Jembatan Perawang


(Jembatan Box Girder Terpanjang di Asia Tenggara)

Ir. Rony Ardiansyah, MT.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik sipil UIR

                Jembatan ini terletak di ruas jalan Minas-Simpang Lago Kabupaten Siak. Keberadaan jembatan ini akan memperpendek jarak tempuh sepanjang 45 km Jalan Lintas Timur Sumatera pada ruas jalan Simpang Lago-Minas yang sebelumnya melewati Kota Pekanbaru. Bersama Tren Konstruksi (edisiJuli 2010: 18-21), marilah kita lihat jenis dan metode perencanaan konstruksi apa yang digunakan pada Jembatan Perawang ini.

            Jembatan Perawang ini dirancang dengan konstruksi untuk main span 180 meter, side span 212 meter, approach span 508 meter, slab on pile 524 meter sehingga panjang total jembatan 1.414 meter dengan lebar jembatan 12,7 meter serta clearance mencapai 23 meter.

            Desain Jembatan Perawang ini dibuat dengan mempertimbangkan lalu lintas Sungai Siak yang tergolong padat oleh kapal-kapal muatan dan kapal tangker yang melintas di bawah jembatan. Menurut Ir. Tony Budianto dari konsultan perencana, “Jembatan Perawang merupakan jembatan box girder terpanjang di Indonesia bahkan di asia Tenggara.

            Jembatan Perawang tidak dirancang dengan menggunakan konstruksi cable stayed melinkan dengan box girder. Konstruksi ini merupakan jawaban yang pas untuk diaplikasikan pada jembatan Perawang. Pasalnya, dari sisi panjang bentang tengahnya masih mampu dicover dengan sistem konstruksi yang tidak perlu mamakai tipe Cable Stayed. Begitupun dari segi lokasi, secara estetika tidak terlalu dituntut pemakaian jembatan kabel sehingga pemakaian tipe box girder sudah tepat yang penting sesuai dengan fungsinya.

              Meskipun dari sisi konstruksi main span dengan menggunakan tipe box girder dan approach span menggunakan PCI girder sudah lazim dibangun di Indonesia. Namun untuk desain konstruksi slab on pile dengan ketinggian maksimum tiang dari muka tanah mencapai 14 meter merupakan desain konstruksi yang tidak umum digunakan. Konstruksi slab on pile dibuat untuk mengantisipasi kondisi tanah dasar berdaya dukung rendah yang lazim terdapat di Provinsi Riau yang secara umum geologinya berupa tanah gambut dengan ketebalan gambut berkisar antara 4 m hingga 8 m.

            Free standing tiang pancang pada slab on pile dengan pancang maksimum sebesar 14 m rawan akan bahaya tekuk akibat defleksi lateral beban lalu lintas yang lewat di atasnya. Untuk mengamankannya, pada posisi  tiang tersebut dibuat dinding yang menyatukan barisan tiang yang berfungsi untuk mengabsorsi bahaya tekuk dengan menyisakan free standing tiang setinggi 8 m sesuai dengan perhitungan teknis yang telah dikaji sebelumnya. Selain itu juga diperkuat dengan penggunaan tie beam untuk meningkatkan tegangan jepit tiang pondasi. Struktur tie beam dibuat memanjang sepanjang slab on pile yang menghubungkan antar tiang pancang.

            Secara konstruksi Jembatan Perawang ini menerapkan tiga jenis konstruksi yaitu konstruksi box girder (main span), I-gider (approach span) dan slab on pile. Struktur bawah memakai pondasi steel pile sebagai struktur penopang pilar bentang utama (main span) diameter 1,2 meter dengan kedalaman 60 meter. Untuk struktur approach span digunakan pondasi spun pile diameter 60 cm dengan kedalaman 40 meter, sedangkan untuk slab on pile menggunakan pondasi spun pile diameter 35 cm dengan kedalaman rata-rata pemancangan 30 meter. Konstruksi jembatan bentang utama (main span) membentang dari pilar ke pilar dengan ketinggian top slab 30 cm sedangkan tinggi rata-rata pilar konstruksi I-girder 20 meter dan slab on pile berkisar 14 meter.

            Pelaksanaan pemancangan pondasi relatif tidak mengalami kendala yang berarti karena kondisi tanah memiliki daya dukung rendah. Baru pada kedalaman rata-rata 40 meter dicapai tanah keras (end bearing) sebagai batas bawah pemancangan tiang pondasi baik spun pile maupun steel pile. Begitupun dalam pelaksanaan pembangunan konstruksi pilar dapat dikerjakan dengan lancar. Namun untuk struktur atas butuh effort khusus, terutama pada saat pemasangan PCI girder seberat 80 ton pada ketinggian 20 meter.

            Pada saat erection girder terdapat sedikit kendala yang diakibatkan oleh tanah dasar sebagai pijakan crane dengan kapasitas 150 ton tidak kuat menahan beban sendiri crane sehingga dibutuhkan perkuatan antara lain dengan pemasangan matting batang kelapa dengan perkuatan plat baja sehingga gaya aksial crane yang timbul dapat di counter secara merata oleh tanah dasar. Erection girder dilakukan dengan menggunakan 2 buah crane masing-masing berkapasitas 150 ton.

            Untuk pekerjaan PCI girder, dilakukan inovasi dimensi. Kalau girder sepanjang 40 meter biasanya diproduksi pabrikasi memiliki tinggi 2,1 meter, namun dengan perhitungan ulang dan intensif   akhirnya ditetapkan tinggi girder hanya 1,7 meter.

            Sementar itu untuk konstruksi slab on pile, desain awal pengecoran dilakukan sepanjang 40 meter dan dipasang expantion joint pada tiap sambungannya. Karena panjang 40 meter sudah didesain aman dan bahaya susutnya masih bisa ditolerir. Nmun, pada pelaksanaannya untuk lebih meningkatkan kemampuan slab on pile dalam menempu beban, konstruksi slab on pile dicor menerus sepanjang sekitar 200 meter dengan mutu beton K-500 menjadi satu kesatuan statis tak tentu.

Advertisements

One response to “Jembatan Perawang

  1. “maju teru pembangunan Riau”Semoga SDM putra Riau juga adikenal Asteng..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s