Koruptor Itu Kafir


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Teknik Sipil UIR

Demikianlah judul sebuah buku yang disusun dari hasil kerja sama dan konsolidasi mutakhir dari organisasi massa Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang didukung oleh kemitraan bagi perusahaan Tata Pemerintah. Meskipun NU dan Muhammadiayah jarang-jarang bisa akur, tetapi untuk hal yang satu ini mereka sepakat.

Salah satu paragraf kata pengantar dari editornya, mengatakan: Dalam tradisi Islam, tindakan syirik merupakan perbuatan yang tidak dimaafkan Allah. Mengandaikan bahwa korupsi adalah salah satu bentuk dari syirik, jelas para koruptor menjadi sejajar dengan musrik. Selain itu, dalam buku itu juga disebut bahwa pelaku korupsi akan dilaknat Allah SWT. Itu berdasarkan hadis Nabi: “Allah melaknat orang yang melakukan suap (risywah) dan menerima suap” (HR ibn Majah). Suap atau risywah merupakan  salah satu elemen dari tindak korupsi.

Terdapat hadis Nabi yang berbunyi bahwa: “Pencuri tidak mungkin mencuri dalam keadaan beriman”. Tindak korupsi bisa disamakan dengan tindak mencuri. Tepatnya, salah satu bentuk mencuri adalah korupsi; selama tindak mencuri itu diartikan sebagai mengambil sesuatu yang bukan hak milik pengambil tersebut. Jika demikian, redaksi hadis tersebut bisa menjadi: “Koruptor tidak mungkin korupsi dalam keadaan beriman”.

Melihat dampak tindak korupsi yang sangat serius, maka sanksi moral juga menjadi sangat penting untuk diterapkan pada pelaku korupsi atau koruptor. Tujuan sanksi moral adalah agar kalangan muslim sebagai masyarakat beragama, terutama tokoh-tokoh agamanya, terus menerus mengingatkan bahwa korupsi adalah perbuatan yang sangat bertentangan dengan moral agama sehingga masyarakat tidak lagi permisif terhadap tindak kejahatan korupsi.

Salah satu sanksi moral adalah: “Jenazah para koruptor tidak disholati oleh pemuka agama”. Berdasarkann hadis, dari zaid b. Khalid al-Juhani: Sesungguhnya salah seorang dari sahabat Nabi wafat pada perang Khaibar. Lalu mereka memberitahu hal tersebut pada Rasulullah SAW. Kemudian beliau bersabda: “Shalatilah teman kalian itu”. Maka berubahlah wajah para sahabat karena hal itu ( keengganan Rasulullah SAW untuk men-shalatinya). Belau bersabda: Sesungguhnya teman kalian itu menggelapkan harta rampasan perang”… (Hadis dikeluarkan oleh Abu Daud).

Hadis ini dijadikan dasar dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Kobes) NU di Asrama Haji Pondok Gede pada 25-28 Juli 2002 untuk menghimbau agar ulama tidak men-shalati jenazah koruptor.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s