Pernikahan Beton dengan Tulangan Baja


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Peminat Sains Qur’an/Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR

 Allah berfirman, “Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah” (QS. Adz-Dzaariyaat [51]: 49).

Diceritakan, ada seorang dosen memberi wawasan unik tentang perjodohan kepada mahasiswanya. “kamu tidak akan mendapat pasangan hidupmu sebelum kenal benar siapa dirimu”. Bagaimana cara kita mengenal diri sendiri? “tanya mahasiswa”.

“Berdirilah engkau di depan sebuah cermin. Tataplah dirimu baik-baik di dalam kaca. Bila engkau mendapatkannya sebagai lelaki, jodohmu adalah wanita. Begitu pun sebaliknya,“ jawab Pak Dosen.

“Apa tanda-tandanya bahwa kita itu lelaki atau wanita?,“ tanya mahasiswa. “Mudah saja,” jawab Pak Dosen. “kamu lelaki bila sifat-sifat Jalaliyah Allah bersemayam di dalam dirimu. Dan kamu wanita bila sifat-sifat Jamaliyah-Nya turun menghiasi dirimu.”

“Jadi, di dalam perjodohan kami ini, disyaratkan memadu sifat-sifat jalaliyah dan jamaliyah tersebut?” tanya mahasiswa. “Persis! Dan bila engkau berhasil memadukan keduanya, akan turun dalam dirimu sifat-sifat Kamaliyah-Nya, yaitu, satu sifat yang dengannya, setiap insan boleh menyentuh sesuatu di alam raya ini tanpa menimbulkan kerusakan”.

“Ada kalangan yang berpendapat bahwa wadat (tidak menikah) merupakan sarana kesucian. Bagaimana pendapat Bapak?” tanya mahasiswa.

“Kesucian itu baru merupakan sarana dalam berhubungan dengan manusia, bukan tujuan. Kesucian itu harus dimiliki pihak lelaki maupun wanita dalam mencari pasangannya, bukan untuk hidup sendiri-sendiri. Setelah berhasil memadukan keduanya tanpa benturan, bahkan saling dapat mengembangkan, barulah dapat dikatakan sempurna namanya.” Ungkap Pak Dosen.

“Kalau begitu, nikah lebih mulia daripada wadat. Begitu, kesimpulan Bapak?”

 “Jelas, karena jikalau tidak demikian, menikah tidak akan dijadikan landasan moral Sunnah Rasul kita.

Apa yang dapat kita harapkan dari kehidupan di bumi, jika golongan yang kaya tidak mau menjamah golongan miskin, kemudian orang pintar menjauh dari orang awam, para penguasa tak peduli dengan rakyat yang dikuasai, bangsa super power tidak mengulurkan tangan dan bahkan mau memangsa bangsa yang lemah?” tuturnya kembali.

“Kok sampai di sana!” timbal mahasiswa. “Mengapa tidak! Untuk mengetahui kebenaran yang terkecil, harus diuji dengan memproyeksikannya pada sesuatu yang besar,” jawab Pak Dosen sambil tersenyum.

Kisah ini saya kutip dari buku Ajaib Bin Aneh karya Tauhid Azhar & Eman Sulaiman, yang bersumber dari buku Langit-Langit Desa karya Muhammad Zuhri.

Mengapa harus berpasang-pasangan? Ada banyak alternatif jawabannya. Namun yang pasti, dengan berpasangan (yang sah tentunya) nilai-nilai kebaikan bisa terpadu menjadi sebuah kesempurnaan. Dengan berpasangan, akan tercipta pula proses sinergi, saling melengkapi, dan saling meniadakan keburukan.

Marilah kita belajar pada Beton Bertulang. Beton Bertulang yang bahasa kerennya Reinforced Concrete atau gabungan antara semen, krikil, pasir dan air, ditambah dengan tulangan baja. Dengan beton bertulang kita dapat membangun gedung pencakar langit, jembatan raksasa, bendungan super besar ataupun reaktor nuklir dan sebagainya.

Keempat unsur pembentuk beton bila berdiri sendiri, tentu tidak bisa berbuat banyak, dengan air tidak mungkin bisa membuat gedung. Begitu juga dengan krikil dan pasir, juga tidak dapat menghasil komponen bangunan. Semen sendiri juga tidak dapat berbuat apa-apa, akan tetapi kalau digabung keempat unsur ini akan menjadi batu buatan manusia yang sangat kuat terhadap tekan. Ketiga unsur semen, krikil dan pasir ini bisa bersatu kerena dicomblangi oleh air.   

Beton Bertulang, adalah persatuan antara dua unsur beton dan tulangan baja. Sejatinya, kedua unsur ini jarang bisa berdiri sendiri. Yang satu ini, mereka bisa bersatu karena dicomblangi oleh insinyur bangunan sebagai mediator. Ketika berdiri sendiri, beton tidak mempunyai kekuatan berarti, begitu sedikit kena beban gempa (tarik) beton akan hancur lebur. Demikian pula baja tulangan, bentuknya yang langsing tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Begitu mendapat sedikit tekanan, ia akan patah tekuk.

Namun, ketika beton dicor atau digabung bersama tulangan baja oleh kuli bangunan, masing-masing akan mengikat dirinya membentuk kristal. Jika sebuah ikatan kimia sampai membentuk kristal, tingkat kecocokannya pasti sangat tinggi, dari fase beton cor yang cair (likuid) sampai menjadi solid dan terkristalisasi. Ikatan keduanya termasuk ikatan sempurna, saling menutupi kelemahan masing-masing. Tak disangka, material beton yang berasal dari muntahan gunung api dari perut bumi bisa digabung dengan baja tulangan (Fe) yang berasal dari meteor besi (langit) yang sudah terkubur lama di perut bumi, ternyata bisa mengahasilkan sesuatu kekuatan yang sangat luar biasa.

Jadi, konsep pasangan harus meniru beton bertulang. Ikatan yang kuat di antara kedua jenis material yang berbeda ini hanya dimiliki oleh baja tulangan dengan beton, tidak dimiliki oleh jenis material lainnya seperti beton dengan rotan, beton dengan kayu, dan material lainnya. Beberapa gambaran yang menyebabkan terjadinya ikatan yang kuat antara tulangan baja dan beton.

Mengapa harus berpasangan? Mengapa beton harus nikah dengan tulangan baja? Pertama. Koefisien muai panas dari kedua material ini, kurang lebih 0,0000065 untuk tulangan baja dan 0,0000055 untuk beton, cukup berdekatan untuk dapat mencegah terjadi retak dan efek-efek lainnya yang tidak diinginkan akibat terjadinya deformasi karena adanya perubahan temperatur. Kedua. Karena daya tahan baja terhadap karat sangat lemah, maka beton yang berada disekeliling tulangan penguat dapat memberikan perlindungan yang baik terhadap karat, dengan demikian dapat memperkecil masalah karat dan mengurangi biaya pemeliharaan. Ketiga. Daya tahan api tulangan baja yang tidak terlindung diperlemah oleh konduktifitasnya yang tinggi terhadap panas dan kenyataan bahwa kekuatan tulangan akan berkurang banyak pada temperatur yang tinggi. Sebaliknya konduktifitasnya panas beton yang rendah. Dengan demikian, kerusakan yang disebabkan, bahkan oleh api yang menjalar untuk jangka waktu yang lama, kalaupun ada, biasanya terbatas pada lapisan luar dari beton, dan suatu penutup beton dengan ketebalan cukup dapat berfungsi cukup baik sebagai penyekat bagi tulangan yang ditanam di dalamnya.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s