Penjara Buat Perencana Asal Jadi


Remembering Ruby Tower

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Dosen Magister Teknik Sipil Universitas Islam Riau

Bukan tidak mungkin akibat penyimpangan atau kesalahan rancangan yang dilakukan perencana/konsultan mengakibatkan runtuhnya bangunan tersebut. Hasil penelitian teknis mengungkapkan mengenai ambruknya Gedung The Ruby Tower di Manila tahun 1968, Hotel New World di Singapura tahun 1986, dan Jembatan Sarinah di Jakarta tahun 1981 diakibatkan oleh kesalahan perencana yang dilakukan oleh konsultannya Wiratman Wangsadinata, 1955 (kutipan: Bisnis Konstruksi Dihadang Banyak Persoalan, oleh Sulistijo Sidarto Mulyo).

Untuk dapat dijadikan pelajaran bersama, ada baiknya diceritakan sekilas mengenai salah satu  kasus ambruknya gedung di atas. The Ruby Tower adalah sebuah gedung beton bertulang 6 lantai di Kota Manila, Filipina, yang ditempati oleh 19 unit perkantoran di lantai bawah, 19 unit perkantoran di lantai kedua dan sisanya terdiri dari 76 unit hunian.

Gedung ini mengalami ambruk total pada tanggal 2 Agustus 1968 akibat suatu gempa ringan (percepatan sekitar 0,07 g), sehingga menimbulkan korban jiwa 328 orang dan luka-luka berat 147 orang.

Pada saat runtuh, umur gedung tidak begitu jelas, tetapi diperkirakan sudah lebih dari satu tahun. Pemerintah melakukan penyelidikan, kemudian hasilnya dikemukakan dalam tiga laporan, yaitu laporan “Citizen Committee” (terdiri dari 14 ahli) yang dibentuk oleh Walikota Manila, laporan Team UNESCO (terdiri dari 4 orang ahli, 3 dari Jepang dan 1 dari slandia Baru) yang diminta oleh Pemerintah, serta laporan dari The Philippine Institute of Civil Engineers (PICE).

Dari hasil laporan-laporan tersebut disimpulkan, bahwa ada kelalaian/kesalahan konsultan dalam merencanakan dan mengawasi pelaksanaannya sebagai faktor utama yang menyebabkan ambruknya gedung, dan menimbulkan begitu banyak korban jiwa. Akhirnya, lima orang tenaga “ahli”, yaitu seorang arsitek dan empat orang insinyur sipil dijatuhi hukuman penjara.

Nah! Bagaimana dengan perencana yang ada di Kota Pekanbaru? Terutama bangunan swasta, yang katanya perencananya adalah pemegang SIBP. Mengapa katanya? Karena secara formal memang diteken oleh pemegang SIBP, tetapi yang mengambar entah siapa-siapa. Jadi! Jagan heran. Apabila dijumpai pemegang SIBP yang teken digambar IMB itu ke itu oarangnya.

Saya baca di papan nama IMB pemegang ISBP selalu berinitial “S”, saya baca digambar lampiran IMB juga selalu menjumpai initial “S”. Beberapa proyek bermasalah yang saya tangani juga pemegang SIBP-nya ber initial “S”.

Mengingat hasil desain konstruksi SIBP masih banyak yang amburadul seperti, di tanah rawa hanya dipasang pondasi umpat (tidak ada pancangnya), besi sloof sering dipasang terbalik, dimensi kolom dan balok ada yang kekecilan, dan sebagainya.

Melalui artikel yang singkat ini saya kembali mengingatkan kepada pemegang SIBP yang bersangkutan agar berhati-hati karena kegagalan bangunan bisa menyebabkan saudara di “Penjara”. Buat Dinas Tata-Tata Kota hendaknya lebih selektif memilih dan menentukan pemagang SIBP yang berkompeten pada bidangnya. Ingat! Undang-Undang Jasa Konstruksi, baik perencana, pengawas, pelaksana, dan pemilik bangunan bisa mendapat ancamanan penjara.***

Advertisements

2 responses to “Penjara Buat Perencana Asal Jadi

  1. Sepakat dengan apa yang Bapak sampaikan, sekarang rawan bergesekan dengan ranah hukum.
    Kalau saran bapak buat mahasiswa2 penerus pelaku konstruksi sprti apa pak?
    Tks

  2. Pingback: Penjara Buat Perencana Asal Jadi — Science and Civil Structure Media | Agus Susanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s