Jawaban Teknologi di Mina


(Diperlukan Penyempurnaan Fatwa yang Dibarengi Teknologi )

 

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Peminat Sains Qur’an & Sunah/Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR

              Bila kita cermati, kewajiban haji ditujukan kepada seluruh manusia. Bukan khusus kepada orang-orang beriman seperti dalam perintah puasa. Tetapi seruan haji berbeda, perhatikan Surat Al Hajj (22) ayat 27, Wa adzdzin finnasi bil hajj….”Dan serulah manusia untuk berhaji.

Puncak ibadah haji adalah wuquf di Arafah. Padahal lokasi Arafah berada di luar batas Tanah Haram. Di dalam Tanah Haram, non Muslim dilarang masuk. Maka secara teoritis semua manusia boleh berada di Arafah. Itu mengisyaratkan bahwa ibada haji akan diikuti oleh banyak sekali manusia (Tahun ini 2010, diperkirakan 5 juta manusia). Dan karena perintah itu berlaku sampai akhir zaman, daya tampung jamaah haji harus selalu diperbesar. Untuk itu mutlak diperlukan terus penyempurnaan fatwa dibarengi usaha-usaha teknologi.

Mina adalah sebuah hamparan padang pasir yang panjangnya sekitar 3,5 km, terletak di kawasan berbukit-bukit antara kota Mekah dan Muzdalifah. Saat ini dengan adanya pertumbuhan penduduk dan perluasan kota, kedua kota Mina dan Mekah sudah bersambung.

Mina oleh orang-orang Arab disebut dengan nama Muna, yang berarti pengharapan. Menurut riwayat, di Mina inilah hati Nabi Adam dibisiki bahwa Dia memperoleh harapan, setelah 200 tahun berpisah, akan bertemu dengan istrinya Hawa. Dan dengan izin Allah, Adam beberapa hari kemudian memang benar-benar bertemu dengan Hawa yaitu di Jabal rahmah, sebuah bukit kecil di padang Arafah.

Setelah berzikir di Arafah, para jemaah haji kemudian menuju Mina untuk melempar Jumroh. Mina merupakan juga tempat Nabi Ibrahim as dihadang iblis ketika hendak pergi menyembeli putranya. Nabi Ismail as. Karena itu, ia kemudian melempar batu ke arah setan tersebut agar menjauhi dari jalannya. Seseorang yang melempar Jamroh dengan batu berarti juga sedang melempar setan yang hendak mengganggu dirinya.

Seperti apa yang diuraikan oleh Ir.H.Bambang Pranggono, MBA, IAI dalam bukunya Mukjizat Sains dalam Al-Qur,an. Di Mina, bentuk tiang jumroh tidak berubah selama ratusan tahun. Ketika di tahun 70-an jamaah haji semakin padat, keluar fatwa bahwa tiga tiang jumroh boleh disambung ke lantai atas. Maka teknologi beton prestressed merealisasikan jembatan dua lantai itu. Ketika lembah Mina yang sempit mulai penuh sesak, ulama Saudi berfatwa bahwa daerah Haratsul-Lisan yang berada di balik gunung batu termasuk wilayah Mina, sehingga boleh mabit di sana. Maka teknologi horizontal drilling berperan, menggali terowongan menembus batu dari Mina.

Di tahun 1990, terjadi tragedi di terowongan itu yang menewaskan 1000 korban. Maka segera dibuat terowongan paralel di sebelahnya sehingga tidak terjadi tabrakan antara yang berangkat dan pulang melontar jumroh. Kemudian terjadi musibah kebakaran di Mina. Segera seluruh tenda jamaah haji diganti dengan tenda baru berteknologi kain tahan api. Selang beberapa tahun, terjadi lagi korban jiwa akibat berdesakan di jumroh. Maka dicari jawaban teknologi lagi.

Dr. Keith G.Steel, perencana dari Crowd Dynamics, Inggris, menggunakan program komputer Myriad System untuk menghitung pergerakan massa pelontar jumroh dan merancang solusinya. Hasilnya adalah usul perubahan bentuk jamarat dari tugu 1 x 1 meter menjadi dinding oval memanjang 34 meter. Tingginya sampai ke lantai atas. Tidak ada lubang. Batu dari lantai atas masuk cerobong di tengah-tengah langsung ke basemen di bawah tanah untuk dikeruk lalu dibuang keluar Mina. Ulama Saudi menyetujui perubahan itu. Arus menjadi lancar dan pelontaran jumroh tahun 2005 berlangsung tanpa korban sama sekali. Sukses teknologi ini memuluskan keluarnya fatwa yang membolehkan jumroh bertingkat lima. Pembangunannya akan dimulai Februari 2006 dengan biaya 4 miliar real. Kontraktornya Bin Laden Group.

Jumroh 5 lantai ini akan mempunyai 12 pintu masuk dan keluar, dilengkapi dengan eskalator. Ada akses dari lantai dua langsung ke jalan raya. Ada terowongan di bawah tanah dengan alat pengeruk batu otomatis. Ada atap menaungi tiga jumroh ‘ula, wusto, dan aqobah di lantai paling atas. Ada kereta penghubung dari tenda ke jumroh. Daya tampung jumroh akan menjadi 4 juta pelontar sehari. Bila fatwa dan teknologi bergandengan, insya Allah kemaslahatan akan terwujud.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s