Pekanbaru Menuju Kota Humanopolis


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Pengamat Perkotaan/Dosen Pasca Sarjana Teknik Sipil UIR

        

Kalau kita mau jujur, proses pembangunan visualisasi kota Pekanbaru, sebenarnya mulai menggiat dan sangat berkembang pesat mulai lima tahun kebelakang, terutama pendirian berbagai pusat-pusat perbelanjaan, gedung-gedung perhotelan dan perkantoran yang menjulang tinggi di berbagai sudut-sudut kota. Kota yang menyandang predikat sebagai Kota Bertuah, saat ini mulai terasa kehilangan “nyawanya”. Salah satu penyebabnya ialah kurang konsistennya para pengambil kebijakan dan Rencana Tata Ruang Kota yang kerap berubah. 

            Sebagai contoh adalah keadaan lalu lintas yang semerawut dan kemacetan lalu lintas yang terjadi hampir di semua ruas jalan Kota Pekanbaru, terutama di sudut-sudut kota yang memiliki pusat-pusat keramaian dan perbelanjaan. Kondisi kemacetan itu terjadi, karena tidak seimbangnya antara luas badan jalan dengan jumlah kendaraan dan sistem transportasi umum yang tidak sesuai aturan.

            Coba kita simak pemberitaan di media beberapa waktu yang lalu (pada saat menyambut kedantangan SAUM) di kota Bertuah. Banyak pembangunan ruko tidak sesuai Perda, penerapan sumur resapan tidak diindahkan, pembangunan pos-pos polisi dan jembatan di atas sungai kota tidak mengantongi izin dan tiga halte bus Sarana Angkutan Umum Masal (SAUM) yang tidak memiliki izin dan sebagainya. Pembangunan kota yang berlangsung sepotong-sepotong tanpa koordinasi menyeluruh semacam ini, bila tidak dibenahi memang tak pelak lagi akan menghadirkan kondisi kota yang menyengsarakan bagi penduduknya.

            Sungai Siak yang semula mengalir jernih dan mengemban fungsi sebagai salah satu sumber kehidupan pendudukan dan makhluk hidup lainnya, tidak lagi bisa melanjutkan fungsinya karena kadar pencemaran yang melampaui ambang batas. Tidak hanya partikel CO2, Pb tetapi juga partikel-partikel berbahaya lainnya. Anehnya, Perusahaan daerah Air Minum (PDAM) masih mengambil sumber air yang digunakan warga untuk minum, mandi, mencuci dan sebagainya dari air sungai yang mulai tercemar. Hutan yang semula menjadi cadangan untuk menampung peresapan air tanah sudah berubah menjadi perumahan yang penuh beton dan memangkas rerimbunan pepohonan. Taman dan ruang terbuka yang semula cukup banyak tersedia, bermetamorfosis menjadi bangunan pertokoan dan perkantoran yang menambah padat dan sumpek wajah perkotaan. Alun-alun yang merupakan paru-paru kota dan menjadi lambang kebanggaan dan jati diri penduduk, terpaksa merelakan diriya untuk diubah menjadi kawasan pertokoan dan perdagangan.

            Kita harus jujur, adanya berbagai permasalahan yang muncul diperkotaan itu, bila diteliti sebenarnya merupakan efek samping dari perkembangan Kota Pekanbaru itu sendiri yang tidak terkendali. Hal inilah, sebenarnya yang seharusnya kita sadari bersama. Kita tidak mungkin dapat mengelak dari proses perkembangan kota ini. Tapi, di sini yang harus sama-sama kita pikirkan adalah bagaimana caranya kita dapat mengeliminir segala efek negatif dari perkembangan sebuah kota itu, sehingga akhirnya eksistensi dan citra sebuah kota dapat dipertahankan keberadaannya.

Menyikapi adanya pertumbuhan sebuah kota ini, padahal jauh-jauh hari Doxiadis, telah meramalkan bahwa kota-kota yang ada di dunia ini, termasuk di Pekanbaru akan tumbuh dan bengkak semakin besar, semakin kuat dan sulit dikendalikan. Kota (polis) akan menjadi metropolis (kota raya), kemudian megapolis (kota mega), lalu menjadi ecumenopolis (kota dunia), dan bila tidak hati-hati akan berakhir dengan kota mayat (necropolis).

Paling tidak ada empat penyebab pokok yang menurut Prof. Ir. Budiharjo. MSc beriuran paling besar terhadap keberantakan wajah dan tata ruang perkotaan di Indonesia. Pertama, adanya kesenjangan antara perencanaan kota yang dwi-matra dengan perancangan arsitektur yang tri-matra. Perancangan kawasan perkotaan (urban design) masih merupakan benda aneh di negara kita. Kedua, membengkaknya pengaruh kendaraan bermotor (khususnya mobil pribadi) dalam jaringan kegiatan perkotaan. Pejalan kaki dan pelangganan kendaraan umum masih dilihat sebagai warga negara kelas dua. Ketiga, curahan perhatian yang terlalu ditekankan pada aspek keuntungan ekonomi dan kecanggihan tenologi dengan melecehkan manfaat sosial atau kepentingan masyarakat banyak, khususnya pada pembangunan fasilitas komersial oleh pihak swasta. Keempat, lemahnya aparat dan mekanisme kontrol pembangunan, atau memang sengaja dibikin tidak jelas aturan permainan dan sanksinya, saya kurang begitu paham.

Menyadari gejala perkotaan yang meruyak semacam ini, Peter’ Hall mengajukan perencanaan humanopolis, yaitu kota yang lembut dan manusiawi, dengan menyembuhkan luka-luka yang diakibatkan oleh perlakuan manusia yang sewenang-wenang terhadap alam dan mengolah hubungan antara manusia dan lingkungan binaannya secara lebih akrab. Penciptaan ruang perkotaan yang bersifat publik, dengan jaringan pedestrian atau pejalan kaki yang terstruktur, seyogyanya lebih digalakkan.

Kehadiran bangunan-bangunan tinggi yang serba cerdas di Pekanbaru dengan segenap perangkapnya mekanikal dan elektrikalnya, hendaklah dimanusiawikan terutama pada lantai-lantai bawahnya dengan peralatan terbuka ataupun pedestrian mal yang dilengkapi dengan perabot seperti bangku, monumen, jam, lampu hias, gardu telepon, kaki lima, air mancur (ke bawah) atau air muncrat (ke atas) dan lain-lain.

Ruang-ruang perkotaan yang pribadi, sepatutnya saling dihubungkan satu sama lain agar terjalin menjadi satu kesatuan degan ruang perkotaan yang bersifat sosial. Ruang sosial itulah yang akan menjadi perekat bagi tumbuhnya rasa kebersamaan dan kekentalan komunitas perkotaan.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s