Bisnis Konstruksi Harus Manusiawi


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik Sipil UIR

Bisnis konstruksi adalah usaha manusia yang harus dimanusiawikan, digenangi etika dan tanggung jawab yang bermoral. Kalau tidak, kita akan dilanda oleh sains, teknologi, dan industrilisasi yang serakah dan kejam, yang tega berslogan “basuki mawa bea “ (Etika Bisnis Konstruksi oleh Andy Kirana), artinya “kesejahteraan membawa korban”, namun dalam interprestasi yang tidak manusiawi: harus ada ‘tumbalnya’. Tumbal itu bisa berwujud manusia yang dibunuh secara harfiah demi pembangunan.

Bisnis konstruksi yang berhasil adalah bisnis konstruksi yang memperhatikan norma moral. Sebaliknya, bisnis konstruksi yang tidak menghiraukan etika akan hancur. Dalam arus semakin canggihnya informasi, segala kecerobohan dan penipuan bisnis konstruksi akan mudah terungkap dan bisa menjadi tindakan bunuh diri bagi sang pelaku. Oleh sebab itu, pesaingan dalam bisnis konstruksi adalah pesaingan yang bermoral, persaingan menjaga mutu dan nama baik, persaingan merebut kepercayaan masyarakat.

Bisnis konstruksi perlu mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakannya kepada pihak ketiga, yaitu masyarakat seluruhnya yang secara tidak langsung terkena akibat dari keputusan dan tindakanya. Wujud sikap adalah menawarkan pekerjaan atau jasa yang bermutu, menjaga lingkungan hidup yang bersih dan sehat, dan bertanggung jawab atas kelangsungan hidup masyarakat hidup seluruhnya. Wujud kebebasan dan tanggung jawabitu dengan tepat diluiskan oleh Yuswadi Saliya sebagai berikut ini.

“Seorang arsitek, sebagai manusia, manusia biasa atau pun konformis yang berproduks, dia akan selalu tergoda untuk menepuk dadanya, tapi itu pun sia-sia karena di dalam dadanya sendiri berdiri beberapa lapis dada orang lain. Ketika akan ditariknya garis, pinsil di tangannya itu seperti pisau yang akan menyayat kulit jari jemarinya sendiri. Garis-garis pinsilnya itu dirasakan akan meniadakan dirinya sendiri sesudah sidik jarinya sendiri terkelupas. Dalam pandangan matanya, setiap garis mengwakili sejumlah manusia lain yang krlak akan terlibat dan dapat menenggelamkan dirinya. Betapa besar bahaya yang terpusat di ujung mata pensilnya itu” (Sumartana dkk, ed, 1995:184).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s