Membudayakan Penggunaan Sprinkler Sebagai Pemadam Kebakaran


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

                Penggunaan Sprinkler sebagai pemadam kebakaran di Pekanbaru masih bisa dihitung dengan jari. Baru beberapa rumah sakit besar yang menggunakannya, hanya terbatas pada hotel-hotel berbintang dan beberapa bangunan perkantoran mewah milik swasta dan pemerintah. Dan sepengetahuan saya, belum ada bangunan rumah tinggal yang menggunakan sprinkler sebagai pemadam kebakaran di Pekanbaru. Padahal, sebuah studi di Australia & New Zealand memberikan angka keberhasilan mencapai 99% (Tren Konstruksi edisi November 2010 yang bersumber dari Marryat, 1988).

            Sistem sprinkler otomatik adalah kombinasi dari deteksi panas dan pemadaman, ia bekerja secara otomatik penuh tanpa bantuan orang atau sistem lain. Sehingga sistem, pemadam kebakaran yang paling efektif dibandingkan dengan sistem hidran dan lainnya. Studi lain di USA (NFPA, 2001) menyimpulkan bahwa sprinkler mampu membatasai kebakaran pada area of origin pada tingkat 90% , dibandingkan tanpa sprinkler yang hanya 70%.  Semua building code di dunia mempersyaratkan proteksi sprinkler di bangunan tinggi, bahkan sekarang di USA sudah mulai digalakkan sprinkler untuk residen tunggal dengan ketinggian satu sampai dua tingkat.

            Fenomena kebakaran adalah sedemikian sehingga bila dalam waktu 5 menit kebakaran tidak dapat dikendalikan atau dipadamkan pada area origin, maka kemungkinan besar kebakaran akan menyebar ke seluruh lantai dan bangunan. Sementara itu waktu tanggap sprinkler adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengendalikan atau memadamkan kebakaran secara otomatik. Banyak kejadian dilaporkan bahwa ketika petugas pemadam tiba di tempat, api telah padam oleh sprinkler (NFPA Journal).

            Sistem deteksi dan alarm tidak berfungsi sebagai alat pengendali/pemadam, namun lebih berfungsi sebagai pemberi peringatan pada penghuni bangunan agar segera menyelamatkan diri. Sedangkan regu pemadam yang menggunakan APAR (fire extinguisher) dan hidran belum dapat menggantikan sprinkler karena masih dipengaruhi oleh faktor manusia (terutama waktu tanggap dan human error).

            Komponen biaya paling besar dari sprinkler adalah pompa kebakaran dan panelnya, pemipaan berikut katupnya, serta sering digunakan katup kontrol tekanan (PRV) dalam rancangan secara indiskrimatif. Penggunaan PRV ini dapat dihindari dengan sistem zona, di mana tekanan kerja setiap zona adalah maksimum 175 Psi (12 bar), yaitu sama dengan tekanan kerja maksimum kepala sprinkler.

            Elemen sensor panas pada kepala srinkler mempunyai temperatur nominal yang bermacam-macam dari 57 derajat celcius s/d 343 derajat celcius, dapat dipilih tergantung rancangan bahaya kebakaran huninya. Kepala sprinkler akan beroperasi bila temperatur elemen sensor pansnya telah mencapai temperatur kerja nominalnya. Untuk hunian apertemen, umunya menggunakan temperatur nominal 57 atau 68 derajat celcius.*** .

One response to “Membudayakan Penggunaan Sprinkler Sebagai Pemadam Kebakaran

  1. toms shoes 3rdstpromenade Membudayakan Penggunaan Sprinkler Sebagai Pemadam Kebakaran | Science and Civil Structure Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s