Faktor Alam atau Bencana Alam?


Ir. Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/Praktisi HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia)/ dan Dosen Teknik Sipil UIR

Pagar Disperindag Timpa Lima Rumah”, demikian judul di halaman utama Mtropolis koran Riau Pos hari ini Sabtu, 27 Nopember 2010, halaman 33. Diberitakan bahwa: Tembok pagar Kantor Disperindag yang sedang dalam tahap pembangunan rubuh dan menimpa lima rumah warga yang ada disebaliknya, Jumat (26/11). Peristiwa terjadi saat hujan lebat turun Jumat dini hari sekitar pukul 03.30 WIB. Dinding pagar sepanjang 15 meter dengan tinggi setengah meter tiba-tiba rubuh dan mengenai rumah warga di Gang Pelita RT 5 RW 1 Kelurahan Pulau Karam Kecamatan Sukajadi.

Mengenai peristiwa ini, Wali Kota Pekanbaru Drs H. Herman Abdullah MM meminta pihak kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut bertanggung jawab. “Segala kerusakan harus menjadi tanggung jawab kontraktor termasuk mengganti rugi rumah warga yang terkena dampak robohnya pagar pembatas. Sedangkan Kepala Dinas PU Pekanbaru Dedi Gusriadi yang turun langsung ke lapangan mengatakan peristiwa ini murni karena faktor alam dan bukan kelalaian kerja. Dan Pihak kontraktor mengatakan pihaknya siap bertanggung jawab.

Yang perlu saya garisbawahi di sini adalah: (1) Pernyataan Pak Wali, “Kontraktor harus bertanggung jawab”, (2) Pernyataan Kadis PU, “Murni faktor alam dan bukan kelalaian kerja”, dan (3) Kontraktir, “Siap bertanggung-jawab”. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati apakah aturan kontrak sudah ada perubahan? Kalau pertistiwa ini merupakan faktor alam atau yang dimaksud dalam kontrak “Bencana Alam” atau “Force Majeur” harusnya kontraktor lepas dari segala tanggung jawab, karena di luar kekuasaan kontraktor dan pihak-pihak terkait lainnya.

Kalau memang bencana alam tentu dalam tempo 7 hari kalender sudah ada penegesahan dari direksi dan seterusnya… dan seterusnya… Bila bukan bencana alam ya…konsekuwen dong, siapa yang bersalah bertanggung jawab, baca kontrak dan hukum harus ditegakkan! Ingat! Di dalam kontrak tidak pernah mengenal “Faktor Alam” yang ada  adalah “Bencana Alam”. Bukankah begitu?

Berikut ini saya coba paparkan apa yang umumnya dimaksud dengan “Bencana Alam” atau Force Majeur” dalam kontrak kerja sbb: Yang dimaksud dengan keadaan Force Majeure adalah suatu keadaan yang dapat menimbulkan akibat terhadap pelaksanaan pekerjaan yang tidak dapat diatasi baik oleh kontraktor maupun Pemberi Tugas, karena diluar kesanggupan/wewenangnya seperti: Adanya bencana alam : gempa bumi, angin topan, banjir, perang, huru hara, dan sebagainya. Tiap peristiwa keadaan force majeure seperti tersebut diatas harus mendapat pengesahan dari Direksi Lapangan, selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah peristiwa tersebut. Apabila akibat dari adanya keadaan Force Majeure pekerjaan terpaksa harus dihentikan dan tidak dilanjutkan lagi, maka kepada kontraktor akan dibayarkan harga sebesar prestasi pekerjaan yang telah dikerjakan dan telah diterima. Kontraktor tidak berhak mengajukan tuntutan-tuntutan lain misalnya ganti rugi, dan sebagainya.

Sekarang tinggal kita sendiri yang menafsirkan: Faktor Alam Atau Bencana Alam?

One response to “Faktor Alam atau Bencana Alam?

  1. toms shoes 76244 Faktor Alam atau Bencana Alam? | Science and Civil Structure Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s