Pola Pikir Insinyur


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/ Dosen Pasca SarjanaTeknik Sipil UIR

Masih banyak yang mengaku insinyur, tetapi pola pikirnya bukan pola pikir insinyur. Masih ada yang mengaku insinyur teknik sipil/arsitek, tetapi masih tega-teganya me “mark-up” harga volume dan harga satuan pekerjaan dalam dokumen perencanaannya. Dengan alasan klasik bahwa kontraktor tak mungkin bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik, bila dikerjakan dengan harga satuan yang real.

            Masih ada yang mengaku insinyur dalam menjalankan tugas supervisi, tega-teganya menyulap pekerjaan tambah untuk addendum kontrak. Tentu juga dengan alasan klasik yang sama pula.

Apakah tugas para insinyur di zaman yang modern ini sudah semakin meluas, bukan hanya semata mengurusi kelancaran proyek pembangunan lagi. Apakah harus mengurusi juga masalah, yang istilahnya “service”? Mulai dari mengurusi tiket pesawat sampai dengan urusan hiburan malam, dan service-service lainnya…

Para insinyur seharusnya dapat lebih banyak membantu memikirkan pemecahan permasalahan bangsa. Tentunya Anda tidak ketinggalan kereta untuk ambil bagian dalam mengisi pembangunan ini. Sudah saatnya memikirkan kepentingan bangsa dan negara yang sudah banyak dikorupsi oleh manusia-manusia yang tak bertanggung jawab. Sudah saatnya dan seharusnya memikirkan kepentingan lembaga atau pemberi tugas. Mengapa demikian? Jawabnya karena kita sudah digaji untuk hal itu.

Berikut ini kita kutip pernyataan yang menarik dari Said Dadu (Ketua Persatuan Insinyur Indonesia dalam majalah Techno Konstruksi Edisi 28: 13). “Bedanya insinyur dengan bukan insinyur adalah, kalau insinyur selalu berpikir tentang nilai tambah, kalau non insinyur berpikir value creation (rekayasa nilai). Sebagai contoh, harga kopi adalah biaya produksi untuk menjadikan kopi ditambah marjin keuntungan. Jika biaya produksi kopi Rp. 1.000 tetapi bisa dijual Rp. 10.000 kenapa tidak, itu bukan insinyur. Jika harga kopi Rp. 1.000 diterima dipasar karena kemahalan, maka insinyur akan berfikir mencari teknologi yang bisa menekan harga produksi kopi lebih rendah lagi agar bisa dijual di bawah Rp. 1.000.”

Hai..para insinyur, berfikirlah dengan pola pikir seorang insinyur, semoga…!***

Advertisements

4 responses to “Pola Pikir Insinyur

  1. betul, harusnya semua Insinyur harus merubah pola fikirnya, , ,

  2. Menarik sekali Pak Rony.
    Sepertinya beberapa dari kita tidak cukup hanya mendapatkan imbalan dari olah rekayasa seputar jasa meng-efisiensi-kan sesuatu. Kita juga mau dapat bonus dari sesuatu yang ‘tersisa’, walau pun harus berbagi rata dengan yang lainnya. Kalau terasa terlalu sedikit, pola pikir insyinyurnya digunakan untuk membuat sisa yang lebih banyak, secara sembunyi – sembunyi tentunya. Dan astaga, kalau itu belum cukup juga (biasanya memang belum cukup) yang mentah pun perlu diberdayakan melalui proses adendum.
    saya masih bersukur barang jadinya sendiri benar – benar tidak enak dimakan. Kalau tidak, bisa kita bayangkan dinding tinggal plester saja karena batanya jadi panganan saat kunjungan kelapangan.

  3. – berpikir tentang Material….padahal tak 100% properties sesuai
    – berpikir tentang beban….padahal hanya kira kira saja sesuai code….belum 100% sesuai kondisi lapangan
    -berpikir tentang model struktur….hanya dapat menganalisa saja…

    Dengan mengira ngira dengan penuh kehormatan keselamatan public is our responsibility

    Salam.
    yang suka mengira ngira
    1 by Analysis
    2.by Intuition
    3.by performance

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s