Hadiah Karena Jabatan


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/Praktisi HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia)/ dan Dosen Teknik Sipil UIR

Senjata yang paling ampuh para koruptor adalah memberi sogokan kepada pejabat korup atas nama hadiah. Katanya dengan nama hadiah, ia bebas dari tuntutan hukum dan perbuatan dosa. Lalu bagaimana hukumnya bagi orang yang mendapat hadiah karena jabatan yang melekat pada dirinya. Bahwasannya Rasulullah bersabda: hadiah yang diterima para pejabat adalah penggelapan atau korupsi (HR. Ahmad).

Sesungguhnya Rasulullah mengangkat seorang pekerja. Ketika pekerja itu selesai dari pekerjaannya, dia mendatangi Rasulullah dan dia berkata: “Wahai Rasulullah, ini buat baginda dan ini dihadiahkan untuk saya”. Lalu Rasulullah berkata kepadanya: “Tidakkah (sebaiknya) engkau duduk saja di rumah ayah ibumu, lalu engkau tunggu apakah engkau diberi hadiah atau tidak”.

Demi jiwa Muhammad yang ada dalm genggamannya, tidaklah seseorang melakukan korupsi kecuali pasti dia akan datang pada Hari Kiamat sambil mengalungkan barang yang dia korupsi ke lehernya. Jika yang dikorup unta, maka dia akan datang dengan membawa suara unta; dan jika yang dia korup sapi betina, maka dia akan membawa suara lenguhannya; dan jika yang dikorup kambing maka pada hari kiamat dia akan datang membawa embikannya. (HR Bukhari).

Di antara para Sahabat Nabi yang paling tegas dalam pengawasan harta par pejabat adalah Umar bin Khatahab. Setiap kali Umar menangkat wali (pejabat) di suatu wilayah, dia mewajibkan yang bersangkutan untuk menghitung kekayaannya sebelum serah terima jabatan, dan menghitung ulang setelah selesai melaksanakan tugasnya. Apabila kekayaanny bertambah (lebih dari pendapatan atu gajinya), Umar akan memerintahkannya untuk memasukkannya ke dalam kas negara (khaznat al-dawlah). Bahkan Umar melarang para pejabat berbisnis lantaran kedudukan jabatannya seorang pejabat dapat menggunakan pengaruhnya untuk menguasai pasar atau bisnis sehingga terjadi persaingan yang tidak sehat.

Misalnya, ketika Umar mengangkat Utbah bin Abi Sufyan sebagai wali di suatu wilayah, maka ketika kembali ke Madinah dengan membawa kekayaan yang besar, Umar bertanya” “Min aina laka hdza ya Utbah? (kau dapat dri mana hartamu ini, wahai Utbah?)”. Utbah menjawab: “Aku keluar dari sana dengn uangku sambil berdagang”. Umar menimpal: :Aku mengutusmu sebagai wali negeri, tidak mengutus kamu sebagai pedagang, karena sebenarnya dagangan dan kekuasan tidak sama. Oleh karena itu, masukkanlah hartamu ke Bait al-Mal (Baitul Mal) kum Muslim.

Menurut pandangan (Korupsi Dalam Perspektif Muhammadiyah dalam buku Korutor Itu Kafir, 2010: 20-21),  dengan demikian perolehan yang pada prinsipnya  diperbolehkan oleh Islam, seperti infak, sedekah, hibah, dan hadiah, dapat berubah status hukumnya menjadi haram jika yang menerima itu pejabat pemerintah atau orang menerima hadiah karena pekerjaan atau profesi dan tugasnya. ***

One response to “Hadiah Karena Jabatan

  1. nice article.. be istiqomah in the right way. may Allah bless us.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s