Hati Sang Koruptor Sangat berbahaya


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

                  Bila cerita masalah ‘berbahaya’, saya pun teringat sepenggal fragmen dalam seuatu film silat. Ceritanya begini. Alkisah seorang permaisuri yang berniat untuk membunuh sang baginda raja yang sedang berkuasa, dengan cara meracuni minumannya. Lantas, sang permaisuri pun mejumpai seorang dukun terkenal untuk meminta racun yang sangat berbahaya itu. Singkat cerita sang dukun pun memberikan racun sesuai dengan pesanan permaisuri. “Apakah di dunia ini ada racun yang lebih berbahaya dari racun ini?”, tanya sang permaisuri. “Ada”, jawab sang dukun. “Apa itu?”, tanya sang permaisuri lagi. “Hati Manusia”, jawab sang dukun.

            Bila hati manusia lebih berbahaya dari racun yang paling berbahaya di dunia, berarti hati koruptor lebih berbahaya dari bentuk korupsi apapun yang sangat berbahaya sekalipun. Mengapa korupsi sangat berbahay bagi segala sendi kehidupan bangsa. Marilah kita kutip tentang bahayanya korupsi dari buku ‘Koruptor itu kafir: 87-88), antara lain sebagai berikut ini.

            Korupsi merupakan kejahatan multikompleks, walaupun terkesan hanya terkait dengan persoalan maliyyah (harta benda). Meskipun fiqih atau hukum Islam telah banyak membahas konsep kejahatan terkait harta benda, korupsi merupakan karakter tersendiri. Ia tidak hanya melibatkan seseorang yang berkuasa, tetapi meliputi kejahatan yang langsung dilakukan oleh seseorang melalui kekuasaan yang diembannya. Dalam risywah (biasa diartikan suap) yang telah banyak dibicarakan dalam fiqih, misalnya pemegang kekuasaan hanya menerima harta benda dari orang yang tidak berkuasa untuk tujuan tertentu. Korupsi lebih serius daripada itu karena meliputi kasus pemegang kekuasaan yang langsung mencuri harta publik melalui otoritas yang dimiliki tanpa melibatkan orang lain yang berada di luar lingkar kekuasaan.

            Sebagai kejahatan modern, korupsi terus berkembang baik jenis, motif, pelaku maupun polanya. Dampak kerusakan yang diakibatkannya pun semakin meluas baik terhadap kedaulatan negara, kesejahteraan rakyat, penegakan hukum sampai dengan moralitas bangsa, bahkan pengahayatan agama. Korupsi telah merusak sikap berbangsa mulai dari perilaku hingga cara berpikir. Ketika korupsi telah berada pada titik itu, maka ia dapat menjadi budaya atau kebiasaan dan dianggap wajar. Budaya korupsi demikian dapat dilakukan oleh penyalahgunaan agama sebagai legitimasi sehingga tak jarang agama seakan-akan membenarkan sebuah tindakan yang termasuk dalam kategori korupsi.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s