Bumi Semakin Panas


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik Sipil UIR

Panas… Panas bagaikan dalam neraka… Mengapa hutanku hilang dan tak pernah tumbuh lagi.” Demikianlah sepotong lagu, curahan hati yang mengambarkan kegelisahan seorang seniman akan ancaman bahaya kehancuran bumi, akibat pekenaikan suhu permukaan planet bumi kita ini. Mengapa manusia masih merusak bumi ini? Seakan-akan mereka tidak lagi takut kepada perintah dan larangan Allah SWT, Tuhan semesta alam.

Kegelisahan ini, kembali dicurahkan oleh Agus Haryo Sudarmojo dalam bukunya menyibak Rahasia Sains Bumi dalam Al-Qur’an, yang memperingatkan bahaya kenaikan temperatur bumi meskipun sekecil apapun. Sekaligus juga mempertanyakan, mengapa manusia masih merusak bumi? Mengapa manusia seakan-akan tidak takut kepada kekuasaan Tuhannya?

Penel diskusi yang dilakukan oleh PBB tentang perubahan iklim pada tahun 2006 menyimpulkan bahwa suhu iklim rata-rata Planet Bumi telah meningkat 0,75 derajat Celcius lebih panas dibandingkan dengan iklim terpanas tahun 1850 di bumi. Meski angka itu tidak menyolok, namun sedikit saja perubahan pada temperatur rata-rata suhu dapat menimbulkan perbedaan yang besar pada iklim bumi. Sebagai contoh, di zaman es sekitar 100 ribu tahun yang lalu. Suhu rata-rata iklim bumi hanya lebih dingin 5 derajat Celcius dari suhu iklim rata-rata bumi sekarang. Artinya, adanya peningkatan 0,75 derajat Celcius pada suhu iklim rata-rata Planet Bumi dapat membahayakan kehidupan manusia dalam waktu dekat.

Apakah kita terus merusak bumi yang telah dipersiapkan oleh-Nya sejak 4,56 miliar tahun lalu? Padahal semua itu hanya untuk menyambut kehadiran manusia sebagai “khalifatullah fi al-ardh” (penerima mandat Tuhan di muka bumi). Apa yang mengahalangi kita untuk segera melakukan aksi tindakan penyelamatan bumi yang menakjubkan ini?

Akhirnya, kita sendiri bertanya dalam hati sanubari, “Apakah perlu dirampakkan surga dan neraka agar kita ikhlas memyembah-Nya?” Seharusnya kita tidak memerlukan lagi kehadiran surga dan neraka sebagai pemicu ketaatan kita kepada-Nya karena hadirnya curahan kenikmatan hingga hari ini, berupa “bingkisan-bingkisan hadiah” yang terus menerus turun mestinya cukup membuat kita tahu diri.

Tak berlebihan kiranya, ada seorang tokoh besar sufi di Bagdad, Irak, bernama Abu Bakar asy-Syibli yang merasa prihatin dengan cara-cara ibadah banyak orang. Dia pernah membawa sepotong kayu yang terbakar di kedua ujungnya sambil berlari ke sana-kemari. Orang-orang di sekitarnya pun merasa heran dengan tindakan anehnya. Setelah mereka menanyakannya. Syibli menjawab:

Aku hendak membakar neraka dengan api di satu ujung kayu ini dan surga di ujung lainnya agar manusia dapat mengabdi karena Allah semata-mata.” ***

One response to “Bumi Semakin Panas

  1. budayakan menanam pohon kepada anak2 sekarang Om

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s