Category Archives: Artikel Teknik Sipil

Kok, Engineer Memakai Ilmu Tukang?

Tukang kayu

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik Sipil UIR

             Sudah jelas sekali perbedaan kompetensinya. Civil Engineer sebagai orang yang berkopentesi sebagai ahli ilmu struktur, harusnya menggunakan ilmu struktur sebagai barometer untuk melaksanakan tugasnya. Sedangkan Tukang yang berkopentensi keterampilan dalam melaksanakan pekerjaan struktur, misalnya bagaimana mengikat besi yang baik dan rapi, kuat bila dicor, bekisting yang kokoh dan sebagainya.

Harusnya tukang tidak berhak membahas masalah kekuatan struktur, tetapi kenyataannya justru kebanyakan tukang lebih membahas masalah keahlian dibandingkan dengan kompetensinya sendiri yaitu keterampilan. Tetapi saya tidak terlalu mempersoalkan tukang angkat bicara masalah keahlian struktur. Yang membuat saya geli, terheran-heran adalah egineer yang memakai ilmu tukang seperti ini dalam membahas masalah keahlian struktur, bukan kelimuan yang dia dapat dibangku kuliah. Aneh tapi nyata, tak percaya tapi ada.

Saya sering diminta oleh pemilik bangunan untuk memeriksa beberapa pekerjaan bangunan gedung, sebelum diadakan pengecoran. Suatu kali saya memjumpai besi pelat lantai yang dipasang slang-sling membentuk tikar, meskipun aneh tetapi saya sering memjumpai pekerjaan seperti ini. Ketika saya tanyakan apa alasannya kok pembesian pelat lantai dibuat sedemikian rupa. Sang engineer, yang katanya pengawas lapangan menjawab: “Sengaja pak dibuat berbentuk anyaman tikar agar lebih kuat”. Saya tanyakan lagi: “ kata siapa lebih kuat? Apa dasar keilmuannya? Sang engineer pun menjawab: “Biasanya begitu, pak, dari dulunya saya kerjakan seperti itu, kan…aman-aman saja”.

Rupanya engineer tersebut, sama sekali tidak tahu, mana yang besi tunpuan arah x (Atx), mana besi tumpuan y (Aty), dan mana besi lapangan x (Alx), mana besi lapangan y (Aly). Mestinya dia tahu, luasan besi yang dibutuhkan hasil analisis momen lentur ini, dan besi mana yang harusnya dipasang di bawah untuk memikul besi bentang panjang (Aly). Dan susunan besi tumpuan yang di atasnya adalah “tulangan tarik” harus disusun sejajar dengan besi “tulangan tekan” yang berada di sebelah bawahnya, bukan disusun seperti tikar.

Menurut saya besi yang disusun yang katanya seperti anyaman tikar itu sebenarnya dia menanggap tulangan tarik di atas jaraknya digabungkan dengan tulangan tekan di bawah yang sangat tidak logis itu, agar pelaksanaannya dapat mengurangi besi pelat lantai hingga 40 % nya. Lho… kalau mau mencuri besi atau curi kerja, janganlah dengan alasan kelasik yaitu “Lebih kuat”, yang menyesatkan orang banyak. Ilmu semacam itu kalau dipakai oleh tukang secara turun temurun… walaupun tidak benar …tetapi masih bisa ditolelir. Tetapi ilmu seperti itu juga dipakai oleh engineer sipil, tentu sungguh keterlaluan…., di mana ya kuliahnya? Di perguruan tinggi mana? Di fakultas teknik mana yang mengajarkan ilmu semacam ini? Semoga jangan sampai menyesatkan orang banyak! Semoga.***

 

 

    

  

Advertisements

Perlukah Diragukan Kekuatan Jembatan Siak III ?

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

     Marilah kita lihat kutipan Harian Pagi Metro Riau ini Kamis 8 Desember 2011, pada halaman 2 yang berjudul: ”Daya Dukung Jembatan Siak III diragukan”. Beberapa pernyataan yang berbau teknis antara lain, pada paragraf 4: ”Noviwady menilai, keluhan banyak warga, adanya lengkungan besi yang bengkok dan bentuk dasar aspal jembatan yang tidak merata, membuat ia pun bertanya-tanya”. Dan di dua paragraf terakhir: ”Soal ketahanan jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah ini, sampai berapa tahun lama bisa dioperasikan. Hariyanto (pen:Kadis PU) justru tidak bisa memastikan waktunya. Masalahnya adalah bagaimana kita bisa merawat jembatan ini sendiri. Sejauh mana kita bisa peduli dengan apa yang kita miliki,”dahlinya”.

Saya kira setiap jembatan bukan hanya hanya di jembatan Siak III saja, bagian yang paling rawan adalah pada bentang tengah yang terletak di tengah sungai. Karena bukan hanya tinggi tetapi juga merupakan bentang terpanjang pada jembatan. Pada jembatan Siak III beban lantai kendaraan bentang terpanjang dipikul oleh baja profil yang berbentuk pelengkung, jadi kekuatan bentang tengah jembatan ini sangat tergantung kepada kekuatan profil baja pelengkungnya. Profil baja pelengkung biasanya sudah direncanakan dengan baik terhadap gaya tarik, tekan dan lentur, oleh sebab itu sudah dapat dipastikan baja profil tersebut akan kuat terhadap tarik, tekan dan lentur.

Disamping harus kuat terhadap gaya tarik, tekan, dan lentur, baja profil harus juga kuat terhadap gaya puntir (torsi) karena biasa tidak didesain khusus terhadap puntiran dari batang pelengkung ini dan baja profil pun termasuk elemen struktur yang lemah terhadap puntir. Gaya puntir baik temporary maupun permanen bisa saja terjadi di sini. Gaya puntir temporary bisa terjadi pada saat pemasangan profil (erection), gaya puntir permanen bisa terjadi apabila elemen batang pelengkun raksasa yang terpasang ini tidak benar-benar vertikal. Begitu terjadi sedikit membentuk sudut (tidak benar-benar vertikal) akan terjadi eksentrisitas yang akan menimbulkan gaya puntir pada pelengkung yang disebabkan oleh berat sendiri pelengkung. Penyebab lain terjadi momen puntir, bisa juga ditimbulkan oleh gaya angin pada kendaraan yang melewati jembatan (apalagi pada kondisi macet). Oleh sebab itu dalam uji coba Jembatan Siak III ini seharusnya juga diuji ketahanan terhadap momen puntir. Apakah sudah dilakukan uji coba puntirnya ?

Mengenai umur rencana harus ditetapkan pada setiap bangunan teknik sipil di atas dunia ini. Jadi, tidak terkecuali Jembatan Siak III. Masalah perawatan itu persoalan lain, dimana sebuah jembatan bila dirawat dengan baik mungkin saja masih bisa bertahan melebihi umur rencananya, begitu juga sebaliknya. Apabila sebuah jembatan tidak dirawat mungkin saja ambruk sebelum umur rencana.***  

Mengapa Pemeliharaan Sebuah Jembatan Diperlukan?

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

 

            Berkaitan dengan judul di atas, kita kutip pernyataan berikut: ”Kita targetkan masa ketahannya 40 tahun, tapi kalau bisa lebih dari itu tentunya akan lebih baik. Tapi tergantung bagaimana cara kita merawat Jembatan Siak III ini supaya lebih bermanfaat bagi masyarakat, ” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Riau, SF Hariyanto, kepada Metro Riau, Senin (28/11) di Kantor Gubernur Riau. Artinya, nantinya akan ada perawatan yang benar terhadap jembatan Siak III, bagaimana dengan jembatan Siak I? Sungguh disayangkan, karena kita belum mendengar tindakan apa yang akan diambil untuk jembatan Siak I yang katanya sedang sakit sekarat pada beberapa waktu yang lalu.

Jembatan Kutai Kartanegara yang katanya Golden Gate-nya Indonesia rubuh dalam umur yang pendek, hanya 10 tahun. Sedangkan Golden Gate sendiri dalam usia yang tua (74 tahun) masih bisa berdiri kokoh. Apakah karena pengaruh cara perawatan yang benar?

Mengapa pemeliharaan sebuah jembatan diperlukan? Secara umum, semua bagunan sipil (gedung, jembatan, bangunan air, air port) dirancang untuk sesuai dengan fungsi/tujuan dengan mengindahkan persyaratan-persyaratan kekuatan, kekakuan, kestabilan, daktilitas dan ketahanan terhadap kondisi lingkungan. Namun setelah bangunan berdiri, terjadi kerusakan yang berakibat persyaratan-persyaratan tersebut tidak terpebuhi lagi. Kerusakan dapat terjadi sejak awal bangunan beroperasi yang disebabkan oleh perencanaan, perencanaan dan pengawasan yang kurang baik, maupun setelah bangunan beroperasi yang disebabkan antara lain karena serangan fisik, kimia, overloading, penurunan pondasi, gempa, kebakaran, fatique, kejatuhan pesawat terbang dll. Secara langsung maupun tidak, kerusakan akan menyebabkan degradasi kekuatan yang mempengaruhi kinerja struktur secara keseluruhan. Jika bangunan tidak segera ditangani perbaikan atau perkuatannya, kerusakan dapat berlanjut lebih para lagi. Agar bangunan yang sudah rusak dapat terus difungsikan, diperlukan tindakan rehabilitasi yang dapat berupa perbaikan (retrofit) atau perkuatan (strengthening).

Sebelum dilaksanakan tindakan rehabilitasi bangunan existing, diperlukan pemeriksaan investigasi dan evaluasi kerusakan struktur utama maupun pendukung untuk mengetahui sejauh mana kelaikan bangunan. Dari hasil investigasi dan evaluasi dapat ditentukan metode perbaikan atau perkuatan yang paling optimal. Yang telah memasukkan beberapa kajian antara lain pendanaan/biaya, durasi pelaksanaan, ketersediaan bahan, alat, tenaga, dll. Investigasi semacam ini sering disebut Rekayasa Forensik (Forensic Engineering).***

Jembatan Kutai Runtuh, Bagaimana dengan Jembatan Raksasa di Pekanbaru?

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

 

Jembatan Kutai Kartanegara adalah jembatan Suspension abad modern yang melintas di atas sungai Mahakam. Jembatan ini runtuh tanggal 27 November 2011 kemaren dini hari waktu setempat. Bila jembatan gantung terpanjuang di Indonesia yang didesain pada masa yang serba canggih rubuh dan tenggelam sepanjang 200 meter, tanpa gempa atau angin putting beliung, tentu tidak berkelebihan bila kita harus prihatin juga terhadap jembatan raksasa seperti Siak Tiga dan Siak Empat yang sedang dibangun di Pekanbaru agar tidak sampai terjadi jembatan Kutai yang kedua. Apakah jembatan raksasa yang sedang kita bangun benar-benar direncanakan sampai 50 tahun ke depan?

Mengapa jembatan dengan bentang terpanjang yakni 270 meter, atau area tanpa penyagga dari total panjang 710 meter (berita resmi panjang jembatan ini hanya 580 meter), yang dibangun merupai Golden Gate di san Fransisco as bisa rubuh ? padahal jembatan ini baru berusia 10 tahun. Bagaimana dengan Pelengkung Jembatan Siak Tiga yang terbuat dari baja profil, yang harus memikul beban lantai kendaraan yang cukup panjang? Sudah benar-benar diperhitungan untuk jangka waktu 50-an? Bagaimana dengan Pondasi Pilon Jembatan Siak Empat? Apakah sudah benar-benar duduk ditanah keras? Dan apakah dalam kurun waktu 50-an diyakini tidak akan ada settlement (penurnan)?

Mengapa Jembatan Kutai bisa rubuh secepat itu? Padahal, kita mengenal Sistem monitoring SHMS (Structural Health Monitoring System) merupakan suatu alat Non Destructive Test dimana sistem sensor diintegrasikan pada struktur jembatan. Dengan bantuan teknologi informasi dapat diketahui respon struktur jembatan terhadap pembebanan. Dari respon tersebut dapat diketahui bagian yang mengalami perlemahan. Apakah system SHMS tidak diterapkan pada jembatan Kutai ini? Apakah Jembatan Siak Satu yang dikatakan sekarat di Pekanbaru telah diterapkan maintannace semacam sistem monitoring SHMS?

Dalam perencanaan sebuah jembatan pun harus ekstra hati-hati. Bahkan untuk struktur yang sama terdapat perbedaan yang harus dimengerti bila kita ingin mempelajari respon struktur secara global dan kalau kita ingin meneliti respon dari satu detail sambungan komponen, misalnya. Yang satu memerlukan model makro dan yang lain diperlukan model mikro. Kesalahan yang mungkin terjadi bila hal tadi tidak dicermati (hanya menganalisis struktur berdasarkan makro) antara lain adalah adanya kemungkinan terjadinya konsentrasi tegangan pada beberapa tempat karena ”flow of stresses” yang benar-benar terjadi tidak digambarkan oleh model makro yang lebih kasar. Jadi ada kemungkinan akan terjadi ”overstress” pada daerah detail yang tidak diperhitungkan dan pada akhirnya bisa menimbulkan keruntuhan lokal. Hal ini akan terdeteksi bila dilakukan analisis khusus untuk komponen tersebut dengan menggunakan elemen-elemen yang lebih halus (model mikro). Kasus ini biasanya terjadi pada daerah-daerah di mana ada konsentrasi gaya atau pada sambungan antarkomponen. ***

 

Kelok Sembilan Masuk Enam Jalan Raya Terunik Di Dunia?

 

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

            Setiap orang di sekitar kita tentu mengenal jalan raya Kelok Sembilan. Setiap pengemudi yang lewat di ruas jalan ini harus sangat waspada, karena jalan raya yang sempit, curam, dan perbedaan tinggi yang besar dalam jarak yang relatif pendek. Apakah pantas jalan raya Kelok Sembilan ini kita usulkan menjadi jalan Keenam terunik di dunia?

            Marilah kita bandingkan dengan lima jalan terunik di dunia menurut versi buku: 40 Fakta Unik Langka Aneh Misterius Di Seluruh Dunia, yang ditulis oleh Hendi Triono. SIP, sebagai berikut.

            Pertama. Jalan raya di Norwegia ini bernama “The Atlanterhavsveien” di daerah More og Romsdal, jalan ini seolah-olah menyerupai jalan layang berkelok yang menghubungkan kepulauan Averoy dengan Vevang, Kota Kristiansund dan Molde. Selain berada di kawasan angin kencang, jalan yang beroperasi 7 Juli 1989 ini memiliki struktur bangunan yang lebih menukik di atas perairan. Panjang lintasan jalan raya ini mencapai 8,3 kilometer.

               Kedua. Jalan raya di Mexico yang bernama “Capulin Volcano Road”, adalah sbuah jalan raya beraspal 2 mil ke puncak gunung dan setapak di aspal ke dalam kawah dan sekitar tepi perusahaan memberikan akses untuk mejelajahi gunung berapi Capulin di New Mexico. Di daerah ini, kemacetan mudah saja terjadi lantaran memiliki ruas jalan yang sangat sempit. Bagi Anda yang membawa kendaraan lebih kecil harus siap-siap mengalah apabila berpapasan dengan bus atau truk besar yang lalu lalang.

            Ketiga. Jalan raya di Kanada yang bernama “Tibbitt to Contwoyto Road”, jalan raya ini berasal dari danau-danau es yang membeku sering dilintasi truk-truk besar yang membawa muatan hasil pertambangan dari dan menuju Northwest Territories dengan Nunavut di utara Kanada. Jalan Raya ini merupakan jalan es terpanjang (568 kilometer) di dunia dibangun pada tahun 1982.

            Keempat. Jalan raya di Hawaii yang bernama Hana Highway. Hawaii dikenal memiliki pantai yang sangat cantik. Namun bagi Anda yang sedang berkunjung ke kawasan pantai Maui, panorama unik justru terlihat dari sisi jalan raya sepanjang 84 kilometer yang terletak di atas perbukitan laut. Selama Anda melintas di jalan Hana Highway, tentu membutuhkan tingkat keahlian dan kewaspadaan yang lebih matang ahar mobil Anda tidak tercebur ke jurang bukit.

            Kelima. Jalan raya di China. Sebuah jalan terowongan yang diberi nama Guoliang. Perjalanan penuh tantangan hanya dibutuhkan oleh setiap pengemudi yang bernyali besar. Jika Anda salah satu dari mereka yang selalu mencari tantangan, siap-siap saja beraksi di jalan terowongan Guoliang di Provinsi Hunan, China. Selain berada di area perbukitan yang tandus, jalan raya ini memiliki banyak terowongan yang menembus Pegunungan Taihang. Terkadang mobil Anda terlihat menghilang dari penglihtan di seberang bukit.

            Bagaimana pembaca sekalian? Bagaimana Saudara Hendi Triono? Setujukah Anda? Jalan Kelok Sembilan yang berada di Sumatera Barat, Indonesia yang tentu tidak kalah unik dengan kelima jalan raya tersebut di atas, kita namakan “Jalan Terunik Ke Enam Di Dunia”.***

Sudah Dengan Mini Pile Tetapi Bangunan Masih Retak

(Apakah Daya Dukung Tiang Tergantung Kalendering?)

 

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Praktisi  HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia)

Pertanyaan: Kepada Pengasuh Rubrik. Mengapa bangunan Ruko saya masih juga retak dan turun, padahal sudah menggunakan pondasi Mini Pile. Setiap tiang yang akan selesai dipancang sudah kami ambil kelenderingnya, Final Set pun sudah mencapai dibawah 30 mm atau 3 cm untuk 10 pukulan terakhir, dengan menggunakan mini pile 20 x 20. Apakah setting 30 mm untuk 10 pukulan terakhir masih belum cukup?

Jawaban:

Bila pondasi turun kemungkinan besar daya dukung mini pile yang Anda gunakan belum cukup. Kedalaman pemancangan tiang sangat mempengaruhi daya dukung mini pile yang Anda pancang. Jadi, daya dukung mini pile tidak hanya tergantung pada setting yang 30 mm untuk 10 pukulan terakhir tersebut di atas.

Dari Hiley Formula, dapat diketahui besarnya pengaruh kedalaman pemancangan terhadap daya dukung tiang. Meskipun berat dan tinggi jatuh hammer, final set (kalendering) dan  dimensi mini pile sama, bila pemancangan tiang semakin dalam maka daya dukung tiang (mini pile) akan semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh adanya penambahan beban, merupakan berat sendiri penggunaan tiang pancang yang semakin panjang.

Sebagai contoh: “untuk mencapai daya dukung single pile sebesar 24 ton, untuk tiang berukuran 20 x 20 cm, dipukul dengan droup hammer 1,3 ton, tinggi jatuh 1,0 meter, dan kedalaman pemancangan 16 meter, maka final set untuk 10 pukulan terakhir maksimal 30,147 mm. Tetapi, bila kedalaman pemancangan bukan 16 m, tetapi 21 meter maka final set maksimumnya adalah 21,060 mm. Bila kedalaman 30 m dan 35 m, maka final set maksimum adalah 9,819 mm dan 5,331 mm.

Jadi bila pada kedalaman pemancangan 16 meter dari top soil, untuk mencapai 24 ton final set maksimum adalah 30.147 mm, akan tetapi bila kedalaman pemancangan 35 meter maka final setnya harus 5,331 mm. Bila kurang dari 5,331, maka daya dukung tidaklah lagi mencapai 24 ton, inilah penyebab bangunan yang sudah dipancang masih retak dan turun. ***

Apa Beda Semen Portland Tipe I, PCC & SCC?

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

                 Kebanyakan masyarakat hanya mengenal satu jenis semen, yaitu semen portland tipe I atau yang sejenisnya. Semen portland tipe I merupakan jenis semen yang paling banyak dibutuhkan oleh masyarakat luas dan dapat digunakan untuk seluruh aplikasi yang tidak membutuhkan persyaratan khusus. Contohnya, ketika pemilik rumah atau tukang batu yang sedang mengerjakan proyek atau merenovasi rumah tinggal akan membeli semen di toko bangunan, mereka hanya menyebut semen, tanpa menyebut jenis semen apa yang seharusnya digunakan atau cocok dengan lingkungan pemukiman mereka berada.

Dengan perkembangan industri semen, pabrik semen saat ini memproduksi semen dengan aplikasi yang sama dengan semen tipe I. Semen tersebut dikenal dengan nama PCC (Portland Composite Cement). Semen ini, merupakan suatu variasi Produk semen, yang pada dasarnya merupakan semen potrland tipe I yang dicampur dengan aditif bersifat cementitious. Di Indonesia, PCC diproduksi berdasarkan SNI 15-7064-2004. Bahan campuran untuk PCC di Indonesia pada saat ini sebagian besar menggunakan abu terbang dan bahan-bahan cementitious lainya (dalam jumlah yang lebih kecil), dengan porsi semen portland berkisar 80-85 persen. Mengingat komposisi PCC dapat dikategorikan sebagai suatu variasi semen yang mendukung produksi beton ke arah yang lebih ramah lingkungan.

Sedangkan beton dengan kinerja pemadatan mandiri atau seft compacting concrete (SCC) merupakan suatu konsep inovatif untuk menghasilkan beton yang dapat “mengalir” namun tetap kohesif dan bermutu tinggi.

Pada dasarnya, self compacting concrete yang diproduksi dengan menggunakan bahan tambahan superplasticizer berbasis polimer, silicafume, dan bahan tambahan lain yang specifik, serta ukuran agregat yang terbatas (biasanya < 20 mm), dapat memberikan keuntungan sebagai berikut. Pada beton segar (fresh concrete), tingkat kelecakan (workability) yang tinggi, akan melewati tulangan yang rapat dan memenuhi semua tempat di dalam cetakan, dan padat secara mandiri (minim getaran). Juga, kemudahan dalam pengecoran, khususnya untuk pemompaan ke posisi yang tinggi.

Pada beton yang sudah mengeras (hardened concrete), keungtungan antara lain, beton yang padat dan cenderung kedap air, kekuatan yang tinggi dan susut yang rendah bila digunakan w/c yang rendah, keawetkan jangka Panjang yang lebih baik dan penghematan energi untuk pemompaan dan penggetaran. Selain itu, pengurangan tingkat kebisingan, sehingga dapat meningkatkan kenyamanan para pekerja ataupun lingkungan sekitarnya.***

Kuat Tekan yang Memenuhi Syarat

Pertanyaan: Kepada Pengasuh Rubrik. Tidak jarang terjadi perdebatan panjang dalam mentukan apakah mutu beton benda uji sudah terpenuhi atau belum di suatu proyek. Selama ini kita mengacu kepada PBI 71 & Pedoman Beton 1989, tetapi sekarang kita sudah ada code baru yakni SNI 2002. Bagaimana cara menentukan penerimaan beton berdasarkan SNI 2002 atau Kuat tekan yang bagaimana dari benda uji yang memenuhi syarat SNI 2847-2002 ? Apakah benda uji silindernya harus berjumlah 30 buah?

Jawaban:

Jumlah benda uji silinder yang dibuat tergantung pada frekuensi pengujian. Tidak harus berjumlah 30 atau 20 buah.

Bila hasil uji beton telah terkumpul dan telah disusun sesuai urutan tanggal pembuatannya, beton yang diwakili oleh benda uji silinder dianggap memenuhi syarat bila dua hal berikut ini terpenuhi: (a). Tidak ada nilai kuat uji tekan, rata-rata dari kuat tekan 2 (dua) silinder  yang lebih kecil dari f’c – 3,5 MPa. (b). Tidak ada nilai kuat tekan rata-rata dari 3 (tiga) uji tekan yang berurutan yang lebih kecil dari f’c.

Contoh: Tabel di samping ini menunjukkan hasil uji tekan beton bermutu f’c = 35 MPa dari suatu proyek. Menurut syarat SNI pasal 7.6.3.3. Batas dari syarat (a) adalah 35-3,5 = 31,5 MPa. Batas syarat (b) adalah = 35 MPa.

Evaluasi: Kuat tekan silinder tanggal 10/8/08 = 28,3 MPa, cenderung disebabkan oleh kesalahan dalam pembuatan silinder No. 1b. Beton di semua kelompok komponen memenuhi syarat mutu beton, syarat (a) dan (b). Kesimpulan: Beton kelompok B s/d F memenuhi syarat.***

Ikrar Seorang Insinyur

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik Sipil UIR

             Aku seorang insinyur. Profesi yang akan aku sandang dengan penuh kehormatan, dan kebanggaan. Tetapi tanpa rasa takabur. Kehormatan yang membuahkan kewajiban-kewajiban yang secara tulus akan aku tunaikan.

            Sebagai insinyur. Aku hanya berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang jujur. Kepada mereka yang aku layani, rekanan atau pemberi tugas. Aku janjikan kecakapan, kejujuran dan kesetiaan yang lugas.

            Bila masyarakat memerlukan. Keterampilan dan pengetahuan yang ada padaku, kupersembahakan, tanpa batasan. Nikmat ilmu yang aku miliki, harus kusyukuri dengan pengabdian kepada kemanusiaan dan kebenaran sebagai tanggungjawabku pada si Pemberi Nikmat. Tuhan Yang Maha Esa.

            Dengan kecemburuan seorang ibu aku jaga reputasi mulia dan nama baik profesi insinyur yang telah aku pilih. Dengan kesetiaan seorang sahabat aku jaga kepentingan dan nama baik dari rekan insinyur yang aku tahu pantas dimilikinya. Akan tetapi aku tidak gentar kalau kewajiban memanggil untuk memaparkan kebenaran tentang sesuatu atau seseorang rekan yang tindak tanduknya terbukti tidak bertanggungjawab.

            Semenjak zaman batu, kemajuan kemanusiaan hanya mungkin terjadi karena kepiawaian nenek moyangku Sang Insinyur. Di tangan mereka sumber alam, materi dan energi telah berubah menjadi hal-hal yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Di tangan mereka prinsip ilmu pengetahuan dan revelasi teknologi telah berubah menjadi hal–hal yang praktis dan berguna. Berkat akumulasi pengalaman merekalah aku mungkin meniti kemajuan. Karena aku baktikan diriku untuk penyebaran pengetahuan keinsinyuran yang aku miliki, terutama bagi rekan-rekan yang lebih muda, muda usia dan muda pengalaman.

            Dan kepada rekan-rekan setaraku daku janjikan dan menuntut pula, Sikap adil dan penuh integritas. Sikap toleransi dan penuh respek. Dalam menghayati dan menjaga kehormatan profesi ini. Sadar selalu bahwa pengabdian profesi kepada masyarakat sekeliling, pada generasi yang akan datang, pada lingkungan hidup yang lebih baik, pada hati nurani yang bersih adalah merupakan manifestasi pengabdian kepada Sang Pencipta-Tuhan Yang Maha Esa. Demikian Ikrarku. (dari buku Etika Bisnis Konstruksi yang disadurkan  dari Faith of the Engineer oleh A.M. Luthfi dengan bantuan Taufiq G. Ismail).***

Korelasi Nilai ‘N’ SPT dengan Nilai Qc

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Praktisi  HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia)

 Pertanyaan: Assalamualaikum wr wb. Begini pak, saya mau nanya, saya mahasiswa dari Bengkulu, Saya mau mencari judul skripsi nah kebetulan saya tertarik dengan skripsi tentang geologi, bisa nggak pak, kita meneliti suatu sampel tanah dengan sondir dan boring kemudian dijadikan penelitian,kira2 apa yang diteliti ya pak ?? mohon petunjuknya M Sodri Renjani | February 1, 2011 at 12:10 pm | Reply | Edit

Jawaban: Walaikumussalam Sdr. M Sodr Renjani. Dari percobaam sondir kita tidak mendapatkan sample tanah, tetapi kita peroleh nilai tanahan ujung atau perlawanan ujung konus yang disebut Qc. Sedangkan dari borring, bukan saja bisa diperoleh sampel tanah tetapi juga didapatkan nilai uji SPT yang disebut dengan ‘N’ Value. Anda bisa mengambil tema ” Korelasi Nilai Qc pada Sondir dengan Nilai ‘N’ Value pada alat SPT. Sebagai referensi yang ada korelasi nilai Qc dengan N untuk tanah lempung=2,5 dan untuk tanah pasir=4. Silahkan Anda teliti korelasi untuk berbagai jenis yang ada di Lampung.

Penelitian dan analisis perhitungan korelasi hasil percobaan CPT dan SPT ini dilakukan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut :

  1. Data yang ada pada lokasi percobaan CPT dan SPT tidak berada pada titik yang sama melainkan pada titik terdekat yang dianggap mewakili (jarak titik CPT dan SPT ±10 m)
  2. Karena percobaan tidak pada titik yang sama, maka pengambilan nilai SPT & CPT diambil tidak persis pada kedalaman yang sama, melainkan pada kedalaman yang sama dengan toleransi ±0,5 meter (atau nilai yang logis berdasarkan pengamatan terhadap grafik CPT dan SPT).
  3. Untuk mendapatakan nilai korelasi, dilakukan dengan pendekatan  “Regresi Linier” terhadap data yang dengan bantuan microsoft excel.
  4. Nilai perlawanan konus (qc) dari percobaan CPT adalah sebesar empat kali nilai N pada percobaan SPT dari Terzaghi dan Peek hanya dipakai sebagai tolok ukur saja atau perbandingan dengan nilai korelasi yang akan diperoleh.

Grafik 5.1 Persamaan Regresi Linier hubungan qc dan SPT (ekivalen gabungan data)