular yang mengancam penduduk setempat. Perlu pemikiran dan perencanaan yang matang dengan mempertimbangkan berbagai komponen sosial-budaya maupun lingkungan dan keselamatan yang terkait di dalamnya.

            Pemilik atau pengelola bendungan harus terus-menerus memperhatikan keamanan bendungan terhadap lingkungan. Utamakan dengan memberi jaminan keselamatan bagi masyarakat yang tinggal di hilir bendungan itu, yang hampir seluruhnya tidak menyadari akan bahaya yang bakal terjadi apabila bendungan itu mengalami kerusakan yang fatal. Perlu juga dikembangkan program pemeliharaan dan pelestarian linghkungan di sekitar waduk dan daerah aliran sungai (DAS) yang mengikut sertakan segenap lapisan masyarakat setempat, sehingga manfaat dapat langsung dirasakan oleh masyarakat tersebut.

Dengan demikian kehadiran sebuah waduk akan menguntungkan semua pihak, dengan risiko-risiko sosial maupun ekologi yang menyertainya dapat dieliminir.***

Tanggunglah Akibat Dari Fly Over Terhenti

Fly Over Pekanbaru

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

 

Katanya. Fly over simpang jalan Sudirman-Harapan Raya terhenti sudah lebih dari satu bulan. Meskipun pekerjaan ini terhenti, akan tetapi tidak sedikitpun kemacetan pada area ini bisa terkurangi. Seandainya pemberhentian pekerjaan ini masih akan berlangsung terus dalam waktu yang lama, saya kira lebih baik geser sajalah pagar pengaman proyek untuk sementara agar lalu-lintas di area ini bisa agak lancar. Bila dibiarkan terus-menerus seperti ini, rakyak juga yang akan menanggung resikonya.

Coba lihat. Para pengendara mobil atau motor yang mengalami kemacetan di ruas jalan ini harus mengeluarkan biaya yang lebih banyak untuk bensin dan waktu yang terbuang, disamping itu juga sekaligus mencemari lingkungan. Dengan demikian di samping menciptakan biaya eksternal yang harus dipikul dirinya sendiri, merekapun menciptakan biaya eksternal yang harus dipikul orang lain.

Coba lihat. Kemacetan di ruas jalan ini membawa akibat berupa pengeluaran yang tidak produktif, karena kendaraan terpaksa bergerak dengan kecepatan rata-rata yang terlalu rendah. Bahkan sering berulang kali terpaksa harus berhenti, padahal mesin harus tetap hidup. Akibatnya banyak bahan bakar terbuang sia-sia, selain itu juga keausan pada beberapa bagian mesin kendaraan.

Perlu diketahui. Gas buang dari knalpot kendaraan biasanya mengandung hidrokarbon (HC) yang tidak terbakar, gas karbon monooksida (CO), gas nitrogenoksida (NO), gas hidrogen (H) dan gas karbon dioksida (CO2). Masing-masing gas itu berubah-rubah jumlahnya sesuai dengan cara pengoperasian mesinnya.

Akibat macet. Apabila mobil atau motor semakin sering diperlambat atau jalan di tempat seperti di ruas jalan ini, maka semakin tinggi pula komposisi pengeluaran gas buang yang berpotensi terhadap pencemaran udara, yang berarti akan menambah biaya eksternalnya.

Harapan. Semoga pihak-pihak yang terlibat bisa lebih bertanggungjawab. Ingat. Kemacetan yang terjadi tidak hanya ditanggung oleh pihak pengelola/instansi yang terlibat saja, tetapi juga ditanggung oleh oleh seluruh warga kota. ***

Space Frame Diterapkan Pada Bangunan Setara 150 Lantai

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

 

            Kita sering bertanya-tanya, seperti apa sistem struktur bangunan pencakar langit itu? Dari sekian banyak sistem struktur, Rangka Ruang (space frame) merupakan salah satu sistem yang sering diterapkan pada bangunan pencakar langit. Space frame terdiri dari susunan tiga dimensi dari batang-batang lurus. Contoh sistem ini yang ada di sekitar kita, Anda bisa melihat rangka ruang pada beberapa konstruksi kuda-kuda bangunan di purna MTQ,  Gelanggang remaja di jalan Sudirman dan Stadium utama di UNRI.

            Batang-batang space frame bisa kaku atau dihubungkan dengan sendi, atau dapat pula berupa gabungan antara keduanya. Dalam suatu sistem sambungan sendi, beban yang terjadi kesambungan dari berbagai arah akan dilawan secara aksial. Lentur dihasilkan oleh efek scunder. Space frame adalah struktur paling kaku yang menggunakan bahan paling sedikit karena batang-batang bereaksi langsung terhadap beban.

            Space frame terutama digunakan sebagai sistem bentang panjang untuk rangka atap di mana diperlukan ruang bebas antar kolom yang besar (gelanggang renang, pabrik, bangsal pertemuan, dll). Space frame juga sering digunakan untuk menara transmisi listrik dan kubah geodesi dengan perakitan ganda. Space frame dapat berfungsi pada bangunan tinggi, ia bisa menggantikan batang/komponen standar konevensional seperti dinding, balok dan lantai.

            Vehicle Assembly Building di Cape Kennedy, Florida, yang dirancang oleh Arsitek Max O. Urban (Wolgang Schueller: Struktur Bangunan Bertingkat Tinggi), menggunakan jenis konstruksi space frame untuk pertama sekalinya pada bangunan ini. Bangunan Vechile Assembly Building ini merupakan terbesar di dunia dalam volume yang dilingkup olehnya: tinggi setara dengan pencakar langit 50 lantai, dan demikian besar sehingga kadang-kadang awan mengembun di dalamnya dan hujan turun. Bangunan ini terdiri dari tiga menara yang merupakan kantilever vertikal yang melawan gaya-gaya lateral. Susunan dalam denah (tampak atasnya) seperti huruf “E” yang saling membelakangi.

            Dengan cara yang sama, Afred T. Swenson merencanakan kantor-apartemen 150 lantai. Rangka ruang eksternal ini memikul 100 persen dari beban gravitasi dan 65 persen dari baja struktur pada keliling bangunan, suatu langkah yang amat perlu untuk mengimbangi persoalan guling oleh angin terhadap struktur yang demikian tinggi. Pipa-pipa di bagian dasar bangunan berdiameter 4 (empat) inci dengan ketebalan dinding pipa 1,5 inci. Yang sangat menarik di sini, ialah pada bagian pipa yang kosong diisi air yang mengalir mengikuti prinsip gravitasi ketika terjadi kebakaran sehingga mengendalikan suhu di dalam struktur space frame.***

 

Wajar, Kurang Wajar, dan Kurang Hajar

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/Praktisi HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia)/ dan Dosen Teknik Sipil UIR

Bila sejumlah Ruko dibangun sesuai dengan aturan Perda, tidak melanggar GSB dan peruntukan, itu kita katakan Wajar. Bila sejumlah Ruko dibangun tidak mempertimbangan amdal, menghalangi sirkulasi dan pencahayaan tetangga, itu namanya Kurang Wajar. Akan tetapi, apabila sejumlah Ruko yang dibangun di atas taman kota dan daerah resapan air, itulah yang dinamakan Kurang Hajar.

            Bila drainase kota dirawat dengan benar, dibersihkan secara berkala, itu disebut Wajar. Bila oli bekas dan pembuangan air tinja ke drainase kota, itu dikatakan Kurang Wajar. Akan tetapi, apabila drainase kota sudah dijadikan tong sampah, itu baru namanya Kurang Hajar.

            Bila jalan beraspal rusak setelah umur rencana (10 tahun), itu dinamakan Wajar. Bila jalan beraspal rusak dalam tempo waktu beberapa tahun, itu  dikatakan Kurang Wajar. Tetapi, apabila jalan beraspal rusak dalam tempo waktu hanya beberapa bulan setelah diresmikan, itulah yang dinamakan Kurang Hajar.

            Tender konsultran yang dilakukan sesuai prosedur, itu kita katakan wajar. Tender konsultan yang dilakukan dengan pengaturan secara berjamaah, itu harus dikatakan Tidak Wajar. Bila tender konsultan tidak lagi dilakukan, tetapi oknum tertentu yang berpelat hitam yang membagi-bagi proyek kepada rekan-rekananya, atas permintaan oknum yang berpelat maerah,  itu dikatakan sangat Kurang Hajar.

Bila “Pekerjan Tambah” dilakukan untuk menambah mutu dan kesempurnaan suatu proyek pembangunan, itu kita namakan Wajar. Bila pekerjaan tambah itu dimaksudkan hanya sekedar untuk menghabiskan sisa anggaran, itu namamnya Kurang Wajar. Akan tetapi, apabila menciptakan pekerjaan tambah dengan cara mengada-ngada, atau fiktif untuk mengisi kantong-kantong pihak-pihak yang terlibat secara berjamaah, itu namanya sangat Kurang Hajar.

Bila panitia lelang menyeleksi rekanan sesuai dengan keppres, memenangkan yang profesional menurut ketentuan teknis, itu kita katakan Wajar. Bila, panitia lelang lebih mengutamakan salah satu rekanan yang dikenal baik, itu masih boleh kita katakan Kurang Wajar. Tetapi, bila panitia lelang memenangkan jagoaannya dengan babi buta, karena ada imbalan, itu harus kita katakan Kurang Hajar.

Bila kontraktor mencari untung di dalam proyek yang dikerjakannya itu, itu namanya Wajar. Bila kontraktor mengutamakan mencari untung dan menomorduakan kualitas dan waktu, ini masih boleh dikategorikan Kurang Wajar. Akan tetapi, bila kontraktor mencari untung besar dengan mengesampingkan profesional dan kualitas pekerjaan, itu harus dikatakan Kurang Hajar.

Konsultan Pengawas, mengawasi pekerjaan secara kontraktual dengan profesional, mengawasi ketepatan waktu, mutu, dan biaya pembangunan, itu kita katakan wajar. Bila konsultan takut mengawasi kontraktor dengan segala alasan klasik, itu kita namakan Tidak Wajar. Akan tetapi, bila konsultan pengawas lebih banyak mengawasi pekerjaan dari kedai kopi, minta HP dengan kontraktor, bagaikan gergaji bermata dua, ke atas dia makan dan ke bawah dia potong, itu namanya sangat Kurang Hajar.***

Lain Dulu Lain Sekarang

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik Sipil UIR

       

                Berakit-rakit dehulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Peribahasa ini menggambarkan kondisi sungai yang airnya melimpah ruah, jernih, sehingga bisa berakit-rakit dan berenang-renang ketepian sungai yang bebas polusi. Harusnya kondisi alam yang seteril seperti ini harus dipertahankan dari zaman dahulu kala, sehingga kita dapat menikmati hasilnya berupa keindahan panorama alam kemudian.

            Tetapi semua itu kita abaikan, karena kita tidak mau pusing. Sehingga, sekarang ini kita pun panen sampah dan zat beracun dalam sungai. Jadi, peribahasa tersebut di atas lebih cocok kita balik menjadi: Berenang-renang dahulu, berakit-rakit ketepian. Bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian. 

Dulu air sungai bersih, jernih, kelihatan dengan begitu jelasnya ikan kecil menari-nari di atas rerumputan air. Sekarang air sungai menjadi kotor, keruh, berwarna hitam keabu-abuan yang dipenuhi oleh sampah yang menari-nari. Dulu tebing sungai dipenuhi oleh rerumputan hijau, yang tampak bagaikan permadani pencegah longsor. Sekarang, tebing sungai telah menyempit dan dilapis oleh beton dan tembok yang kaku dan sudah banyak yang kropos.

            Dulu, tanggulan sungai dibentengi oleh pohon-pohon besar dan diperkokoh oleh akar-akar tunggangnya. Sekarang, di sekitar tanggul sungai telah dipagari oleh hutan-hutan beton, sampai-sampai ada juga bangunan liar dan WC umum yang berdiri dengan sombongnya di atas tanggulan sungai.

            Dulu, air sungai mengalir terus-menerus dengan derasnya, kelihatan sekelompok ikan kecil berenang menantang arus sungai yang berombak karena hembusan angin. Sekarang, sungai pun menjadi kering kerontang pada musim panas, yang kelihatan lumpur-lumpur hitam yang bagaikan pasta yang melapisi dasar sungai. Sekarang, bila hujan datang, air sungai pun meluap dan memuntahkan air bercampur sampah-sampah terapung bagaikan tsunami buat semut-semut kecil.

            Dulu, sering kelihatan sekelompok anak-anak kecil berenang-renang dengan tubuh telanjang di tengah kesejukan air sungai yang jernih. Sekarang, pemandangan seperti itu sudah lama tak kelihatan lagi, jangankan anak manusia hewan ternakpun enggan bermandi di sungai yang tercemar itu.***

Distributor Besi Beton di Pekanbaru Tidak Paham Mutu Baja

 

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

                 Aneh tapi nyata, begitulah kondisi penjualan material besi beton di Pekanbaru. Coba Anda beli besi beton dengan mutu katakan U-35 ke distributor, pasti mereka menjawab “yang kami jual hanya besi polos dan besi ulir, masalah mutunya silahkan uji sendiri saja”. Mereka bengong bila ditanya mutu baja tulangan, padahal buat konstruktur mutu baja tulangan sangat menentukan kekuatan suatu elemen struktur bangunan.

            Sebagai jaminan mutu tulangan baja, mereka memberikan “Mill’s Certificate” kepada kontraktor. Sertitkat ini hanya berisikan: kuantiti tulangan yang diorder sesuai dengan nomor PO, dari pabrik baja ke distributor yang bersangkutan, dan biasanya tidak mencatumkan nama kontraktor, apalagi nama proyek yang sedang dikerjakan. Kalau demikian, bukankah sertifikat ini dengan mudah bisa disalahgunakan?

            Seharusnya sebagai distributor, mereka harus tahu betul baja yang mereka jual. Mereka pun harus mengacu kepada persyaratan penandaan mutu tulangan beton, berdasarkan SNI. Agar tidak ada pihak yang dirugikan, biasanya konsumen, mereka melalui pabrik baja harus bisa memastikan mutu baja beton dengan pasti. Sehingga para konsumen tidak bertanya-tanya lagi, para konsumen hanya tinggal mengadakan uji tarik bila ada mutu yang dianggap meragukan. Bukankah begitu?    

              Berikut ini, saya sajikan kembali tentang besi beton dan penandaan mutunya. Berdasarkan bentuknya, baja tulangan beton dibedakan menjadi 2 (dua) jenis yaitu baja tulangan beton polos dan baja tulangan beton sirip. Baja tulangan beton polos adalah baja tulangan beton berpenampang bundar dengan permukaan rata tidak bersirip, disingkat BjTP. Baja tulangan beton sirip adalah baja tulangan beton dengan bentuk khusus yang permukaannya memiliki sirip melintang dan rusuk memanjang yang dimaksudkan untuk meningkatkan daya lekat dan guna menahan gerakan membujur dari batang secara relatif terhadap beton, disingkat BjTS.

            Syarat Penandaan. Setiap batang baja tulangan beton harus diberi tanda (marking) dengan huruf timbul yang menunjukkann inisial pabrik pembuat serta ukuran diameter nominal. Setiap batang baja tulangan beton harus diberi tanda pada ujung-ujung penampangnya dengan warna yang tidak mudah hilang sesuai dengan kelas baja seperti. Setiap kemasan, harus diberi label dengan mencantumkan: Nama atau nama singkatan dari pabrik pembuat, warna, nomor lembaran (No. Heat), nomor seri produksi dan tanggal produksi, nomor SNI.

            Tanda untuk kelas baja tulangan beton. Kelas baja BjTP 24 dengan warna hitam, Kelas baja BjTP 24 dengan warna hitam, Kelas baja BjTP 24 dengan warna Hitam, Kelas baja BjTP 30 & BjTS 30 dengan warna Biru, Kelas baja BjTS 35 dengan warna Merah, Kelas baja BjTS 40 dengan warna Kuning, dan Kelas baja BjTS 50 dengan warna Hijau. ***

Kecepatan Berapakah Angin Bisa Merubuhkan Bangunan?

 

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

            Tak jarang angin dianggap sebagai biang penyebab ambruknya suatu bangunan. Tiang beton masjid rubuh, katanya dihembus angin puyuh. Atap bagunan ambruk dan jatuh juga dikatakan karena Angin ribut dan Kuda-kuda Main Stadium patah juga dikatakan karena angin kencang.

            Kalau begitu, angin dengan kecepatan berapakah yang bisa merubuhkan suatu bangunan sipil? Berapakah kecepatan angin maksimum yang pernah terjadi? Pada ketinggian berapakah kecepatan angin maksimum itu bekerja? Itulah serangkai pertanyaan yang harus dijawab, agar dapat mengetahui sampai seberapa jauhkah kontribusi angin terhadap ambruknya suatu bangunan.

            Kecepatan angin maksimum yang pernah terjadi mungkin saja mencapai 100 km/jam. Data yang bersumber dari Stasiun meteorologi Bandara Sultan Syarit Qasim II Pekanbaru antara tahun 1997 s/d 2001, pernah tercatat kecepatan angin maksimum sebasar 80 km/jam pada bulan Mei 2001. Kecepatan maksimum ini pun terjadi pada ketinggian ratusan meter dari permukaan tanah.

            Sebagai catatan kecepatan angin maksimum yang dikatakan Puncak Boundary Layer, yakni kecepatan angin 100%, tidak terpengaruh kondisi permukaan bumi. Tinggi puncak boundary layer untuk daerah laut terbuka, padang es, padang pasir itu pun terjadi pada ketinggian 250 meter. Jika permukaan bumi merupakan daerah terbuka dengan perdu pendek dan pepohonan jarang, ketinggian puncak boundary layernya adalah 300 meter. Dan apabila daerah bagunan itu terletak di pinggiran kota, maka ketinggian puncak boundary layernya adalah pada 400 meter. Tentu, kecepatan angin untuk ketinggian di bawah 400 m akan cenderung semakin mengecil.

            Bila Anda ingin mengetahui kontribusi kecepatan angin terhadap ambruknya suatu bangunan, dapat diestimasi dengan skala gaya-angin beaufort. Skala beaufort dengan skala gaya 5, menunjukkan angin sedang yang menyebabkan cabang pohon kecil bergerak dengan kecepatan anginnya adalah 26,6 km/jam. Bila angin kuat yang menyebabkan cabang pohon besar bergerak, hal ini menunjukkan kecepatan angin sudah mencapai 44,6 km/jam.

            Anda tentu sudah kenal dengan angin puyuh yang bisa menyebabkan batang pohon kecil melengkung dan ranting patah, ini berarti kecepatan angin telah mencapai 54,7 km/jam. Akan teapi angin puyuh kuat bisa saja menyebabkan cabang pohon patah dan cabang yang lebih besar melengkung, ini menunjukkan kecepatan angin telah mencapai 65,5 km/jam. Sedangkan angin puyuh sangat kuat yang menyebabkan pohon kecil tercabut, genting beterbangan, dan bangunan rusak yang kecepatannya mencapai 77 km/jam. Yang satu ini disebut “angin topan”, angin ini bisa menyebabkan bangunan berat rusak rusak dan pohon tumbang atau tercabut, ini berarti kecepatan angin telah mencapai 90,4 km/jam. Tetapi apa yang akan hancur-minahlah, bila Anda menjumpai “topan badai”, yang menyebabkan bangunan hancur, seluruh hutan tercabut, manusia termasuk Anda dan hewan akan terbawa.

            Sekarang Anda tinggal jawab sendiri! Kecepatan berapakah angin bisa merubuhkan bangunan?***