Bangunan Hunian


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Praktisi  HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia)

 

             Ada dua alasan yang menyebabkan saya menulis artikel ini pada rubrik ….Home Sweet Home…….. Alasan pertamanya adalah perlunya kita semua mengetahui pengetahuan dasar ilmu bangunan, khususnya keamanan konstruksi bangunan hunian tempat kita bernaung sehari-hari. Yakni, Pengetahuan dasar merencanakan dan merenovasi serta memperbaiki kerusakan-kerusakan pada konstruksi bangunan ini. Alasan keduanya adalah meyesuaikan diri kita seiring dengan berlanjutnya revolusi industri konstruksi, yang telah menghasikan banyak sekali perubahan. Baik dalam hal bahan-bahan konstruksi maupun praktik-praktiknya.

            Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia setelah sandang dan pangan. Sebagaimana pangan yang memiliki kaidah-kaidah kelayakan pangan yang meliputi empat sehat lima sempurna, begitu juga dengan rumah yang harus memiliki kaidah-kaidah layak huni. Agar rumah memiliki keandalan, bangunan tersebut harus memenuhi aspek keselamatan, kesehatan, kenyamanan, serta kemudahan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Bangunan Gedung No. 28/2002.

            Keselamatan bangunan meliputi persyaratan kemampuan bangunan gedung atau rumah untuk mendukung beban muatan, yang meliputi beban sendiri dan beban yang ditimbulkan oleh fenomena alam seperti angin dan gempa. Selain itu, juga meliputi kemampuan bangunan gedung atau rumah dalam mencegah menanggulangi bahaya kebakaran dan bahaya petir. Tanah Gambut merupakan persoalan tersendiri di Riau pada umunya, khususnya Kota Pekanbaru. Karena gambutlah penyebab terbanyak terjadi kegagalan konstruksi bangunan saat ini. Maka itu, kita mau tak mau harus bergelut dengan tanah gambut.

            Untuk mencapai keamanan konstruksi bangunan hunian, rubrik ini dapat dapat membantu mengkonsolidasikan gagasan-gagasan pemilik bangunan. Membantu menghasilkan konsep-konsep dan rincian-rincian pondasi-pondasi, tumpuan struktural, dan saluran-saluran mekanikal & elektrikal. Persoalan-persoalan mendasar sering muncul dalam mendirian sebuah bangunan hunian adalah: dengan berapa luas tanah mereka harus bekerja, berapa berat bangunan yang dapat didukung oleh tanah, berapa panjang bentang struktural yang layak, jenis material apa yang akan menghasilkan kinerja baik dan sebagainya.

            Dalam hal renovasi bangunan. Kadang kala Anda menyewa atau membeli sebuah bangunan rumah untuk membuat suatu usaha. Karena kebutuhan akan tata ruang, Anda ingin menjebol beberapa dinding supaya ruang tempat usaha itu menjadi luas. Persoalan konstruksi yang Anda takutkan adalah, apakah nantinya kolom tetap kuat menyangga beban yang ada, apakah balok atau ring balok diatas dinding tidak ikut roboh, dimana tempat kuda-kuda akan menumpu dan persoalan lain yang berkaitan dengan pembongkaran dinding tersebut.

            Dalam hal kegagalan konstruksi bangunan. Retak atau Crack selalu mengwarnai sebuah bangunan, baik yang baru maupun yang sudah berusia tua. Persoalan konstruksi yang Anda takutkan adalah, apakah retak tersebut membahayakan, mengakibatkan bangunan roboh, atau hanya sekedar retak non struktural yang disebabkan oleh mutu plesteran yang kurang baik. Atau bisa jadi sebaliknya, retak diakibatkan turunya pondasi yang mengakibatkan fatal bagi konstruksi bangunan di atasnya juga keselamatan penghuninya.

            Artikel ini juga dimaksudkan untuk menghimbau, menuntut para ahli untuk terbuka terhadap perkembangan teknologi baru, karena tidak jarang hal ini menyimpang dari cara pertukangan tradisional.  Kajian ilmu bahan bangunan yang sederhana dan informal selama ini kiranya perlu diubah sesuai dengan gagasan pembangunan yang menyeluruh. Ilmu bahan bangunan yang memberikan pengertian terhadap cara, pengaruh, dan akibat bahan bangunan yang bekerja di dalam konstruksi rumah hunian.

            Akhirnya perlu penulis mengingatkan kepada kita semua akan pentingnya mengwujudkan sebuah keamanan konstruksi bangunan hunian. Karena membangun tetap merupakan sumbangan kebudayaan yang penting dan mencerminkan pertanggungjawaban terhadap masyarakat dan lingkungan alam sekitarnya. Semoga.***

3 responses to “Bangunan Hunian

  1. dear Mr. Rony Ardinasyah..

    Apakah mungkin mendirikan bangunan highrise building diatas lahan gambut ? Jika mungkin bagaimana analisisnya ?
    Apakah faktor resiko keamanan bangunannya jauh lebih besar ? dan juga dari segi biaya konstruksinya.
    Mohon penjelasan bapak..

    Terima kasih,
    WD Jasmine

  2. To Wd Jasmine.
    Meskipun tak mungkin membangun highrise building di atas tanah gambut, karena tanah gambut itu sendiri tidak pernah settle atau tidak pernah terjadi konsolidasi. Tetapi kita dengan mudah dapat membangun highrise buiding di atas tanah gambut dengan menggunakian pindasi tiang (piling) untuk mencapai tanah keras di bawah tanah gambut.
    Lagi pula ketebalan gambut di Indonesia katakan berkisar 2 s/d 30 meter, biasanya pondasi tiang untuk highrise building akan dipasang lebih dari 40 meter.

  3. Terima kasih atas penjelasannya Pak Rony. Senang sekali seandainya bisa berkonsultasi langsung dengan bapak, mengingat penelitian saya tentang hunian vertikal di lahan gambut yang tentunya membutuhkan construction cost yang jauh lebih mahal. Mohon sedikit gambaran, apabila kedalaman gambut 3 m dengan bangunan 6 lantai, ukran bangunan 20 x 20 meter, dengan konstruksi lantai panggung, berapa kira2 panjang mini pile yang dibutuhkan, dan tiap jarak berapa meter (pola grid)nya Pak ? Trm ksh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s