Perkembangan Konsep Quality Control


Ir.Rony Ardiansyah, MT

Dosen Teknik sipil UIR

            Konsep tentang kontrol kualitas pertama kali ditemukan dalam dokumen yang dibuat oleh Raja Hammurabi dari Babylonia (2123-2081 BC). Banyak hukum dan undang-undang yang dibuat pada masa pemerintahnya memiliki aspek pelayanan yang mangacu pada suatu standar tertentu. Salah satu hukum yang dibuatnya dalam bidang konstruksi adalah sebagai berikut; ”The person who build a house which fall down and kills the inmate shall be put to death”, yang artinya kira-kira ; “ Seseorang membangun rumah, dimana rumah tersebut rubuh dan mengakibatkan terbunuhnya si penghuni rumah itu, maka orang tersebut harus dihukum mati”.

            Kalau undang-undang Raja Hammurabi itu diterapkan pada zaman sekarang ini, saya rasa tidak ada orang yang berani menjadi kontraktor, apalagi menjadi seorang pimpro. Lepas dari masalah itu, dalam kesempatan minggu ini penulis ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk melihat perkembangan konsep quality control bersama Ir. Tuti Sumarningsih, MT dosen Magister Teknik Sipil UII Yogyakarta ;

Scientific Management

            Standar kontrol kualitas berkembang pesat di Inggris pada masa Revolusi Industri yang dimulai pada akhir abad ke 18. revolusi industri membawa perubahan yang sangat besar pada kehidupan masyarakat, memacu perkembangan metoda-metoda industri baru, serta merubah hubungan antara pedagang dengan pelanggannya.

            Revolusi industri membuat orang dapat memproduksi barang-barang dalam jumlah banyak dengan mempergunakan mesin. Peningkatan produksi yang sangat pesat pada akhirnya membuat pemilik pabrik tidak dapat lagi mengontrol semuanya secara langsung, sehingga muncul kebutuhan akan adanya manajer. Para manajer ini berusaha keras untuk meningkatkan efisiensi pada organisasi perusahaan. Salah satu pelopor manajemen yang memiliki peran besar adalah Frederick W. Taylor (1856-1915) yang memperkenalkan teori Scientific Management, atau yang sekarang dikenal dengan istilah produksi masal (mass production). Scientific Management didasarkan pada keyakinan bahwa organisasi berlaku seperti mesin, sehingga dapat dioperasikan dengan prinsip-prinsip scientific (ilmiah).

            Perkembangan lebih lanjut dari penerapan konsep kualitas terjadi pada perang dunia pertama. Pada masa ini, banyak pekerja trampil yang pergi berperang dan mati. Pekerjaan yang ditinggalkan kemudian diambil alih oleh wanita, yang tidak memiliki pengalaman dan ketrampilan bekerja. Pekerjaan trampil yang tersisa selanjutnya menjadi pelatih sekaligus manajer. Kondisi pekerja wanita yang tidak memiliki ketrampilan ini mendorong para manajer untuk menyusun standar kualitas yang dapat menjamin bahwa barang-barang yang mereka produksi dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan konsumen.

Eksperiment Hawthorne   

            Berangkat dari teori Scientific Management yang diperkenalkan oleh Taylor, Edwards Deming dan Joseph Juran melakukan penelitian di pabrik elektrik Hawthorne, Chicago, pada tahun 1930. Konsep dasar Scientific Management adalah bahwa organisasi yang terdiri dari orang (pekerja) dapat dioperasikan seperti mesin. Penelitian dilakukan dengan cara mengubah tingkat penerangan di ruang kerja. Dibuat beberapa kelompok pekerja dengan tingkat penerangan ruang yang berbeda-beda. Deming dan Juran berasumsi, bahwa tingkat penerang rendah akan membuat produktivitas pekerja menurun. Namun apa yang terjadi? Porduktivitas pekerja baru berkurang ketika penerangan diturunkan hingga seredup sinar bulan.

Hasil penelitian yang diluar dugaan ini membuat Hawthorne mengundang Elton Mayo dari Harvard University. Mayo memperoleh kesimpulan, bahwa produktivitas pekerja pada ruang yang diturunkan pencahayanya tetap tinggi, karena mereka merasa senang diperlakukan secara khusus. Dengan demikian, produktivitas pekerja tidak hanya tergantung pada kondisi tempat kerja, tetapi juga pada kondisi emosional mereka.

Pendekatan Baru Menuju Manajemen kualitas

            Pada masa sesudah Perang Dunia kedua selesai, orang –orang Amerika dan Inggris mendambakan barang-barang yang memiliki kualitas tinggi. Situasi ini membuat kebutuhan akan penerapan menajemen kualitas semakin meningkat. Dirumuskan adanya dua situasi yang harus dipenuhi jika kualitas semakin suatu produk akan ditingkatkan, yaitu; Pertama, Kualitas harus dikontrol pada keseluruhan rantai, tidak hanya pada tahap yang hanya merupakan pekerjaan evaluasi atas pekerjaan yang sudah berlalu. Kedua, Pekerja harus agar memiliki tanggungjawab atas kualitas pekerjaan yang bisa mereka capai.

            Pada tahun 1986, NATO meluncurkan Allied Quality Assurance Publication I (AQAP-1) ; Quality Control System Requirement for Industry. Kemudian pada tahun 1971 Confederation  of  Bristish Industry (CBI) meminta Bristish Standard Institution (BSI) untuk mempelajari standar yang dapat dipakai pada manufaktur secara umum. BSI mengeluarkan dua buah panduan mengenai standar, yaitu BS 4778 Glossary of term used in quality assurance dan BS 4891 A quide to quality assurance. Sekitar tujuh tahun kemudian, dikeluarkan BS 5750 Quality System yang selnjutnya menjadi standar QA(Quality Anssurance). Pada tahun 1987, BS 5750 diperbaharui dengan merujuk pada ISO 9000 yang merupakan standar mutu internasional. Namanya kemudian diubah pada tahun 1994 menjadi BS EN ISO 9000, yang pada prakteknya disebut ISO 9000 saja.

Pengaruh Jepang Pada manajemen kualitas

            Kekalahan pada perang Dunia kedua membuat Jepang morat-marit. Jenderal mac Arthur menguasai dan mengontrol Jepang. Sebagai hukuman atas agresi Jepang yang mengakibatkan berkobar oerang Dunia kedua., Mac Arthur memecat semua staff manajemen senior dan menengah dibanyak perusahaan. Tindakan Mac Arthur ini justru menjadi landasan bagi revolusi kualitas Jepang. Sebelumnya, di Jepang berlaku masyarakat feodal, dimana jabatan lebih didasarkan pada ketuaan umur. Para menajer baru yang masih muda usia dan memperoleh jabatan tidak berdasarkan sistem lama ini mengubah sama sekali pola manajemen di perusahaan-perusahaan Jepang. Mereka lebih berani mengambil resiko.

            Pada awalnya, Jepang meniru produk-produk Amerika dan Eropa. Barang-barang buatan Jepang dikenal murah dan berkualitas rendah. Tetapi saat ini, barang-barang Jepang memiliki kualitas yang sangat bagus, dengan harga yang tetap lebih rendah dari produk Amerika maupun Eropa.

            Apa kunci keberhasilan Jepang meningkatkan kualitas produktivitasnya? Peter Wickens (1987) yang pernah menjabat manajer personalia di pabrik mobil Nissan mengatakan adanya tiga pilar utama yang menjadi dasar konsep kualitas mereka, yaitu flexibility, quality consciousness, dan teamworking.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s