Rencana Allah atau Jaring-Jaring Kebetulan?


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Peminat Sains Qur’an/Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR

                Pada tahun 1898, jauh sebelum tenggelamnya kapal Titanic, Morgan Robertson menulis sebuah novel berjudul futility. Kisah fiktif yang ditulisnya memiliki kemiripan yang luar biasa dengan peristiwa tenggelamnya Titanic pada tahun 1912. Nama kapal dan berat serta sekoci-sekocinya pun mirip sekali. Dalam novel tersebut, Morgan menamai kapalnya Titan, sedangkan yang “asli” bernama Titanic, Berat Titan 70.000 ton, sedangkan Titanic 66.000 ton. Titan memiliki 24 sekoci, sedangkan Titanic 20, padahal yang direncanakan 40. Pemilik Titan dilukiskan sebagai orang angkuh. Kenyataannya, pemilik Titanic pun demikian. Apakah ini sebuah kebetulan?

            Menurut Tauhid Nur Azhar dan Eman Sulaiman dalam Bukunya Ajaib Bin aneh, dikatakan untuk memahami fenomena “kebetulkan” ini, ada hipotesa yang bisa diajukan. Pertama, kebetulan terjadi karena adanya daya dukung lingkungan. Saat terjadi perubahan cuaca misalnya, ketika itu, udara bertambah panas, hujan tidak turun, kekeringan pun terjadi di mana-mana. Efeknya, orang-orang jadi tertarik membaca buku tentang meteorologi dan fenomena-fenimena alam lainnya. Padahal, sebelum itu mereka tidak tertarik pada isu-isu tersebut. Nah, ketika bertemu, mereka berkata, “Eh kebetulan ya kita juga sedang baca buku A”. Artinya kondisi setiap orang mendorongnya melakukan hal yang sama.

            Meskipun kisah tersebut di atas mungkin saja dapat digolongkan sebagai jaring-jaring kebetulan, akan tetapi kita harus yakin seyakinnya bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah Rencana Yang Maha Cerdas, Allah SWT, Tuhan semesta alam. Meskioun demikian,  kita tidak tahu rencana Allah itu seperti apa, serta bagaimana proses menjalankannya. Inilah yang harus kita pelajari dan kita pahami.

            Kata Al-fahisyah (kekejian) dengan al-ghadhb (murka), dalam Al-Qur’an Al-Karim masing-masing 26 kali. Apakah ini suatu kebetulan dengan misteri tanggal 26 yang tercatat oleh Weal Aheon dalam buku berjudul Bencana-Bencana Awal Akhir Jaman. Tertulis pada tanggal 26 Agustus 1883, gunung Krakatau meletus, korban 36.000 orang. Tanggal 26 Desember 1932, gempa di Kansu, China, 70.000 orang tewas. Tanggal 26 Januari 1951, gempa di Portugal, 30.000 orang meninggal. Tanggal 26 Juni 1976, gempa bumi di china, 255.000 orang tewas. Tanggal 26 Desember 1996, Badai di Sabah, Malaysia, 1000 orang mati. Tanggal 26 Desember 2003, gampa di Iran, 60.000 orang tewas. Tanggal 26 Desember 2004, gempa & Tsunami di Aceh, lebih dari 250.000 orang tewas. Tanggal 26 Mei 2006, gempa & Tsunami di Pangandaran, 250 orang tewas. Tanggal 26 Mei 2010, gempa di tasikmalaya, 20 orang tewas. Tanggal 26 Oktober 2010, gunung Merapi, meletus, 84 orang tewas. Apakah ada hubungannya? Pakah juga kebetulan?

            Abdurrazaq Nawfal, dalam Al-Ijaz Al-Adabiy li Al-Qur’an Al-Karim yang terdiri dari tiga jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang remcana Allah dan keseimbangan dalam Al-Quran, yang dapat kita simpulkan secara sangat singkat sebagai berikut. Pertama. Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni), jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain, kata yang berarti “bulan” (syahr) hanya terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.

            Kedua.  Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada “tujuh.” Penjelasan ini diulanginya sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah 29, Al-Isra’ 44, Al-Mu’minun 86, Fushshilat 12, Al-Thalaq 12, Al-Mulk 3, dan Nuh 15. Selain itu, penjelasannya tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat. Ketiga. Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul (rasul), atau nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.

 Keempat. Kata lautan (al bahar) disebutkan 32 kali sedangkan kata daratan (al bar) disebutkan 13 kali. Jika di jumlahkan perkataan yang berkaitan tentang “lautan” dan “daratan” adalah 45 perkataan. Seperti pengiraan berikut: Lautan : 32/45 X 100% = 71.11111111%  Daratan : 13/45 X 100% = 28.88888888%. Kini telah kita ketahui peratusan bagi “Lautan” dan “Daratan” di dalam dunia ini sebagaimana yang di sebutkan di dalam kitab sici Al Quran. Kelima. [Quran 3:59]. Sesungguhnya persamaan “Isa” di sisi Allah seperti persamaan “Adam”. Kata “Isa” dan “Adam” sama-sama muncul 25 kali.

Keenam. [Quran 7:176], “anjing” dengan “kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami” Maka persamaannya ialah: bahwa “kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami” (al-qawmul-ladzi_na kadz-dabu_ bi a_ya_tina_) dipersamakan/ diibaratkan kelakuannya seperti  seekor “anjing” (kalb). Jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya, atau jika kamu membiarkannya, ia menjulurkan lidahnya juga.”Anjing” (kalb) tertulis 5 kali sebagaimana kata “Kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami” (al-qawmul-ladzi_na kadz-dabu_ bi a_ya_tina_) tertulis 5 kali juga.

Ketujuh. (7)  [Quran 29:41] Persamaan “orang-orang yang mengambil untuk mereka wali-wali selain daripada Allah” (alladzi_nat-takhadzu_ mindu_nil-laahi), ialah seperti persamaan “laba-laba” (al-‘ankabu_t). Laba-laba (al-‘ankabu_t) tertulis 2 kali, “Orang-orang yang mengambil untuk mereka wali-wali selain daripada Allah” (alladzi_nat-takhadzu_ mindu_nil-laahi) tertulis 2 kali juga.

Kedelapan. (8)  [Quran 62:5] Persamaan “orang-orang yang dibebankan dengan Taurat”, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti persamaan “seekor keledai” yang memikul buku-buku yang tebal. “Keledai” (al-hima_r) dan “orang-orang yang dibebankan dg taurat” (al-ladzi_na humilut-tawra_t) sama-sama muncul di ayat ini, yaitu hitungannya sama-sama satu kali muncul.

Kesembilan. “Berkaitan dengan pertidaksamaan matematik” Dalam Quran, dijumpai hintungan tentang pertidaksamaan ketika ada ayat yang menyatakan “Adakah sama antara A dan B (hal yastawi_ A wa B?), sebagaimana ditemukan dalam beberapa ayat. Tentunya, kita akan berfikiran bahwa tentu saja kemungkinan (probabilitas) ketidaksamaan jumlah antara A dan B adalah sangat besar, akan tetapi anehnya, jika kita temukan ayat yang menyatakan ketidaksamaan antara A dan B, diketahui bahwa perbedaan jumlah antara A dan B adalah TEPAT SATU. Allahu akbar.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s