Bisnis Konstruksi Merusak Lingkungan?


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

Tak dapat dipungkiri. Setiap pembangunan proyek konstruksi, yang korban adalah kelestarian lingkungan. Hanya tergantung berapa besar dampak yang ditimbulkan. Coba lihat saja, dalam pembanguan suatu kawasan perumahan. Dampak apa yang ditimbulkan? Yang jelas lahan resapan sudah berkurang sekian hektarnya. Kurangnya lahan resapan ini, mungin tidak tergantikan oleh puluhan atau ratusan sumur resapan. Di sisi lain debu tanah timbunan beterbangan, bukan hanya mengotori dan menempel di jalan aspal yang hitam, tetapi juga bisa membuat berpuluh-puluh orang di sekitarnya menjadi sakit.

Kegiatan bisnis konstruksi yang mempunyai peran besar terhadap dalam pembangunan nasional sering dianakemaskan sedemikian rupa, sehingga kurang di awasi kenakalan mereka dibiarkan. Tak jarang dieksplotasi untuk pembangunan perumahan tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan yang berakhir dengan kerusakan lingkungan dan timbulnya banjir di mana-mana. Mereka menanggap seolah-olah mereka hidup tanpa tetangga, tanpa orang lain. Mereka tidak mau bahwa kelakukan mereka telah amat merugikan orang lain, juga merusak lingkungan hidup. Para pelaku bisnis konstruksi seolah-olah hanya mengejar keuntungan diri sendiri dan mereka layak membuat rugi orang lain.

Menurut Andy Kirana dalam bukunya ‘Etika Bisnis Konstruksi’, mengatakan dalam kaitan lingkungan hidup, bisnis konstruksi sering berjalan sendiri. Bisnis konstruksi sering dikelola dengan naluri atau dorongan ketamakan, ketidak sabaran, kerakusan, kebodohan, dan kecerobohan. Kalangan bisnis konstruksi sering menganggap bahwa alam ini adalah suatu asset modal yang di dapat dengan gratis. Di pihak lain, tenaga manusia yang melimpah ruah menyebabkan sumber daya manusia itu dihargai seminimal mungkin, ditekan sewrendah mungkin sebagai “faktor produksi” belaka.

Bisnis konstruksi dijalankan seolah-olah “tiada hari esok”, mengeruk dan mengeruk keuntungan, seolah-olah manusia tidak mempunyai anak-anak yang harus tetap hidup. Bisnis konstruksi dilakukan seolah-olah perusahaan sedang mengalami likuidasi. Cara kita mengeksploitasi alam dan sesama manusia, bagaikan menjelang saat di mana kita sedang mengalami kebangkrutan, sehingga kita melakukan perusakan habis-habisan terhadap sumber daya alam dan sumber daya manusia. Cara kita memperlakukan pekerja dan lingkungan alam seolah-olah kita sedang terancam gulung tikar, sehingga semuanya hendak dihabisi sekaligus.

Ingat!!! Kebebasan dalam bisnis konstruksi ternyata ada batas-batasnya. Kebebasan itu berakhir ketika ia mengancam kehidupan orang lain. Kalau menyangkut masalah lingkungan, lebih fundamental lagi karena yang dipertaruhkan bukan hanya kehidupan orang lain saja, akan tetapi seluruh umat manusia dalam seluruh sejarahnya.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s