Menyoal, Green House Effect


Ir. Rony Ardiansyah, MT.

Dosen Teknik sipil UIR

Apakah yang dimaksud dengan Green House Effect atau Efek Rumah Kaca (ERK) dan penyebabnya? Luar biasa hanya dalam waktu 0,28 detik Anda bisa mendapatkan lebih dari 24.000 hasil penelusuran untuk efek rumah kaca di internet.

Efek Rumah Kaca dapat divisualisasikan sebagai sebuah proses. Pada kenyataannya, di lapisan atmosfer terdapat selimut gas. Rumah kaca adalah analogi atas bumi yang dikelilingi gelas kaca. Nah, panas matahari masuk ke bumi dengan menembus gelas kaca tersebut berupa radiasi gelombang pendek. Sebagian diserap oleh bumi dan sisanya dipantulkan kembali ke angkasa sebagai radiasi gelombang panjang. Namun, panas yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke angkasa menyentuh permukaan gelas kaca dan terperangkap di dalam bumi. Layaknya proses dalam rumah kaca di pertanian dan perkebunan, gelas kaca memang berfungsi menahan panas untuk menghangatkan rumah kaca.

Untuk lebih jelas mengenal Efek Rumah Kaca berikut ini (paparan Andi.T dkk). Ketika radiasi matahari tampak maupun tidak tampak dipancarkan ke bumi, 10 energi radiasi matahari itu diserap oleh berbagai gas yang ada di atmosfer, 34% dipantulkan oleh awan dan permukaan bumi, 42% membuat bumi menjadi panas, 23% menguapkan air, dan hanya 0,023% dimanfaatkan tanaman untuk berfotosintesis. Malam hari permukaan bumi memantulkan energi dari matahari yang tidak diubah menjadi bentuk energi lain seperti diubah menjadi karbohidrat oleh tanaman dalam bentuk radiasi inframerah. Tetapi tidak semua radiasi panas inframerah dari permukaan bumi tertahan oleh gas-gas yang ada di atmosfer. Gas-gas yang ada di atmosfer menyerap energi panas pantulan dari bumi. Dalam skala yang lebih kecil – hal yang sama juga tejadi di dalam rumah kaca. Radiasi sinar matahari menembus kaca, lalu masuk ke dalam rumah kaca. Pantulan dari benda dan permukaan di dalam rumah kaca adalah berupa sinar inframerah dan tertahan atap kaca yang mengakibatkan udara di dalam rumah kaca menjadi hangat walaupun udara di luar dingin. Efek memanaskan itulah yang disebut efek rumah kaca atau “green house effect”. Gas-gas yang berfungsi bagaikan kaca pada rumah kaca disebut gas rumah kaca atau “green house gases”.

            Tidak perlu jauh-jauh. Perhatikan  saja kondisi alam disekitar akhir-akhir ini, permukaan air Sungai Siak naik beberapa atau puluhan centimeter, hujan tidak merata, sering terjadi hujan lokal misalnya di pusat kota hujan lebat tetapi dipinggiran kota masih panas.  Ini baru sebagian kecil fenomena alam yang diakibatkan oleh pemanasan global yang timbul dari Efek Rumah Kaca.

Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.

Efek rumah kaca, pertama kali ditemukan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan sebuah proses di mana atmosfer memanaskan sebuah planet. Mars, Venus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) memiliki efek rumah kaca, tapi artikel ini hanya membahas pengaruh di Bumi. Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia belakang diterima oleh semua; yang pertama diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat.

Ada pertanyaan yang menarik seputran Efek Rumah Kaca. Sumber: ISLAMUDA [http://www.islamuda.com], mempertanyakan, bagaimana nasib Bumi jika pemanasan global terus terjadi. Para pakar geologi mengatakan, model komputer yang dibuat, menunjukan Bumi masih akan eksis selama beberapa milyar tahun lagi. Kondisi Bumi pelan-pelan akan kembali ke kondisi pada awal terbentuknya. Dalam waktu satu setengah milyar tahun lagi, suhu Bumi diperkirakan akan mencapai rata-rata 70 derajat Celsius.

Akibatnya jumlah keanekaragaman hayati, akan kembali ke kondisi di zaman pra-Kambrium, yakni menyusut tajam dan melulu terdiri dari binatang bersel tunggal yang tahan panas ekstrim. Tahun 1967 lalu, pakar astrofisika Jerman, Albrecht Unsöld meramalkan, dalam 3,5 milyar tahun mendatang, intensitas Matahari akan meningkat empat puluh persen. Bumi yang bersuhu super panas akan kering kerontang dan semua kehidupan musnah. Ketika matahari berubah menjadi bintang raksasa merah, yang menelan hampir semua planet di tata surya, kehidupan sudah musnah tiga milyar tahun sebelumnya. Jadi manusia tidak perlu khawatir, karena dipastikan tidak akan ada lagi yang dapat menyaksikan kiamat tsb.

ERK Sangat Dibutuhkan

Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. “Global Warming,”sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.

Dewasa ini efek rumah kaca yang memicu pemanasan global, menjadi sorotan tajam semua negara. Padahal di zaman purba, efek rumah kaca justru memicu munculnya kehidupan yang beragam. Ternyata sejarah iklim Bumi menunjukan, efek rumah kaca dan pemanasan global justru memicu munculnya kehidupan. Kajian paleo-klima, yakni iklim di zaman purba menunjukan, sejak 4,3 milyar tahun lalu di Bumi sudah diproduksi gas rumah kaca alami, terutama methan dan karbon-dioksida. Hal ini menyebabkan efek rumah kaca yang menghangatkan suhu Bumi, menjadi rata-rata 15 derajat Celsius. Jika tidak ada pemanasan global, suhu Bumi ketika itu diperkirakan rata-rata minus 18 derajat Celsius, karena intensitas energi matahari pada awal pembentukan Bumi, hanya 70 persen dari intensitasnya sekarang.

Ternyata yang memanaskan Bumi, di zaman itu adalah gas Methan. Mikro organisme yang disebut methanogen, yang hidup dalam habitat bebas oksigen, memproduksi gas methan yang cukup untuk memanaskan Bumi, agar tidak membeku. Untuk menciptakan efek rumah kaca sekuat itu, para peneliti dari NASA, memperhitungkan konsentrasi karbondikosida di atmosfir sekitar dua persen. Artinya, diperlukan volume gas karbondioksida 50 kali lipat dari volume saat ini. Tapi hanya dibutuhkan 0,1 persen konsentrasi gas Methan, untuk menjada agar Bumi tidak membeku.

Selama sekitar dua milyar tahun, mikro organisme methanogen berkembang biak di Bumi yang dipenuhi aktivitas vulkanisme. Methanogen mengkonsumsi karbondioksida dan hidrogen, yang dimuntahkan gunung api, dan memproduksi gas methan sebagai produk buangan. Selama milyaran tahun konsentrasinya menjadi cukup besar, untuk menyebabkan efek rumah kaca dan pemanasan global di Bumi. Diperkirakan, suhu Bumi ketika itu, rata-rata 33 derajat Celsius atau jauh lebih panas ketimbang suhu rata-rata selama 100.000 tahun terakhir ini. Ketika produksi gas methan melebihi konsentrasi satu promile, sistem thermostat global di atmosfir bekerja, dengan mengubah methan menjadi rantai polymer panjang yang menghalangi cahaya matahari. Terjadi semacam penyejukan suhu global.

Negara Mana penyumbang Gas ERK terbesar?

            Setiap kepala penduduk di negara barat mengeluarkan emisi karbondioksida 25 kali lebih banyak daripada penduduk di negara-negara berkembang! Lima pengemisi karbondioksida terbesar di dunia adalah Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Inggris, dan Jepang. Ini yang menyebabkan PHal ini yang menyebabkan Protokol Kyoto HANYA mengharuskan negara-negara maju, yang juga kaya, untuk menurunkan emisinya lebih dahulu. Ironisnya, Cina sebagai negara berkembang menunjukkan sikap kepemimpinan dalam menanggapi isu Perubahan Iklim , berkebalikan dengan negara-negara industri yang kian terpuruk. Emisi karbondioksida Cina pada tahun 1998 turun hingga 4% dengan tingkat ekonomi naik hingga lebih dari 7%.

Data terakhir menunjuk pada Amerika Serikat sebagai penyumbang 720 juta ton Gas Rumah Kaca setara karbondioksida—setara dengan 25% emisi total dunia atau 20,5 ton per kapita. Emisi Gas Rumah Kaca pembangkit listrik di Amerika Serikat saja masih jauh lebih besar bila dibandingkan dengan total jumlah emisi 146 negara (tiga per empat negara di dunia)! Sektor energi menyumbang sepertiga total emisi Gas Rumah Kaca Amerika Serikat. Emisi Gas Rumah Kaca sektor energi Amerika Serikat lebih besar dua kali lipat dari emisi Gas Rumah Kaca India. Dan , total emisi Gas Rumah Kaca Amerika

Serikat lebih besar dua kali lipat emisi Gas Rumah Kaca Cina. Emisi total dari negara-negara berkembang besar , seperti Korea, Meksiko, Afrika Selatan, Brazil, Indonesia, dan

Argentina, tidak melebihi emisi Amerika Serikat.*** 

Efek Rumah Kaca dapat divisualisasikan sebagai sebuah proses. Pada kenyataannya, di lapisan atmosfer terdapat selimut gas. Rumah kaca adalah analogi atas bumi yang dikelilingi gelas kaca. Nah, panas matahari masuk ke bumi dengan menembus gelas kaca tersebut berupa radiasi gelombang pendek. Sebagian diserap oleh bumi dan sisanya dipantulkan kembali ke angkasa sebagai radiasi gelombang panjang. Namun, panas yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke angkasa menyentuh permukaan gelas kaca dan terperangkap di dalam bumi. Layaknya proses dalam rumah kaca di pertanian dan perkebunan, gelas kaca memang berfungsi menahan panas untuk menghangatkan rumah kaca.

Untuk lebih jelas mengenal Efek Rumah Kaca berikut ini (paparan Andi.T dkk). Ketika radiasi matahari tampak maupun tidak tampak dipancarkan ke bumi, 10 energi radiasi matahari itu diserap oleh berbagai gas yang ada di atmosfer, 34% dipantulkan oleh awan dan permukaan bumi, 42% membuat bumi menjadi panas, 23% menguapkan air, dan hanya 0,023% dimanfaatkan tanaman untuk berfotosintesis. Malam hari permukaan bumi memantulkan energi dari matahari yang tidak diubah menjadi bentuk energi lain seperti diubah menjadi karbohidrat oleh tanaman dalam bentuk radiasi inframerah. Tetapi tidak semua radiasi panas inframerah dari permukaan bumi tertahan oleh gas-gas yang ada di atmosfer. Gas-gas yang ada di atmosfer menyerap energi panas pantulan dari bumi. Dalam skala yang lebih kecil – hal yang sama juga tejadi di dalam rumah kaca. Radiasi sinar matahari menembus kaca, lalu masuk ke dalam rumah kaca. Pantulan dari benda dan permukaan di dalam rumah kaca adalah berupa sinar inframerah dan tertahan atap kaca yang mengakibatkan udara di dalam rumah kaca menjadi hangat walaupun udara di luar dingin. Efek memanaskan itulah yang disebut efek rumah kaca atau “green house effect”. Gas-gas yang berfungsi bagaikan kaca pada rumah kaca disebut gas rumah kaca atau “green house gases”.

 

            Tidak perlu jauh-jauh. Perhatikan  saja kondisi alam disekitar akhir-akhir ini, permukaan air Sungai Siak naik beberapa atau puluhan centimeter, hujan tidak merata, sering terjadi hujan lokal misalnya di pusat kota hujan lebat tetapi dipinggiran kota masih panas.  Ini baru sebagian kecil fenomena alam yang diakibatkan oleh pemanasan global yang timbul dari Efek Rumah Kaca.

Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.

Efek rumah kaca, pertama kali ditemukan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan sebuah proses di mana atmosfer memanaskan sebuah planet. Mars, Venus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) memiliki efek rumah kaca, tapi artikel ini hanya membahas pengaruh di Bumi. Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia belakang diterima oleh semua; yang pertama diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat.

Ada pertanyaan yang menarik seputran Efek Rumah Kaca. Sumber: ISLAMUDA [http://www.islamuda.com], mempertanyakan, bagaimana nasib Bumi jika pemanasan global terus terjadi. Para pakar geologi mengatakan, model komputer yang dibuat, menunjukan Bumi masih akan eksis selama beberapa milyar tahun lagi. Kondisi Bumi pelan-pelan akan kembali ke kondisi pada awal terbentuknya. Dalam waktu satu setengah milyar tahun lagi, suhu Bumi diperkirakan akan mencapai rata-rata 70 derajat Celsius.

Akibatnya jumlah keanekaragaman hayati, akan kembali ke kondisi di zaman pra-Kambrium, yakni menyusut tajam dan melulu terdiri dari binatang bersel tunggal yang tahan panas ekstrim. Tahun 1967 lalu, pakar astrofisika Jerman, Albrecht Unsöld meramalkan, dalam 3,5 milyar tahun mendatang, intensitas Matahari akan meningkat empat puluh persen. Bumi yang bersuhu super panas akan kering kerontang dan semua kehidupan musnah. Ketika matahari berubah menjadi bintang raksasa merah, yang menelan hampir semua planet di tata surya, kehidupan sudah musnah tiga milyar tahun sebelumnya. Jadi manusia tidak perlu khawatir, karena dipastikan tidak akan ada lagi yang dapat menyaksikan kiamat tsb.

ERK Sangat Dibutuhkan

Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. “Global Warming,”sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.

Dewasa ini efek rumah kaca yang memicu pemanasan global, menjadi sorotan tajam semua negara. Padahal di zaman purba, efek rumah kaca justru memicu munculnya kehidupan yang beragam. Ternyata sejarah iklim Bumi menunjukan, efek rumah kaca dan pemanasan global justru memicu munculnya kehidupan. Kajian paleo-klima, yakni iklim di zaman purba menunjukan, sejak 4,3 milyar tahun lalu di Bumi sudah diproduksi gas rumah kaca alami, terutama methan dan karbon-dioksida. Hal ini menyebabkan efek rumah kaca yang menghangatkan suhu Bumi, menjadi rata-rata 15 derajat Celsius. Jika tidak ada pemanasan global, suhu Bumi ketika itu diperkirakan rata-rata minus 18 derajat Celsius, karena intensitas energi matahari pada awal pembentukan Bumi, hanya 70 persen dari intensitasnya sekarang.

Ternyata yang memanaskan Bumi, di zaman itu adalah gas Methan. Mikro organisme yang disebut methanogen, yang hidup dalam habitat bebas oksigen, memproduksi gas methan yang cukup untuk memanaskan Bumi, agar tidak membeku. Untuk menciptakan efek rumah kaca sekuat itu, para peneliti dari NASA, memperhitungkan konsentrasi karbondikosida di atmosfir sekitar dua persen. Artinya, diperlukan volume gas karbondioksida 50 kali lipat dari volume saat ini. Tapi hanya dibutuhkan 0,1 persen konsentrasi gas Methan, untuk menjada agar Bumi tidak membeku.

Selama sekitar dua milyar tahun, mikro organisme methanogen berkembang biak di Bumi yang dipenuhi aktivitas vulkanisme. Methanogen mengkonsumsi karbondioksida dan hidrogen, yang dimuntahkan gunung api, dan memproduksi gas methan sebagai produk buangan. Selama milyaran tahun konsentrasinya menjadi cukup besar, untuk menyebabkan efek rumah kaca dan pemanasan global di Bumi. Diperkirakan, suhu Bumi ketika itu, rata-rata 33 derajat Celsius atau jauh lebih panas ketimbang suhu rata-rata selama 100.000 tahun terakhir ini. Ketika produksi gas methan melebihi konsentrasi satu promile, sistem thermostat global di atmosfir bekerja, dengan mengubah methan menjadi rantai polymer panjang yang menghalangi cahaya matahari. Terjadi semacam penyejukan suhu global.

Negara Mana penyumbang Gas ERK terbesar?

            Setiap kepala penduduk di negara barat mengeluarkan emisi karbondioksida 25 kali lebih banyak daripada penduduk di negara-negara berkembang! Lima pengemisi karbondioksida terbesar di dunia adalah Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Inggris, dan Jepang. Ini yang menyebabkan PHal ini yang menyebabkan Protokol Kyoto HANYA mengharuskan negara-negara maju, yang juga kaya, untuk menurunkan emisinya lebih dahulu. Ironisnya, Cina sebagai negara berkembang menunjukkan sikap kepemimpinan dalam menanggapi isu Perubahan Iklim , berkebalikan dengan negara-negara industri yang kian terpuruk. Emisi karbondioksida Cina pada tahun 1998 turun hingga 4% dengan tingkat ekonomi naik hingga lebih dari 7%.

Data terakhir menunjuk pada Amerika Serikat sebagai penyumbang 720 juta ton Gas Rumah Kaca setara karbondioksida—setara dengan 25% emisi total dunia atau 20,5 ton per kapita. Emisi Gas Rumah Kaca pembangkit listrik di Amerika Serikat saja masih jauh lebih besar bila dibandingkan dengan total jumlah emisi 146 negara (tiga per empat negara di dunia)! Sektor energi menyumbang sepertiga total emisi Gas Rumah Kaca Amerika Serikat. Emisi Gas Rumah Kaca sektor energi Amerika Serikat lebih besar dua kali lipat dari emisi Gas Rumah Kaca India. Dan , total emisi Gas Rumah Kaca Amerika

Serikat lebih besar dua kali lipat emisi Gas Rumah Kaca Cina. Emisi total dari negara-negara berkembang besar , seperti Korea, Meksiko, Afrika Selatan, Brazil, Indonesia, dan

Argentina, tidak melebihi emisi Amerika Serikat.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s