Pilih Pimimpin, Boleh Mengungkap Keburukan Lawan?


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik Sipil UIR

        

Marilah kita kuti infeormasi Al-Qur’an berikut ini: “Dan ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khlifah di muka bumi. “ Mereka berkata, “Akankah Engkau jadikan di sana (makhluk) yang merusak dan menumpahkan darah? Dan padahal kami menyucikan dengan memuji-Mu dan mengkuduskan-Mu.” (Q.S. Al- Baqarah [2]: 30).

Malaikat berani menyampaikan pendapat yang berbeda kepada Allah. Menurut Bambang Pranggono (dalam bukunya: Mukjizat Sains dalam Al-Qur’an), mengatakan: “tampaknya malaikat berminat juga menjadi kalifah”. Hal ini tidak sama dengan pelajaran dari guru-guru kita bahwa malaikat tidak punya keinginan dan selalu taat tanpa bertanya. Hikmahnya Allah yang jelas-jelas Mahakuasa saja memberi kesempatan berbeda pendapat, manusia sebenarnya tidak pantas memaksa kehendak kepada sesama.  

Malaikat mempunyai informasi tentang sifat perilaku buruk calon khalifah pesaingnya. Bahwa mereka gemar merusak dan saling membunuh. Selanjutnya malaikat menonjolkan sifat-sifat baik dirinya, yaitu selalu bertasbih memuji menyucikan Tuhan. Artinya, dalam proses pemilihan calon pmimpin, mengungkap keburukan lawan dan memuji keunggulan diri sah-sah saja. Buktinya Allah tidak menghardik malaikat karena itu. Dalam sejarah Islam, kita membaca betapa serunya pidato salaing menonjolkan keunggulan kelompoknya dan merendahkan lawan antara wakil Muhajirin dan wakil Anshar, ketika brebut kekhalifahan setelah wafatnya Rasulullah Saw. Lantas, bagaimana hasil argumentasi malaikat itu? Apakah yang ditunjuk jadi khalifah adalah orang yang selalu berperilaku baik?

Ternyata tidak. Allah tidak membantah kecaman malaikat tentang buruknya sifat calon kalifah yang dijagokan oleh-Nya. Dia hanya berfirman, “Aku tahu apa-apa yang kamu tidak ketahui,” dan tepap memilih Adam jadi khalifah. Tampaknya gemar merusak dan menumpahkan darah bukan halangan untuk menjdi pemimpin, malah mungkin itu justru sebagian dari sifat yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang efektif.

Orang yang sangat lembut hati, bertasbih, dan berzikir saja tetapi tidak tega berperang, tidak bisa menjadi pemimpin yang tegas. Abu Bakar r.a. memang lembut, tetapi ketika menjadi khlaifah dia berkata, “Aku akan perangi orang yang shalat tetapi tidak mau bayar zakat.” Dan dia  hancurkan tanpa ampun suku-suku yang membelot dan nabi-nabi palsu.

Sebenarnya malaikat menyindir, Adam tidaklah lebih unggul. Bukankah Adam juga tidak akan bisa menjelaskan nama-nama segala sesuatu tanpa  diberi “bocoran” oleh Allah. Jadi, bila diberi bocoran yang sama, malaikat merasa akan menang. Artinya, untuk memenangkan jago kita, kita boleh saja memihak. Tidak apa-apa menutup-nutupi informasi kepada calon saingan lain. Dalam kasus Nabi Adam, terungkap bahwa kombinasi yang pas untuk jabatan khlifah di bumi yaitu punya sifat keras, berani perang dipadu dengan kecerdasan, dan menguasai informasi. Malaikat mempunyai kombinasi sifat yang lain: Lurus, polos, dan tekun bertahmid dan bertasbih. Ini sifat yang baik tetapi tidak pas untuk posisi khalifah di bumi. Begitulah inspirsi dari Al-Qur’an Surat Al-Baqarah. Wallaahu a’lam.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s