Tidur Setelah Sholat Isya’


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Peminat Sains Qur’an/Dosen Pasca Sarjana Mgister Teknik Sipil UIR

               

                Tidur adalah salah satu aktivitas yang dibutuhkan manusia. Setelah seharian beraktivitas dan bekerja di siang hari, manusia perlu tidur dan beristirahat di malam harinya agar jiwa dan raganya kembali segar. Tidur dapat mengembalikan tenaga yang hilang hingga manusia bisa kembali beribadah kepada Allah Swt. Dengan begitu, tidur merupakan salah satu nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia, sebagaimana dalam firman-Nya: “Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. Al-Qashash: [28]:73)

            Marilah kita cermati Sabda Rasulullah Saw berikut ini.  Diriwayatkan dari Abu Barzah r.a, bahwa Rasulullah Saw membenci tidur sebelum shalat ‘lsya’ dan mengobrol setelahnya. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata, “Rasulullah Saw. menyebutkan kepada kami tercelanya mengobrol sesudah shalat ‘lsya’,” (Hasan, HR Ibnu Majah [703], Ahmad  1/389 dan 410], Ibnu Abi Syaibah [11/279], Ibnu Khuzaimah [1340], Ibnu Hibban [2031], al-Baihaqi [1/452]). Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a, Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak boleh mengobrol (malam hari) kecuali dua orang; Orang yang akan shalat atau musafir,” (Shahih lighairhi, HR Ahmad [1/379, 412, 444, 463], Abdurrazzaq [2130], ath-Thayalisi [294], al-Khathib al-Baghdadi [XIV/286], al-Baihaqi [1/452], Abu Ya’la [5378]).

            Di dalam agama Islam, terdapat adab atau etika tidur. Adab ini mulai sebelum tidur hingga bangun tidur yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. Adab tidur hendaknya selalu dilaksanakan oleh setiap muslim agar Allah Swt selalu menjaga keselamatan hamba-hamba-Nya. Marilah kita kutip ulasan hadis di atas bersama Dr. Zaghlul An-Najjar dalam bukunya “Pembuktian Sains dalam Sunnah”, sebagai berikut ini.

            Implikasi hadis di atas, waktu tidur yang paling berkah adalah jam-jam pertama malam, langsung setelah sholat Isya’. Oleh karena itu Nabi Saw tidak suka bergadang setelah Isya’ kecuali jika terpaksa. Beliau juga memberi pesan bahwa konon Nabi Dawud As tidur separuh malam, kemudian bangun pada sepertiganya, dan tidur lagi pada seperenamnya.

            Berbagi penelitian empiris telah membuktikan kebenaran sabda Nabi Saw ini. Hal ini dikarenakan oleh faktor-faktor sebagai berikut. Pertama, lapisan-lapisan pelindung yang diciptakan Allah Swt untuk menjaga kehidupan di muka bumi dan diletakkan-Nya di dalam atmosfer ‘antara langit dan bumi’ secara bertahap akan mengalami penyusutan sejak mulai tenggelamnya matahari hingga sampai pada puncak penyusutannya pada tengah malam, untuk kemudian secara perlahan mengalami perentangan lagi sehingga mencapai puncak ketebalannya pada pertengahan hari ketika sinar matahari tepat menyinari lapisan ini.

            Lapisan pelindung ini mengandung lapisan ozon, lapisan ion, sabuk-sabuk pengaman sinar matahari, lapisan magnet, dan lapisan luar bumi. Jika lapisan ini sampai menipis, maka bumi menghadapi banyak bahaya alam yang bermacam-macam.

            Kedua, berbagai penelitian seputaran masalah tidur membuktikan adanya kebutuhan manusia yang mendesak untuk tidur pada awal-awal jam istirahat yaitu awal malam sehingga tidur ini bisa membantu seseorang menjaga keseimbangan waktu hidup yang telah ditetapkan Allah Swt dalam tubuh manusia. Kadar tidur awal ini akan mengorganisasikan aktivitas kehidupan praktis, belajar, ibadah (kepada Allah Swt) seseorang, juga menstabilkan suhu badan, mengaktifkan kembali memori serta menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang mungkin ditemukan pada sistem kekebalan tubuh.

            Sejumlah kelanjer kecil khususnya yang ada dalam otak yang besarnya tidak lebih dari biji sorgum bertugas mengatur kadar kesiapan dan kesadaran tubuh, selanjutnya dikenal dengan kelenjer cemara (Pineal Gland). Kelenjer ini bertugas mengklasifikasikan hormon melatonin yang dapat menjaga sel-sel saraf, membantu sistem kekebalan untuk memerangi virus dan kuman yang bermacam-macam, memperbaiki kemampuan tidur dengan cara melawan insomia, meminimalisir terjangkit penyakit liver, katarak, penyakit tumor ganas, dan secara umum bisa menunda gejala-gejala penuaan dini.

            Di dalam otak manusia juga terdapat kelenjer kecil lain yang dikenal dengan nama Hyphotalamus. Kelenjer ini berada di dalam dinding dalam lapisan ketiga saluran Cerebrospinal otak. Ia berfungsi mengontrol tingkat kesadaran dan bangun tidur dengan efek pengaruhnya pada kelenjer cemara yang memproduksi hormon melatonin dan kelenjer bawah otak (pituitary gland) yang memproduksi hormon adrenalin.

            Kelenjer hyphotalamus bertugas mengaktifkan jam yang mengatur berbagai aktivitas vital di dalam tubuh manusia agar sesuai dengan pergantian siang-malam, sekaligus mewujudkan keselarasan seluruh fungsi-fungsi organ dengan seluruh sistem tubuh.

            Di samping itu, sel-sel Chiasma Optic (Tashalub Al-Bashariy) yang berada disebelah persilangan serat-serat saraf, tepatnya di sebelah kelenjer otak memiliki fungsi khusus untuk merasakan pancaran sinar terang yang jatuh pada pangkal retina pada saat pertengahan siang. Ketika pancaran sinar matahari jatuh pada pangkalan retina, sel-sel ini kan mengirim pesan ke “jam hidup” (As-Saab Al-Hayatiyyah) di tubuh sehingga ia berhenti mengirim perintah pada kelenjer cemara untuk memproduksi hormon melatonin. Sebaliknya ketika malam tiba sel ini akan mengirimkan pesan khusus pada kelenjer cemara untuk kembali memproduksi hormon melatonin.

            Mengingat tingkat kepekaan malam bertambah secara gradual sejak temggelamnya matahari hingga mencapai puncaknya pada tengah malam, untuk kemudian mengalami penurunan secara gradual hingga terbit fajar shadiq, maka semakin jelaslah hikmah di balik ketidak sukaan Rasulullah Saw untuk tidur sebelum mengerjakan Sholat Isya’ agar tidak terlewat, dan ketidak sukaan beliau untuk berbincang-bincang setelah Isya’ demi memanfaatkan jam-jam tidur paling afdhal di awal malam. Jika melihat kecocokan ini, tentu manusia akan terheran-heran, siapakah yang memberitahukan hal itu kepada Rasulullah Saw 1400 tahun yang lalu jika beliau tidak menerima wahyu dan diberitahu oleh Sang Maha Pencipta langit dan bumi.

            Semoga shalawat kesejahteraan, salam kedamaian dan keberkahan selalu tercurah kepada beliau yang mengikuti petunjuknya dan berdakwah di jalan-Nya sampai kimat kelak. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s