Haram Mengambilnya & Haram Memberinya


Ir. Rony Ardiansyah, MT.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik sipil UIR

Satu yang yang perlu kita yakini 100 persen, jangan sembilan puluh sembilan koma sembilan persen. Bahwa orang yang menjual minuman, orang yang membeli, dan orang yang menuangkan ke dalam gelas, dosanya sama dengan orang yang meminumnya. Sama-sama “haram” dan sama-sama neraka. Dalam kehidupan yang serba sulit, manusia cenderung menghalalkan segala cara untuk mempertahankan hidupnya. Hal itu mendorong lahirnya sebuah pemeo yang mencerminkan pesismisme dan cara berpikir pragmatis: “Mencari harta yang haram saja susah, apalagi yang halal”. Menyangkut hal tersebut, dalam sebuah hadist disebutkan. “Sesuatu yang halal itu jelas, dan sesuatu yang haram juga jelas, sedangkan di antara keduanya adalah syubhat. Siapa saja menghindari syubhat, maka terbebaslah dia (dari celaan) bagi (dari celaan) dan (terjagalah) kehornatannya. Dan siapa yang terjatuh dari syubhat, maka dia dianggap melakukan hal haram”. (Harkhari dan Muslim. Teks hadis menggunakan riwayat Muslim) Hadis di atas tentu tidak hanya dimaksudkan (Koruptor Itu Kafir, 2010: 140-142), bahwa apa yang halal dan haram telah jelas aturannya, tetapi juga bahwa apa yang haram tetap haram dan tidak akan berubah menjadi halal karena seseorang menginginkannya menjadi halal. Lebih jauh lagi, kaidah fikih mengatakan bahwa apa yang haram untuk diperoleh, maka haram juga untuk memberikannya. “Sesuatu yang haram mengambilnya, haram pula memberikannya”. Uang hasil korupsi, misalnya, dengan cara apa pun tidak akan menjadi halal, meskipun dizakati, dipakai untuk menyantun anak yatim, diberikan sebagai sumbangan untuk mengembangkan masjid, madrasah, dan pesantren, maupun untuk ibadah umrah dan haji. Koruptor dapat mengelabuhi manusia, tetapi tidak bisa mengelabuhi Allah SWT.

Banyak ajaran agama yang mempunyai tujuan mulia, namun disalahgunakan sedemikian rupa untuk pembenaran kejahatan korupsi. Misalnya, mengganti istilah suap dengan kata sedekah atau menggunakan harta hasil korupsi untuk hal-hal yang bersifat mulia dengan harapan pahala yang didapatkan bisa menghapus dosa yang diperoleh karena korupsi.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s