Ungkapan “Ya’juj Ma’juj”


(Ungkapan Sempurna Dalam Bahasa Cina)

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Peminat Sains Qur’an/Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR

                Firman Allah Taala, “Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, ‘Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka.’ Dzulkarnain berkata, ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. (Al-Kahfi [18]: 93-95).

            Mereka adalah Ya’juj Ma’juj, ada yang berkata, ia bukan nama Arab, ada yang berkata, ia adalah nama Arab, diambil dari ajijun nar yang berarti bergolaknya api, atau dari al-Ajj yang berarti air asin. Apapun begitulah nama mereka yang tercantum di dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi. Mereka adalah sekelompok umat dari Bani Adam, jumlah mereka sangatlah besar.

            Teka-teki nama Ya’juj Ma’juj ini terungkap melalui buku “Munculnya Ya’juj Ma’juj di Asia yang disusun oleh  Syaikh Hamdi bin Hamzah. Jawaban diperolehnya melalui penelitian yang dilakukan secara terus menerus selama beberapa tahun serta perjalanan ke Kepulauan Kiribati (di tengah Samudra Pasifik), Zengzhou dan kota lainya di Cina.

            Berikut ini kita kutip salah satu bagian dialog antara  Syaikh Hamdi bin Hamzah dengan seorang pemandu berkebangsaan Cina bagi rombongan Saudi Arabia. Namanya adalah Huxiao Tian. Ia seorang dosen di Perguruan Tinggi Tin Koa, Shanghai. Dengan harapan berharap mendapatkan ungkapan misteri Dzulkarnain dan juga Ya’juj dan Ma’juj dari pemandu tersebut.

            Setelah menyimak sejarah Cina yang diceritakan sang dosen, Syaikh Hamdi bin Hamzah segera mengajukan pertanyaan mengenai kisah “Ya’juj dan Ma’juj” sesuai bunyi Al-Qur’an dan pada saat itu Syaikh Hamdi bin Hamzah belum mengetahui ucapan kata itu dalam bahasa Inggris; Gog dan Magog, yang mungkin ia pernah mendengarnya.

            Secara mengejutkan sang dosen itu mengatakan sesuatu yang belum pernah terdetik sekalipun di hati  Syaikh Hamdi bin Hamzah; “kata ya’ dalam bahasa Cina berarti sesuatu yang tidak disukai atau sesuatu yang menjijikkan.” Kemudian ia mengatakan, “Tetapi sepertinya itu berarti Benua Asia, jika yang dimaksudkan itu ‘ya’jou’.”

            Setelah ditelaah, tersingkap bahwa Ya’ berarti Asia dan “jou”berarti benua. Ya’jou berarti Benua Asia. Ya’jou diucapkan secara sempurna dalam bahasa Cina sebagaimana bunyi ucapan yang tertera dalam Al-Qur’an: adanya sukun pada alif/hamzah setelah huruf Ya’ dan pemanjangan vokal atau madd, setelah huruf jim, menjadi “jou”. Karena kaget terlalu senang sehingga membuat Syaikh Hamdi bin Hamzah tanpa sadar berteriak hingga, “Allahu Akbar!” Sang dosen pun terlihat agak terheran-heran. Namun dibalik keheranannya, ia tidak mengetahui bahwa dibalik itu semua terdapat suatu temuan yang luar biasa, bukan hanya menyangkut kebenaran i’jazal-Qur’an dan Hadist Nabi, melainkan suatu misteri sejarah yang baru saja terungkap.

            Syaikh Hamdi bin Hamzah saat itu meyakini bahwa “Ya’juj-Ma’juj” merupkan ungkapan sempurna dalam bahasa Cina. Kemudian ia menanyakan arti “ma” dalam kata “ma’juj” dan memperoleh jawaban bahwa hal itu berarti kuda. Dari situlah ia mendapatkan dasar pengertian “Ya’juj dan Ma’juj. Meskipunhuruf jim tidak diucapkan dalam bahasa Cina, akan tetapi dengan ucapan yang menyerupai menjadi “Yajou-Majou”, dan itu bukan merupakan persoalan fatal. Ia mengatakan bisa jadi itu dikarenakan ketidak jelasan pengucapan oleh orang-orang Cina.

            Lalu Syaikh Hamdi bin Hamzah mengumpulkan beberapa kamus Cina-Inggris dan buku-buku sejarah Cina kuno beserta bahasanya sejak zaman dulu hingga saat sekarang. Usaha itu menjadikan ia berkelana ke beberapa negara untuk mendapatkan informasi seputaran negara Thailand, Korea Selatan, Fiji, Kiribati (yang berada di tengah Lautan Pasifik), dan berakhir di Cina yang pada saat itu bertepatan dengan Bulan April 2001.

Pengembaraan itumembuahkan hasil kesimpulan sebagai berikut: Ungkapan “ya’juj dan Ma’juj” dalam Al-Qu’ran pada surah Al-Kahfi dan Al-Anbiya’ merupakan ungkapan fasih dalam bahasa Cina sejak 3330 tahun lalu, saat itu Dzulkarnain/Akhnaton bertemu untuk pertama kalinya dengan bangsa Cina. Surah Al-Kahfi ayat 94 di atas, jika ditafsirkan sejalan dengan pengertian bahasa Cina akan menjadi, “Sesungguhnya para penduduk benua Asia dan Benua Berkuda adalah perusak di muka bumi.”

Pada kenyataannya, bahasa Cina dan pengucapannya sejak zaman dahulu ternyata masih berlaku sampai sekarang. Pengucapan “Ya’juj dan Ma’juj” dalam bahasa itu memiliki kesamaan pengucapan dalam bahasa Arab. Hal itu terkuat ketika   Syaikh Hamdi bin Hamzah melakukan penelitian di Beijing.

Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’an sebagai wahyu kepada nabi Muhammad SAW dengan menggunakan bahasa Arab yang jelas. Namun, adanya ungkapan kalimat Bahasa Cina “Ya’juj dan Ma’juj” menjadikan kepentingan untuk penelusuran dan kontemplasi keilmuan. Hal itu merupakan hikmah Ilahi, yaitu Allah hendak menyuruh kaum muslimin untuk menggali pengetahuan, khususnya berkaitan dengan kalimat tersebut. Allah pun hendak menunjukkan keluasan ilmu-Nya tentang berbagai peristiwa dan bahasa yang berlaku sejak dulu sampai sekarang. Kemudian Dia jadikan dunia lengkap dengan berbagai penghuninya.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s