Arah Kiblat Harus Dikalibrasi?


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik sipil UIR

                Tentu masih segar dalam ingatan kita akan Gempa Chile. Gempa 8,8 Skala Richter yang mengoncang pantai barat Chile bulan lalu mampu menggeser kota Concepcion sedikitnya 10 kaki atau sekitar 3 meter ke barat. Gempa itu juga memindahkan ibukota Santiago hingga 11 inci (sekitar 28 cm) ke barat daya. Menurut para peneliti, gempa Chile juga menggeser wilayah lain Amerika Selatan, termasuk kepulauan Falkland dan Fortaleza, Brazil. (Riau Pos, 10/03)

            Gempa bumi yang melanda dan menguncang pada akhir-akhir ini mengingatkan kita akan adanya raksasa yang bergerak, yakni lempeng tektonik antar benua. Lempeng yang bergerak perlahan tapi pasti ini bergerak saling mendekat, ada juga yang saling menjauh. Karena itu setiap terjadi pergeseran yang diperkirakan 10 cm per tahun itu pada suatu titik di muka bumi, tentu arah kiblat dari setiap titik dari permukaan bumi tidaklah abadi lagi. Bagaimana dengan masjid tua yang telah dibangun seribu tahun yang lalu? Tentu sudah terjadi pergeseran lebih kurang 50.000 cm alias 5 km. Sehingga menurut Ir. H. Bambang Pranggono, MBA, IAI dengan artikelnya “Menggugat Arah Kiblat”, menghimbau masjid yang dibangun ratusan atau ribuan tahun yang silam harus diukur ulang kiblatnya (Mukjizat Sain dalam Al-Qur’an halaman 33-35).

Ilmu geologi menemukan bahwa benua-benua selalu bergerak. Ada yang saling mendekat, ada yang saling menjauh. Karena setiap titik geser, arah kiblat dari setiap titik di muka bumi tidaklah abadi. Jadi, masjid yang dibangun ratusan atau ribuan tahun silam harus diukur ulang kiblatnya. Walhasil setiap gedung masjid dan mushala di dunia ini harus secara berkala diukur ulang kiblatnya dengan teknologi baru.

Beberapa waktu yang lalu, para ahli rukyat sibuk berdebat dengan ahli astronomi mengenai penentuan awal Ramadhan setiap tahunnya. Posisi bulan sabit diteropong dan dikalkulasi sampai seper sekian detik di atas horizontal. Padahal, Ramadhan hanya setahun sekali. Sedangkan arah sholat yang dilakukan 5 kali sehari, artinya lebih dari 2000 kali dalam setahun, belum serius diukur dengan teliti. Kita percaya begitu saja pada kiblat masjid yang diukur dengan kompas dan peta sederhana. Ditarik garis dengan pensil dari kota kita ke Mekah, lalu diukur sudutnya dengan busur derajat. Di dalam kamar kita malah merasa cukup dengan menggelar sajadah ke pojok sudut ruangan.

Arah sholat atau kiblat dengan sangat jelas, disampaikan dalam kitab suci Al-Qur’an. Dan dari manapun kamu berangkat, hadapkan wajahmu ke Masjidil Haram. Dan sesungguhnya itu adalah al-haag dari Tuhanmu. Dan Allah tidak lengah memperhatikan perbuatanmu. (QS. Al-Baqarah 2:49)

Kiblat sangatlah penting sebagai syarat sahnya sholat. Selain itu, menurut Imam al-Ghazali, salah satu syarat manjurnya doa ialah mustaqbilal qiblah, menghadap arah kiblat. Pantas doa kita sering tidak terkabul karena arah berdoa juga sembarangan. Memang ada yang berpendapat bahwa kemana saja kita menghadap akan bertemu wajah Allah. Tetapi ketika teknologi untuk itu sudah dimiliki, mestinya tidak ada lagi alasan meringankan soal kiblat ini.

Coba perhatikan kamar pada hotel-hotel berbintang di sekitar kita, ada tulisan “West/Kiblat” di atas meja dan plafond kamar. Apakah arah kiblat diidentikkan dengan arah “barat”? Yang lebih memilukan hati di daerah yang mayoritas umat muslim, ada juga yang menyembunyikan tanda arah kiblat dalam laci meja. Astaghfirullaah. Buat pemilik hotel-hotel bila Anda ingin selamat, perhatikan dengan baik dan janganlah mengabaikan tanda arah kiblat pada kamar hotel Anda.

Dahulu, sewaktu alat navigasi masih primitif, dengan melihat arah bintang dan lintasan matahari, tentulah Allah SWT maklum dan mengampuni bila keliru menentukan kiblat. Tetapai kini dengan alat canggih, seperti GPS dan satelit, rasanya tidak pantas kita menggampangkan penentuan arah sholat dengan ikhtisar sekedarnya saja. Kalau awal bulan Ramadhan dihitung mati-matian dengan teknologi tinggi, kenapa  arah sholat diremehkan?

Pengembang atau developer real estate harus melengkapi setiap rumah yang dibangun dengan arah kiblat. Di setiap alun-alun dan lapangan harus dibuat penunjuk kiblat yang besar guna ketepatan arah shalat ied atau sholat istisqa dan acara berdoa massal. Setiap kamar hotel harus dikalibrasi arah kiblatnya. Dan setiap tempat untuk sholat dan berdoa pribadi pun harus memiliki alat penunjuk kiblat portabel, dengan akurasi sampai menit dan detik. Bila ini didiamkan saja, para ulama pimpinan umat dan para ahli teknologi Muslim bertanggungjawab terhadap sahnya sholat, tidak mustajabnya doa, dan makruhnya arah buang air massal miliran umat Islam. Astaghfirullaah.

Akhir artikel ini, kita simak kembali apa yang diusulkan oleh H.Bambang Pranggono, setiap masjid dan mushala di dunia kini harus secara berkala diukur ulang arah kiblatnya dengan teknologi terbaru. Majelis ulama atau dewan masjid harus diberi otoritas untuk mengesahkan sertifikat arah kiblat bagi setiap gedung, masjid dan kuburan. Sebagaimana sertifikat halal bagi makanan dan restoran. Semoga!***

One response to “Arah Kiblat Harus Dikalibrasi?

  1. Alhamdulillah.
    Terima kasih Pak atas segala informasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s