Mengintip Desain Bandara SSK II


Ir. Rony Ardiansyah, MT.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik sipil UIR

Meskipun terus digesa. Pelaksanaan konstruksi bagunan terminal Bandara Sultan Syaif Kasim II yang dimulai Agustus 2009 lalu dan diskejulkan selesai Desember 2010, kayaknya belum juga tercapai. Seperti apa bandara ini akan dibangun? Berapa daya tampung bandara sebelum dan sesudah pembangunan terminal? Dan konstruksi seperti apa yang diterapkan pada proyek pembangunan ini?


Sebelum mengintip desain baru bandara SSK II. Saya sajikan beberapa informasi data landas pacu existing bandara ini. Landas pacu bandara existing SSK II dengan panjang landas pacu (runway) sepanjang 2.250 meter, lebar 30 meter, dan tebal perkerasan 70 cm. Dengan keterbatasan panjang runway yang ada selama ini, bandara ini dengan sendirinya tidak bisa melayani pesawat-pesawat yang pada umumnya bermesin 3 dan empat, seperti; Dc-8-61 sampai dengan Dc-8-63, Boeing B-707 B, B-747 B, Concorde, dan lain sebagainya, yang memerlukan panjang runway lebih dari 3 km. Sebagai perbanding, kita lihat bandara ketaping di kabupaten Pariaman Sumatra Barat yang mempunyai kapasitas yang lebih besar. Bandara Ketaping ini mempunyai panjang runwai 2.720 meter, lebar, 45 meter, dan tebal perkerasan 75 cm.

Marilah, sekarang! Bersama Tecno Konstruksi Edisi 28, Agustus 2010, kita intip seperti apa desain bandara ini. Berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 2007(menurut, Building & Environment Manager PT. Angkasa Pura II), bandara SSK (existing) memiliki kapasitas 1,8 juta penumpang per tahun dengan luas bangunan terminal 6.700 m2. Sementara, berdasarkan perhitungan jika hanya seluas 6.700 m2 idealnya kapasitasnya kurang lebih hanya 800 ribu- 1 juta oenumpang per tahun. Sehingga berdampak kualitas pelayanan kurang bagus. Berangkat dari hal tersebut, maka pembangunan terminal baru SSK II diperluas dan dengan asumsi dapat melayani 3 juta penumpang per tahun.

Untuk style bangunan bandara SSK II, mengacu pada konsep yang diilhami oleh burung Serindit. Merupakan satwa langka (yang dilindungi) sebagai simbol fauna Riau, yang melambangkan semangat, enerjik dan konyinuitas. Bentuk aerodinamis dari kepak sayap burung Serindit nan kaya akan warna, menghadirkan analogi desain yang dinamis dari bandara SSK II. Sedangkan pada atap bangunan, memiliki nuangsa Islami yang diterjemahkan dengan adanya bentuk kubah.

Adapun posisi bangunan terminal yang sedang dibangun saat ini, sudah diperhitungkan jarak terhadap as-nya runway (landas pacu). Sehingga posisi terminal baru, mundur dari terminal existing kurang lebih  50 meter (dari as ke as lebih kurang 100 meter). Sementara, bandara existing menurut rencana akan dirobohkan dan dijadikan apron.

Dalam pembangunan terminal SSK II tersebut, Pemda Pekanbaru juga berperan serta membuat jalan masuk atau keluar terminal (dari Jalan Sudirman sampai bundaran) sepanjang 700 meter, terdiri dari 2 jalur-4 jalur. Namun untuk landskape-nya ditangani AP II.

Sementara itu, berdasarkan master plan, luas lahan yang dimiliki bandara SSK II kurang lebih 319,8 ha. Dari sisi udara yang ada saat ini adalah apron seluas 41.700 m2 yang terbagi di dua lokasi (seluas 34.000 m2 dan 7.700 m2) dan taxiway 50 m x 31 m (2 unit) dan sedang dalam proses tender pelebaran menjadi 45 m x 2.240 m. Untuk perpanjangan runway yang kini sedang dalam penggodokan Dirjen Perhubungan Darat menjadi 2.600 m. Sedangkan dari sisi darat, untuk parkir kendaraan existing dapat menampung 250 kendaraan.

Biaya pembangunan terminal SSK II ini, sekitar 165 miliar (termasuk PPN). Dari nilai tersebut, prosentase pengalokasian biaya untuk pekerjaan struktur, arsitektur, dan MEP adalah 40 persen, 25 persen, dan 35 persen.

Pondasi bangunan terminal ini menggunakan tiang pancang spun pile diameter 40 cm dan 50 cm dengan kedalaman kurang lebih 24-25 meter, mancapai tanah keras. Saat pemancangan digunakan metode jacking pile, dengan pertimbangan antara lain: untuk menghindari  kebisingan dan getaran yang ditimbulkan relatif kecil, waktu pelaksanaannya pun lebih cepat, keadaan di lapangan lebih bersih, serta ditinjau dari segi biaya lebih kompetitif dibandingkan dengan pondasi borepile.

Untuk sistem struktur menerapkan portal terbuka (pelat, balok, kolom) dengan konstruksi rangka baja dan penutup aluminium (kallzip), serta insulasi dengan metode spray untuk meredam suara dan panas.

Mutu beton yang digunakan adalah K-350 untuk slab dan balok, serta K-400 untuk kolom. Volume beton yang terserap dalam pembangunan proyek ini kurang lebih 9.500 m3 dan volume besi beton sekitar 1.300 ton.

Sebagai informasi tambahan, adalah data teknis proyek pembangunan terminal SSK II Pekanbaru. Nama proyek: Pembangunan Terminal Baru Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II (SSK II), Pekanbaru Riau. Lokasi: Simpang Tiga Pekanbaru Riau. Pemilik: PT (Persero) Angkasa Pura II Cabang Bandara SSK II Pekanbaru. Konsultan Perencana: PT Riodilla Bumi Persada (Struktur, Arsitektur, MEP). Konsultan Pengawas: PT Bina Karya (Persero) & PT Findo International Consultan JO. Kontraktor: PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (Struktur, Arsitektur, MEP dan sebagian Elektronika Bandara). ***

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s