Dunia Hanyalah Ilusi


nothing3-700x525

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Peminat Sains Qur’an/Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR

Kita awali artikel ini dengan mengutip informasi Alquran (Tafsir Rahmat oleh H.Oemar Bakry). QS Al Ankabuut (29): 64: Kehidupan dunia ini adalah senda gurau dan permainan belaka. Kehidupan Akhiratlah yang sejati (sebenarnya) kalau mereka mengetahui.”

Kini, pikirkan sebuah apel sedang terlihat dalam otak Anda sebagai suatu gambaran. Renungkanlah, siapa gerangan yang melihat gambar ini? Atom-atomkah? Atom-atom yang tak punya kesadaran? Atom-atom yang buta? Bukankah mustahil ada kehendak dalam atom-atom tersebut? Apakah tindakan kita berpikir, memahami, mengingat, senag, sedih dan segala tindakan lainnya terdiri atas reaksi-reaksi kimia-fisika di antara atom-atom ini? Maka, sampailah kita pada kesimpulan penting bahwa harus ada suatu being yang melihat, mendengar, merasa, meraba dan sebagainya. Dan, itulah yang dinamakan ruh. Ruh inilah yang sebenarnya mengamati gambar apel di otak kita tadi. Ruh inilah yang nyata keberadaannya. Zat atau materi hanya terdiri atas cerapan-cerapan yang dipandang oleh ruh. Manusia pada hakekatnya adalah “ruh”, bukan lompatan atom dan molekul serta rekasi kimia di antara mereka. Demikian kutipan ini yang penulis baca dalam sebuah buku yang sangat menarik berjudul “Beragama dengan Akal Jernih” yang disusun oleh Idrus Shahab.

Semua kenyataan ini membawa kita kesebuah pertanyaan sangat penting: Jika sesuatu yang kita kenal sebagai alam materi ini hanya terdiri atas persepsi yang dilihat oleh ruh kita, lantas apa saja yang menjadi sumber-sumber persepsi itu? Jawabannya adalah, seperti yang pernah dikatakan Algazel, dunia materi ini sebenarnya hanyalah baying-bayang dari dunia lain. Sama seperti TV, selama sinyalnya terus disiarkan, gambarnya akan tampil di layar pesawat TV kita. Jika tidak ada generasi yang kontinu dan konsisten pada stasiun TV, maka gambar-gambar pada pesawat TV akan lenyap. Demikian pula dengan alam semesta ini, bila tidak ditahan oleh Tuhan, niscaya ia akan lenyap tak berbekas.

Yang membuat ruh kita bisa melihat, mendengar dan sebagainya, adalah Tuhan, Sang Pencipta, Allah SWT. Semua yang kita saksikan di dunia ini adalah makhluk baying-bayang.

Ulasan di atas mengingat sepotong sair lagu: …dunia ini pangung sandiwara…, habis pemangungan habis pula ceritanya, singkat dan penuh ilusi. Senada dengan itu Albert Enstein pernah mengatakan, “Semua kenytaan yang terlihat sesungguhnya hanlah ilusi, sebuah tipuan mata yang sangat kuat dan sulit dihapus”.

Alam semesta ini merupakan sekumpulan kesan yang disajikan untuk ruh kita oleh Allah SWT dengan tiada hentinya. Renungkanlah hal ini dengan jujur dan tegas. Anda akan menyadari bahwa semua milik Anda yang berupa materi sebenarnya merupakan alam luar yang bersifat khayal, yang tertuju kepada Anda. Segala yang Anda serap melalui panca indra merupakan bagian dari “alam khayal” ini: suara musik, bau parfum, hijaunya dedaunan, halusnya sutera, dan seterusnya.

Kini Anda percaya bahwa dunia materi hanyalah ilusi. Dan, demi ilusi inilah kita melihat orang saling membunuh, menfitnah, menipu, dan mengutuk. Demi dunia yang bersifat khayal inilah kita melihat orang menjilat, membebek, berkhianat dan berdusta. Demi ilusi-ilusi inilah kita melihat seorang pemimpin berbuat semena-mena dan menidas rakyatnya yang lemah. Dengan ilusi inilah orang menganggap kedudukan mereka lebih tinggi daripada orang lain atau mengira bahwa mereka sukses. Alangkah bodohnya mencampakkan agama demi memenuhi hawa nafsu yang bersifat khayalan ini.

Alam semesta ini akan lenyap menjadi ketiadaan mutlak. Pada saat itu, semua isi alam akan lenyap, termasuk tubuh-tubuh manusia. Karena bakal lenyap menjadi ketiadaan mutlak, berarti semua objek yang ada di alam ini tiada mutlak adanya. Objek-objek tersebut tidak lebih dari ilusi belaka, karena suatu saat mereka akan lenyap menjadi ketiadaan mutlak. Gunung yamng kita lihat, susu manis yang kita minum, musik Beethoven yang kita dengar, pemandangan indah yang kita nikmati, sutera halus yang kita pakai, semua bersifat relative. Ia akan terkesan benar-benar ada, padahal tidak demikian. Semua kenekaragaman yang ada di jagat raya ini adalah nothing, sebab keseluruhannya bakal lenyap menjadi ketiadaan mutlak. Itulah kefanaan jagat raya. Matahari, bumi, bulan, planet-planet, bintang-bintang, dan seluruh galaksi-galaksi yang tersebar di alam semesta ini bukanlah sesuatu. Jagat raya ini hanyalah bayang-bayang dari dunia lain.

Untuk bisa lebih memahami, kita memulai dengan sedikit teori tentang fisika kuantum. Jika kita mengambil sebuah apel, kemudian membelahnya, kita akan menemukan bagian dalam apel tersebut, tapi jika kita belah lagi, kita akan mendapatkan bijinya, dan jika biji tersebut terus dibelah, kita akan menemukan bahwa ternyata biji tersebut kosong, hampa, tidak berisi apa-apa. Dan itulah yang terjadi pada pohon, langit, bumi, tubuh manusia dan segala materi yang ada di alam semesta. Benda padat merupakan kumpulan dari molekul. Sementara molekul itu berasal dari semua atom dan partikelnya. Dan partikel subatom yang sangat kecil itu berasal dari suatu energi alam vibrasi quanta-sebuah energi “halus” yang tidak dapat terlihat. Singkatnya, segala hal di dunia ini, mobil, rumah, uang, dan materi lainnya hanyalah sebuah energi quanta, dan itulah kenyataannya! Getaran energi quanta bergerak sedemikian cepatnya sehingga “terlihat” dan “terasa” padat oleh indra kita. Sama seperti permainan sulap yang terlihat nyata karena permainan kecepatan tangan yang luar biasa. Jadi apa yang terlihat oleh mata kita dan terasa oleh indra peraba hanyalah sebuah permainan kecepatan energi quanta. Dengan kata lain semua hal dalam dunia ini (bahkan alam semesta ini) yang kita lihat dan alami hanyalah sebuah ilusi. Ketika kita membeli mobil mewah (dan kita merasa senang) itu adalah ilusi, karena yang terjadi sebenarnya hanyalah energi quanta kita dan mobil yang saling bertemu, kosong.. hampa… tidak ada kenikmatan disitu, tapi itulah kenyataannya!

Jadi, selama hidup di dunia, manusia pada hakekatnya berinteraksi dengan materi yang nothing. Kita sedang makan dan minum, dia sebenarnya memakan dan minum nothing, yang kemudian secara ilusif menyebabkan merasa kenyang dan puas. Ketika menerima uang gaji, dia merasa senang karena sedang menerima nothing. Ketika uangnya dicuri orang, dia merasa sedih karena kehilangan nothing. Setiap hari, dia menghabiskan waktu dan energy untuk mengejar nothing, yang secara ilusif dapat menyenangkan dan membuat dirinya merasa aman. Tetapi, interaksi-interaksi itulah yang menghasilkan output berupa “cetakan nilai rapor” pada ruhnya; apakah ruhnya akan menjadi kaya dengan tabungan kebajikan, ataukah sebaliknya. Interaksi manusia dengan alam sekitarnya yang bersifat nothing selama di dunia ini akan menentukan “nasib” ruhnya kelak.

Sebagai penutup! Saya jadi teringat sepotong bait lagu: “without ‘love’ I have nothing, without ‘love’ I have nothing, nothing et all.” Seharusnya bait lagu ini kita rubah menjadi “without ‘amal’ I have nothing, without ‘amal’ I have nothing, nothing et all.” Ya, benar sekali. Tanpa ‘amal’, kita sama sekali tidak memiliki apa-apa.***

 

Advertisements

3 responses to “Dunia Hanyalah Ilusi

  1. Hi to every body, it’s my first go to see of this web site; this weblog contains awesome and really
    fine data in favor of readers.

  2. In fact no matter if someone doesn’t understand after that
    its up to other visitors that they will help, so here
    it happens.

  3. Great blog here! Also your web site so much
    up fast! What web host are you the use of? Can I am getting your associate link in your host?
    I want my website loaded up as fast as yours lol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s