PLTA Kotapanjang Penyebab Sarang Penyakit


 

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik Sipil UIR

             Laporan WHO (1983) mnyebutkan, bahwa permukaan air waduk yang relatif tenang dengan jumlah air berjuta-juta meter kubik, merupakan sarana potensial untuk munculnya wabah penyakit malaria, deman berdarah, muntaber dan diare. Penduduk di sekitar waduk memiliki prevalensi yang tinggi untuk menderita jenis-jenis penyakit tersebut.

            Malaria merupakan jenis penyakit yang telah lama dikenal dan telah berulang kali menjadi wabah di berbagai tempat di dunia. Salah satu jenisnya adalah malaria tropica yang sering menyebabkan kematian. Penyakit ini sangat menurunkan produktivitas dan memudahkan orang terjangkit penyakit lain.

            Pengobatan malaria hingga saat ini belum bisa dilakukan secara tuntas dan sering menimbulkan efek sampingan. Pencegahan ataupun pengendalian penyakit ini hanya dapat dilakukan dengan baik apabila dapat dilakukan pengendalian populasi vektornya, yaitu nyamuk Anopheles yang sarangnya sangat bervariasi, mulai dari air tawar, air payau serta genangan air lainnya, termasuk air waduk untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) ataupun irigasi dan pengendalian banjir.

            Menurut Mukhlis Akhadi dalam Majalah Konstruksi No. 401 Tahun XXXV Mei 2011 halaman 51. Wabah penyakit malaria diketahui meningkat di kawasan bendungan Tucurui di Brazil semenjak kehadiran bendungan itu. Kehadiran PLTA Kotapanjang menyebabkan memburuknya kualitas air waduk dan berkembang biaknya nyamuk-nyakmuk penyebab wabah malaria di daerah itu. Selain penyakit malaria, genangan air waduk juga dapat berperan sebagai tempat berkembang biaknya penyakit demam berdarah. Penyakit ini ditandai dengan gejala demam dan pendarahan dengan penyebab adalah virus Denque.

            Ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pembangunan sebuah bendungan, baik untuk irigasi maupun PLTA Pengelolaan air waduk harus dilakukan secara cermat agar daerah genangan air itu tidak menjadi sarana berkembangbiaknya penyakit-penyakit menular yang mengancam penduduk setempat. Perlu pemikiran dan perencanaan yang matang dengan mempertimbangkan berbagai komponen sosial-budaya maupun lingkungan dan keselamatan yang terkait di dalamnya.

            Pemilik atau pengelola bendungan harus terus-menerus memperhatikan keamanan bendungan terhadap lingkungan. Utamakan dengan memberi jaminan keselamatan bagi masyarakat yang tinggal di hilir bendungan itu, yang hampir seluruhnya tidak menyadari akan bahaya yang bakal terjadi apabila bendungan itu mengalami kerusakan yang fatal. Perlu juga dikembangkan program pemeliharaan dan pelestarian linghkungan di sekitar waduk dan daerah aliran sungai (DAS) yang mengikut sertakan segenap lapisan masyarakat setempat, sehingga manfaat dapat langsung dirasakan oleh masyarakat tersebut.

Dengan demikian kehadiran sebuah waduk akan menguntungkan semua pihak, dengan risiko-risiko sosial maupun ekologi yang menyertainya dapat dieliminir.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s