2 Kali Melihat Retak Di Langit


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Peminat Sains Qur’an/Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR

 

Satu Muharram adalah tahun baru Islam, yakni bulan dalam kalender Hijriyah 1431 yang pada tahun ini bertepatan pada hari Jumat 18 Desember 2009. Sebagai dari salah satu wujud untuk memaknai hari yang sangat bersejarah ini, saya ingin mengajak Anda sekalian untuk merenung akan keagungan dan kesempurnaan ciptaan Allah SWT, dengan melihat informasi sang maha pencipta “Retak di Langit”.  

Mari kita turunkan batas pandangan kita. Mari kita lihat keindahan bentuk langit, seperti yang digambarkan oleh Amru Khalid dalam artikelnya. Apa kita melihat bermacam warna?! Apa kita melihat warna terbitnya matahari? Apakah tidak mungkin langit itu terdiri dari dua warna saja: hitam dan putih! Lihatlah bagaimana Allah membuatnya indah dan manis? Lihatlah warna-warna indah yang bertaburan di langit. Lihat bagaimana Dia telah memilihkan warna yang menarik untuk dipandang. Jika warnanya hitam tentu tidak akan indah bila dipandang.

Warna yang terlihat pada siang hari itu adalah warna langit yang sesungguhnya. Warna itu akan berubah pada saat matahari terbit dan pada saat matahari terbenam. Warna langit selalu berubah-ubah! Lalu mengapa Allah mengubah seluruh warna ini? Dialah yang menciptakan langit dan bumi. Dialah yang menciptakan semua makhluk. Setiap kali menciptakan sesuatu, Dia pasti membuatnya indah dan menarik. Apakah kita pernah melihat ciptaan Allah?! Lihatlah ciptaan Allah! Lihat pula keindahan ciptaan Allah!

Berikan hak mata kita untuk beribadah. Mata ini sudah dipergunakan selama bertahun-tahun untuk bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla. Dia berharap untuk bisa beribadah. Mata kita sesungguhnya sedang berharap untuk bisa beribadah pada Allah. Hanya saja kita tidak memberinya kesempatan untuk melakukannya. Biarkan mata kita beribadah sejenak pada Allah dan merenungi ciptaan Allah. Perhatikan keindahan penciptaan langit dan bumi. Allah Swt. berfirman, “Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun?” (Q.S. Qâf [50]: 6).

                Marilah kita renungkan informasi sang maha pencipta pada ayat berikut ini. “Dia yang mencipta tujuh langit berlapis-lapis, Tidak engkau lihat pada ciptaan Allah suatu cacat pun, pandanglah lagi, adakah kau lihat ada retak di sana? Lalu ulangi pandanglah sekali lagi, niscaya pandanganmu akan tunduk takluk. ” [Al Mulk 67:3-4]

Ayat di atas biasanya ditafsirkan sebagai ajaran bagi manusia agar tunduk memandangi kehebatan langit ciptaan Allah swt yang mulus tanpa cacat. Sebetulnya, tidak perlu bagi Allah SWT menyuruh kita memperhatikan langit sampai dua kali agar kita kagum tertuntunduk akan kehebatan ciptaan-Nya. Sekali menatap langit di malam hari sudah cukup mampu mencekam jiwa dan bisa membuat manusia merasakan kekerdilan dirinya karena luasnya alam semesta. Kita seharusnya penasaran membaca ayat di atas. Pasti ada sesuatu di balik peirntah Allah untuk ‘dua kali mencari retak di langit’. Ahli tafsir lama hanya mengartikan bahwa retak di langit itu mustahil, karena ciptaan Allah pasti sempurna. Tapi betulkah retak itu suatu kegagalan ? Bagaimana dengan retak yang disengaja oleh Allah ?

Lubang Hitam (black hole) merupakan tempat di ruang angkasa yang menyedot segala sesuatu di dekatnya, cahaya dan radiasi tidak bisa memancar ke luar, sehingga gelap tak terlihat. Bintang yang berukuran 10 kali massa matahari bila runtuh akan menjadi lubang hitam yang sangat padat dengan radius 3 km. Menurut Stephen Hawking, lubang-lubang hitam sebesar ujung jarum tersebar di penjuru alam ini. Sedangkan di pusat-pusat galaksi ada lubang hitam super-masif berukuran sejuta massa matahari yang dengan dahsyat menyedot apa pun di sekitarnya. Teori ‘General Relativity’, Einstein mengharuskan adanya suatu tempat yang merupakan kebalikannya, dengan persamaan akar kuadrat negatif, yakni disebut Lubang Putih (white hole), dimana segala sesuatu dimuntahkan keluar. Lokasinya tidak di alam semesta yang kita diami ini tetapi di dalam kembarannya (paralel universe).

Fenomena alam kembar diisyaratkan dalam ayat, ‘Alhamdulillahi robbil ‘alamin’, yang berarti ‘Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seluruh alam’. Menurut Karl Schwarzchild, pakar astrofisika, lubang hitam dan lubang putih bisa terhubung oleh lorong yang disebut Lubang Cacing (worm hole). Sebagaimana yang terjadi di dasar lubang hitam, di lubang cacing hukum-hukum fisika juga tidak berlaku, ruang dan waktu bertukar tempat dan akhirnya melebur dalam kesatuan singularitas. Akibatnya jarak dan waktu berhenti bila diukur dengan ukuran bumi. Walaupun sudah ada pesawat secepat cahaya, perjalanan ke pelosok-pelosok alam semesta tidak bisa terlaksana, karena jaraknya bisa ribuan bahkan jutaan tahun cahaya. Artinya, umur manusia terlalu pendek untuk bisa sampai ke sana, apalagi untuk pulang ke bumi.

Tafsir lama bahwa ‘bouraq’ yang dinaiki rasulullah saw ketika Isra’ dan Mi’raj merupakan kendaraan berkecepatan cahaya, harus diralat, karena tidak akan cukup pulang pergi satu malam ke ujung langit dan sidratul muntaha. Harus ada teori lain. Barangkali teori lubang cacing merupakan terobosan yang memungkinkan manusia mencapai tujuan-tujuan maha jauh ke galaksi dan alam kembar tadi. Dengan waktu yang berhenti, ke manapun bisa sampai seketika melewati jalur retakan angkasa. Tafsir surat Al Mulk 67:3-4 di atas bisa diperkaya dengan pemahaman baru, yakni bahwa Allah bukan mengatakan langit indah diciptakan halus tanpa lubang dan retak, sebab ternyata lubang hitam putih dan lubang cacing bertaburan di sana. Tetapi Allah justru memberi isyarat bahwa di langit sengaja Dia ciptakan banyak retakan dan lubang, yang harus kita temukan, amati, dan teliti berulang-ulang hakikat dan manfaatnya. Wallahu a’lam.***

One response to “2 Kali Melihat Retak Di Langit

  1. Alquran diturunkan untuk mudah dipahami. Allah mengatakan langit tidak memiliki retak sedikitpun. Berarti perkataan Allah yang kita pegang. Jangan tertipu angan-angan tokoh sains. Ilmu mereka sebatas asumsi dari apa yg mereka amati dari jarak jauh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s