Ternyata, Kita Hidup Hanya Sekejap


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Peminat Sains Qur’an/Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR

     

 Matilah kita kutip potongan artikel, seperti berikut ini: “lanjutnya usia orang Yogya sudah lama menarik perhatian. Umur penduduk di daerah ini rata-rata 70 tahun. Itu terungkap dalam beberapa kali sensus. Padahal, usia hidup di Indonesia kebanyakan sebatas 60 tahun. Karena itu” (Tempo, 30 Desember 1989).

Tujuh puluh tahun rasanya sekejap saja. Karena itu, kita layak merenungkan firman Allah SWT. “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”. Allah berfirman, “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui” (QS Al-Mu’minuun [23]: 112-114). Ternyata, kita hidup hanya sekejap.

Itu dari segi ukuran, menurut Tauhid Nur Azhar dan Eman Sulaiman (dalam bukunya Ajaib bin Aneh). Jika dilihat dari perspektif waktu hidup, pasti lain lagi ceritanya. Usia manusia biasanya tidak lebih dari seratus tahun. Usia harapan hidup biasanya 50-70 tahun.  Sekarang bandingkan dengan usia bumi kita yang berangka milyaran tahun. Batuan-batuan bumi yang tertua diperkirakan terbentuk sekitar 4,6 milyar tahun. Bekas-bekas kehidupan di bumi yang tertua diperkirakan sekitar 3,8 milyar tahun. Kehidupan makhluk yang bernama manusia diperkirakan baru sekitar 100.000 tahun. Apalagi kalau dibandingkan dengan usia alam semesta yang konon sudah 15 milyar tahun. Menurut perhitungan para ahli fisika, 70 tahun usia manusia sebanding dengan 0,15 detik usia kosmis (usia alam semesta). Asal tahu saja, 1 detik kosmis sama dengan 475 tahun. Bila usia 70 tahun saja sebanding dengan o,15 detik, berapa detik orang yang berusia 20, 30, 40, atau 50 tahun?

Ternyata manusia tidak hanya hidup hanya sekejap, tetapi manusia juga merupakan salah satu “makhluk kecil” ciptaan Allah SWT. Itulah sebabnya, mengapa Allah SWT membenci orang-orang yang sombong dan berbuat riya. Mengapa Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang merasa dirinya hebat, kuat, pintar, dan lebih sehingga menyepelakan orang lain? Sebaliknya, mengapa Allah SWT memerintahkan kita untuk rendah hati, bersujud, tunduk, dan patuh kepada-Nya.

Manusia tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan bola dunia yang raksasa ini. Bumi pun tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Matahari, yang konon volumenya lebih besar dari satu juta bola dunia kita.

Cerita belum selesai. Ternyata matahari pun hanya satu dari sekitar 100 milyar bintang yang tergabung dalam galaksi Bima Sakti (Milky Way). Dari jumlah sebanyak itu, hanya sekitar 6.000 bintang saja yang dapat kita amati dengan mata telanjang. Sekitar 300 di antaranya berada di atas horizon dan separuh ada di bawahnya.

Sesungguhnya, Bima Sakti bukan satu-satunya galaksi yang ada di alam semesta. Ada banyak sistem serupa yang mengisi setiap sudut langit sampai batas yang bisa dicapai oleh teleskop terbesar yang dimiliki manusia. Jumlah keseluruhan galaksi yang dapat dipotret dengan teleskop berdiameter 500 cm di Mt Palomar (Amerika Serikat), mungkin sampai satu milyar galaksi. Hal yang menarik, galaksi kita pun hanyalah satu dari seratus milyar galaksi lainnya yang tergabung dalam supercluser (kumpulan galaksi). Diperkirakan supercluser-supercluser ini membentuk gugusan-gugusan lebih besar yang belum diketahui di mana tepinya.

Menurut para ilmuan, diameter (garis tengah) alam semesta ini mencapai 30 milyar tahun cahaya (Wah… bagaimana Ya? Coba Anda bandingkan dengan umur alam semesta yang baru 15 milyar tahun). Artinya, jika cahaya ingin menyebrangi alam semesta dari tepi kiri ke tepi kanan, atau sebaliknya, dibutuhkan waktu 30 milyar tahun. Padahal, dalam satu detik saja, kecepatan cahaya itu mencapai 300.000 km. Dengan kecepatan 300.000 km/detik, dalam waktu satu tahun cahaya akan menempuh jarak sekitar 9,5 juta-juta km. Coba hitung, berapa kilometer diameter alam semesta ini dan bandingkan dengan diameter bumi yang luasnya hanya 510,1 juta km persegi. Bandingkan pula, dengan keberadaan diri kita di alam semesta ini. Pastinya, sungguh tidak berarti diri ini, padahal, alam semesta yang tak terkira besarnya ini, hanya sedikit saja dari kekuasaan Allah SWT yang jauh lebih hebat dan lebih besar.

Melihat fakta-fakta ini, sangat tidak layak bagi kita berlaku sombong. Sungguh, manusia itu tidak ada apa-apanya. Dunia yang kita perjuangkan serta kita banggakan begitu kecil, tiada berarti dalam pandangan Allah. Planet Bumi- di mana uang, rumah mewah, kebun, hewan ternak, mobil mewah, perusahaan, keturunan, jabatan, teman, tanah yang luas, lautan, danau, gunung, termasuk diri kita di dalamnya-hanya seserpih debu ditengah samudra bintang-bintang di alam semesta. Kita bisa mengungkap makna dari hadist, “Seandainya dunia itu berharga di sisi Allah, maka tak sedikit pun orang kafir akan mendapatkannya”. Saking tidak berharganya, Allah SWT berkenan memberikan bagian dunia kepada orang-orang kafir. Dalam pandangan Allah SWT, dunia beserta isinya tidak lebih berharga daripada sehelai sayap lalat.

Dalam menjalani hidup yang sekejap ini. Marilah kita meteladani rasulullah SAW dan para sahabat yang begitu mudah mendermakan harta yang dimilikinya untuk kebaikan. Dalam pandangan mereka, harta duniawi tidak ada artinya dibandingkan keridhaan di sisi Allah. Kita pun perlu renungkan akan makna sebuah hadist dari Rasulullah SAW bahwa, “Dua rakaat shalat fajar labih baik dari dunia dan seisinya.” (HR Muslim dan At-Tirmidzi). Wallaahu a’lam.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s