Jembatan Kutai Runtuh, Bagaimana dengan Jembatan Raksasa di Pekanbaru?


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

 

Jembatan Kutai Kartanegara adalah jembatan Suspension abad modern yang melintas di atas sungai Mahakam. Jembatan ini runtuh tanggal 27 November 2011 kemaren dini hari waktu setempat. Bila jembatan gantung terpanjuang di Indonesia yang didesain pada masa yang serba canggih rubuh dan tenggelam sepanjang 200 meter, tanpa gempa atau angin putting beliung, tentu tidak berkelebihan bila kita harus prihatin juga terhadap jembatan raksasa seperti Siak Tiga dan Siak Empat yang sedang dibangun di Pekanbaru agar tidak sampai terjadi jembatan Kutai yang kedua. Apakah jembatan raksasa yang sedang kita bangun benar-benar direncanakan sampai 50 tahun ke depan?

Mengapa jembatan dengan bentang terpanjang yakni 270 meter, atau area tanpa penyagga dari total panjang 710 meter (berita resmi panjang jembatan ini hanya 580 meter), yang dibangun merupai Golden Gate di san Fransisco as bisa rubuh ? padahal jembatan ini baru berusia 10 tahun. Bagaimana dengan Pelengkung Jembatan Siak Tiga yang terbuat dari baja profil, yang harus memikul beban lantai kendaraan yang cukup panjang? Sudah benar-benar diperhitungan untuk jangka waktu 50-an? Bagaimana dengan Pondasi Pilon Jembatan Siak Empat? Apakah sudah benar-benar duduk ditanah keras? Dan apakah dalam kurun waktu 50-an diyakini tidak akan ada settlement (penurnan)?

Mengapa Jembatan Kutai bisa rubuh secepat itu? Padahal, kita mengenal Sistem monitoring SHMS (Structural Health Monitoring System) merupakan suatu alat Non Destructive Test dimana sistem sensor diintegrasikan pada struktur jembatan. Dengan bantuan teknologi informasi dapat diketahui respon struktur jembatan terhadap pembebanan. Dari respon tersebut dapat diketahui bagian yang mengalami perlemahan. Apakah system SHMS tidak diterapkan pada jembatan Kutai ini? Apakah Jembatan Siak Satu yang dikatakan sekarat di Pekanbaru telah diterapkan maintannace semacam sistem monitoring SHMS?

Dalam perencanaan sebuah jembatan pun harus ekstra hati-hati. Bahkan untuk struktur yang sama terdapat perbedaan yang harus dimengerti bila kita ingin mempelajari respon struktur secara global dan kalau kita ingin meneliti respon dari satu detail sambungan komponen, misalnya. Yang satu memerlukan model makro dan yang lain diperlukan model mikro. Kesalahan yang mungkin terjadi bila hal tadi tidak dicermati (hanya menganalisis struktur berdasarkan makro) antara lain adalah adanya kemungkinan terjadinya konsentrasi tegangan pada beberapa tempat karena ”flow of stresses” yang benar-benar terjadi tidak digambarkan oleh model makro yang lebih kasar. Jadi ada kemungkinan akan terjadi ”overstress” pada daerah detail yang tidak diperhitungkan dan pada akhirnya bisa menimbulkan keruntuhan lokal. Hal ini akan terdeteksi bila dilakukan analisis khusus untuk komponen tersebut dengan menggunakan elemen-elemen yang lebih halus (model mikro). Kasus ini biasanya terjadi pada daerah-daerah di mana ada konsentrasi gaya atau pada sambungan antarkomponen. ***

 

3 responses to “Jembatan Kutai Runtuh, Bagaimana dengan Jembatan Raksasa di Pekanbaru?

  1. logikanya setiap kabel tegak harus mampu menahan beban hidup dan beban mati maksimum yang ditimbulkan… kenapa bisa putus semua…? kabel utama masih utuh (dari foto)

  2. sdr. Andi, yang kelihatan masih utuh itu kabel harizontal sedangkan Kabel vertikalnya kan sudah jatuh? trims

  3. toms shoes forsale Jembatan Kutai Runtuh, Bagaimana dengan Jembatan Raksasa di Pekanbaru? | Science and Civil Structure Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s