Mengapa Jembatan Datuk Laksamana Retak?


(Dimuat di Harian Riau Mandiri tahun 2006)

 

Ir. Rony Ardiansyah, MT.

Dosen Teknik sipil UIR/Staf Pengajar Magister Teknik Sipil UII-UNILAK

Cerita tentang bangunan retak sudah hal yang lumrah, berpuluh-puluh pintu ruko retak, bangunan perkantoran juga tidak mau ketinggalan, sampai-sampai bagunan jembatan pun miring dan retak. Dizaman modern ini, dengan teknologinya yang mapan, tenaga SDM yang berkualitas, tetapi mengapa masih banyak bangunan yang retak?

            Memang ada benarnya, bisa jadi penyebab kegagalan bangunan-bangunan ini adalah diakibatkan oleh tanah pendukung yang labil, kualitas material yang tidak memadai, sehingga struktur bangunan miring, retak dan bahkan ada juga yang rubuh.  Tetapi kalau kita hanya pandai meng-kabinghitam-kan kondisi alam yang tak berdosa ini, lalu di manakah peran Rekayasawan kita di kota tercinta ini? 

            Di Jepang sudah dapat dirancang jembatan yang anti tsunami, bahkan bangunan yang berpuluh-puluh lantai masuk kedasar laut itu pun sudah terealisasi. Jangankan jauh-jauh di Propinsi kita saja pun sedang dibangun jembatan-jembatan besar, jembatan Siak Sri Indrapura, dan beberapa jembatan yang melintasi sungai Siak misalnya. Yang perlu menjadi catatan di sini, adalah semua bangunan-bangunan struktural itu juga dibangun diatas tanah yang labil.

            Jembatan Datuk Laksamana, merupakan satu dari kesekian banyak bagunan yang retak di kota ini. Kaki jembatan ini diberitakan miring dan bergeser, sehingga terjadi pemisahkan antara gelagar induk dengan kepala jembatan (abutmen), demikian juga terjadi retak antara struktur tembok penahan tanah dengan kaki jembatan. Terjadinya pergeseran ini juga diberitakan karena labilnya tanah pendukung pada kaki jembatan, yang telah diantisipasi dengan penanaman cerocok-cerok kayu.

            Menurut hasil pengamatan saya; pokok permasalahannya adalah  ”kaki jembatan  miring”  karena tidak aman terhadap ”geser”, yang ditimbulkan oleh tekanan tanah aktif disamping dinding jembatan. Yang perlu dicatat bahwa perbaikan kaki jembatan miring ini ke posisi semula, bukanlah pekerjaan yang gampang, mudah dan murah.

Walaupun tidak begitu rumit, meluruskan kaki jembatan yang miring ke posisi semula boleh dikatakan hampir sama sulitnya dengan menegakkan kembali pogoda-pogoda miring di China, atau Menara Pisa di Paris. Solusi yang lebih ekonomis adalah bagaimana caranya untuk mencegah agar kaki jembatan tidak bergeser lagi, bukan memikirkan bagaimana meluruskan kaki jembatan.

Untuk meng-antisipasi agar kaki jembatan tidak bergeser lagi, bisa jadi dengan proses pembuatan turap pada anak sungai seperti yang disampaikan oleh Kimpraswil dan Pemko Pekanbaru. Tetapi, yang perlu diingat bahwa pergeseran tanah di bawah suatu pondasi itu bergerak ke semua arah, terutama pada arah tanah yang labil. Meskipun  kearah sungai akan diantisipasi dengan turap, tetapi jangan lupa pergeseran tanah ke arah atas ditepi sungai juga cukup berbahaya.

 Solusi lain yang memungkinkan, karena penyebab utama bergesernya kaki jembatan adalah diakibatkan tanah timbunan pada kepala jembatan. Jadi, bisa juga dengan cara mengurangi atau membuang tanah timbunan tersebut, dan diganti dengan struktur bangunan penggantinya.

Sebaiknya tanah timbunan pada kepala jembatan tidak dibebani dulu dengan beban kendaraan, sebelum selesai perbaikan kaki jembatannya. Karena beban kendaraan itu akan berubah menjadi beban ekivalen tekanan tanah aktif tambahan. Jadi, beban kendaraan yang lewat juga mempunyai kontribusi yang cukup besar untuk terjadinya geser pada kaki jembatan.  

Mengenai dari mana anggaran untuk perbaikan jembatan ini. Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru Ir. Noviwaldy (Riau Pos, 31 maret 2006), rencana perbaikan Jembatan Datuk Laksamana di ABT atau APBD perubahan tersebut menurutnya tidak bisa dilakukan. Karena biaya perbaikan ini sewajarnya ditanggung oleh pihak-pihak yang bertanggung-jawab, terjadinya kegagalan bangunan ini.

Kegagalan ini bisa saja disebabkan karena perencana tidak cermat memperhitungkan kesebilitas lereng anak sungai sail, tempat pondasi jembatan di letakkan. Atau bisa jadi kontraktor dan pengawas (bisa juga Kimptraswil) tidak bekerja sesuai dengan bestek yang telah ditetapkan.***

2 responses to “Mengapa Jembatan Datuk Laksamana Retak?

  1. selamat siang pak…saya sudah membaca artikel bapak diatas…saya firdaus,ST dari UMSU medan saya asli rokan hilir riau,,boleh saya bertanya apa tanggapan bapak mengenai kantor bupati rokan hilir yg sekarang katanya terjadi kemiringan hampir 15% di sudut kiri bangunan,,apa itu bisa dikatakan gagal bagunan,,,,dan sampai saat ini pemda rohil tidak berani menumpangi bagunan yg megah tersebut,,,ya kalo benar itu gagal bagunan apa pihak yg berwajib,seperti kontraktor,dan pemda rohil harus mengalokasikan dana APBD nya lagi….sedangkan proyek tersebut sudah Multyers,,,terima kasih…

  2. Terimakasih sdr Firdaus, ST. Penentuan kegagalan bangunan tentu tidak sesimpel itu, harus ditentukan oleh Tim Independen melalui suatu penelitian. Setiap bangunan pasti mengalami penurunan (settlement), yang tidak boleh adalah terjadi: “perbedaan penurunan” (differential settlement). Meskipun penurunannya serentak, harus dalam batas penurunan izin. Untuk bangunan tinggi penurunan izin bisa saja mencapai 15 cm. sekarang persoalannya apakah kantor Buoati Rokan Hilir ini mengalami kerusakan struktur bangunan akibat penurunan atau hal lainnya. Bila terjadi kerudakan struktural karena kegagalan perencanaan atau pelaksanaan konstruksi, tentu boleh saja dikatakan “kegagalan Konstruksi” dan atau “Kegagalan Bangunan”. Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s