Cara Pengadukan & Pemadatan Beton


( Serta Kontrol Mutu yang Baik)

 

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Praktisi  HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia)

            Yth Bapak Pengasuh Rubrik Keamanan Konstruksi. Profesi saya adalah seorang mandor. Dalam mengaduk beton cor, bila volume coran tidak begitu banyak, pengadukan dilalukan dengan tangan atau manual. Bila banyak kami lakukan dengan molen atau mesin. Begitu juga ketika pemadatan coran yang sudah tertuang dalam begisting, dilakukan dengan kayu dan besi, bila volume coran banyak dengan vibrator. Yang mau kami tanyakan: 1. Apa kelebihan dan kekurangannya mengaduk dan memadatkan cara manual dibandingkan dengan mesin? 2.Bagaimana cara Mengontrol mutu beton yang dibuat secara manual? Terimakasih dari Abdul Muttaqin, alamat Jl. Ikhlas gg. Ridho 174 D, PKU,

            Sdr Abdul Muttaqin yang saya hormati. Proses pencampuran antara bahan-bahan dasar beton, yaitu semen, air, pasir dan krikil, dalam perbandingan tertentu disebut proses pengadukan beton. Pengadukan dengan tangan biasanya dilakukan apabila jumlah beton yang dibuat hanya sedikit. Cara ini juga dilakukan apabila tidak ada mesin aduk beton, atau tidak diinginkan suara berisik yang ditimbulkann oleh mesin.

            Caranya, sekalian kontrol mutunya. Mula-mula agregat kasar dan halus dicampur secara kering di atas tempat yang rata, bersih, keras dan tidak menyerap air. Kemudian ditambahkan semen. Pencampuran ini dilakukan sampai warnanya sama. Alat pencampur dapat berupa cangkul, sekop, atau cetok.

            Kemudian di tengah adukan dibuat cekungan dan lalu ditambah air sebanyak kira-kira 75% dari jumlah air yang direncanakan. Adukan diulangi dan ditambahkan sisa air sampai adukan tampak merata. Pada adukan pertama, biasanya dilakukan pengukuran kelecakan (kekentalan).

            Dengan Mesin. Untuk pekerjaan-pekerjaan besar yang menggunakan beton dalam jumlah banyak, pengadukan beton dilakukan dengan mesin pengaduk beton agar leboih homogen dan cepat. Mesin pengaduk beton juga diperlukan jika adukan beton yang dibuat “sangat kental”, karena sulit jika diaduk dengan tangan.

            Cara dan kontrol mutunya. Mula-mula sebagian air (kira-kira 75% dari jumlah air yang ditetapkan) dimasukkan ke dalam bejana pengaduk, lalu agregat halus, agregat kasar, dan semen portland. Setelah diaduk rata, kemudian sisa air yang belum di masukkan ke dalam bejana, dimasukkan ke bejana. Pengadukan dilanjutkan sampai warna adukan tampak rata, dan tampak campurannya juga homogen. Pada adukan pertama, biasanya dilakukan pengukuran kelecakan (kekentalan)

            Sedangkan pemadatan. Pemadatan adukan beton ialah usaha agar sesedikit mungkin pori/rongga yang terjadi di dalam beton, untuk menjaga mutu beton sesuai dengan yang dikehendaki. Pemadatan beton segar ini dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin.

            Pemadatan secara manual dilakukan dengan alat berupa tongkat baja atau tongkat kayu. Adukan beton yang baru saja dituang harus segera dipadatkan dengan cara ditusuk-tusuk dengan tongkat baja/kayu. Sebaiknya tebal beton yang ditusuk tidak lebih dari 15 cm. Penusukan dengan tongkat itu dilakukan beberapa waktu sampai tampak suatu lapisan pasta di atas permukaan beton yang dipadatkan itu. Pemadatan yang terlalu lama dapat mengakibatkan beton kurang padat kembali.

            Pemadatan dengan bantuan mesin dilakukan dengan alat getar (vibrator). Alat getar itu mengakibatkan getaran pada beton segar yang baru saja dituang, sehingga mengalir dan menjadi padat. Penggetaran yang terlalu lama harus dicegah untuk menghindari mengumpulnya agregat kasar di bagian bawah dan hanya mortal (air, semen, dan agregat halus) yang ada di bagian atas. Alat getar yang biasa dipakai ada 2 macam, yaitu; 1. Alat getar tusuk (internal vibrator), ialah alat getar berupa “seperti tongkat”. Alat getar ini digetarkan dengan mesin dan ditusukkan ke dalam beton segar yang baru saja dituang. 2. Alat getar cetakan (form vibrator; external vibrator), ialah alat getar yang ditempelkan di bagian luar cetakan sehingga cetakan bergetar dan membuat beton segar ikut bergetar pula sehingga memadat.***

6 responses to “Cara Pengadukan & Pemadatan Beton

  1. Yth Bapak Pengasuh Rubrik Keamanan Konstruksi.

    profesi saya adalah pemborong, saya ingin menanyakan tentang urutan pengadukan beton yang menghasilkan campuran maksimal dengan menggunakan batching plant manual dengan truck mixer sebagai alat pencampurnya…dari hasil job mix yang kami dapatkan setelah dikonversi dengan bucket loader didapatkan untuk mendapatkan mutu K-300 maka komposisi material yang harus dicampur adalah 2 bucket chipping, 1 bucket pasir, 40 sak semen dan air 800 ltr…untuk mendapatkan hasil maksimal, urutan pemasukan material ke dalam mixer bagaimana pak?

    terima kasih informasinya

  2. Sdr. Berto, yang bisa saya komentari adalah pemakaian semen sebanyak 40 zak atau 2.000 kg dengan jumlah air sebanyak 800 liter. jadi, Faktor Air Semen (FAS) untuk mix design ini adalah 800/2.000 atau sama dengan 0,4. Karena salah satu hal yang sangat menentukan kuat tekan/mutu beton adalah FAS, maka dengan FAS = 0,4 itu sudah memadai. trims

  3. Imran R Sahara, S.Sos

    Yth Bapak Pengasuh Rubrik Keamanan Konstruksi. Saya dari lembaga kemasyarakatan, saya melihat salah satu pembangunan sekolah yang ada di daerah kami belum selesai pembangunan tapi sudah banyak dari dinding-dinding bangunan yang retak bahkan ada yang rubuh, setelah saya selidiki ternyata pembangunannya dalam pengadukan semen banyak menggunakan manual/tidak mengunakan mesin molen, pertanyaan saya 1. Apakah dalam pembangunan sekolah diperbolehkan memakai manual dalam pengadukan semen, 2. bangaimana saya mencegah dan cara memberikan usulan supaya diperhatikan. terima kasih infonya

  4. Yth Bp. Imran R Sahara, S.Sos. Tentu saja harus menggunakan mesin molen agar pengadukannya (mixing) bisa merata. Sebenarnya banyak faktor yang berpengaruh terhadap mutu beton, antara lain: Penakaran (batching); Pencampuran/pengadukan (mixing); Pengangkutan (transporting); Pemadatan (compacting); Penyelesaian (finishing)
    Perawatan (curing). Berikut ini coba kita satu per satu. Penakaran (batching) , meliputi: Proses mengukur proporsi dan material beton sebelum di muat ke dalam pengaduk (mix design). Proses pengukuran yang paling akurat adalah dengan menimbang. Pencampuran/pengadukan (mixing) , meliputi: Pencampuran harus dilakukan cukup lama untuk mendapatkan campuran yang seragam. Waktu pencampuran tergantung jenis pengaduk.
    Berkisar 30 detik untuk jenis pan-type dan jenis reversing drum. Sekitar 3 menit untuk pengaduk free-fall. PBI 89 mensyaratkan minimal 1,5 menit.
    Untuk drum yg berputar dgn kapasitas sampai 1 m3, waktu pencampuran dibutuhkan 1,5 sampai 2 menit setelah semua material masuk. Pengangkutan (transporting) , meliputi: Beton diangkut dengan berbgai cara, mulai dari kereta dorong penuang (dumpers), truk ready-mix, sampai pompa beton. Sedikitnya ada 3 macam gerakan, yaitu dari pengadukan sampai ke lokasi, dari lokasi ke bagian yang dicor secara vertikal dan horizontal.Penuangan, meliputi: Tujuan penuangan: tuangkan beton sedekat mungkin dgn kedudukan akhirnya, dgn secepat dan seefisien mungkin, sehingga pemisahan dapat dihindari dan beton dapat dipadatkan secara penuh. Tuangkan campuran dalam lapisan-lapisan yang seragam.
    Hindari menuang dalam tumpukan yang besar atau miring karena akan terjadi pemisahan. Pada kolom dan dinding, tiap lapisan sebaiknya tidak lebih tebal dari 45 cm. Bila lebih tebal dari itu maka udara akan terjebak dan tidak dapat keluar, biarpun memakai penggetar.Tiap lapisan harus dipadatkan terlebih dahulu sebelum dituangi lagi dengan lapisan baru.
    Hindari terbentuknya sambungan dingin (cold joint) Kolom dan dinding ekspose, kecepatan menuangnya harus lebih dari 2 meter per jam. Pemadatan (compacting) , meliputi: Setelah beton diaduk, diangkut dan dituangkan, ia masih mngandung udara dalam bentuk rongga udara.
    Pemadatan adalah untuk mengeluarkan udara sebanayak mungkin, kalau dapat kurang dari 1 % (tidak termasuk air entrainment).
    Jumlah udara yg terjebak tergantung pada kelecakan beton segar. Beton dengan slump sebesar 25 mm mengandung udara 20%. Itu sebabnya beton denan slump rendah memerlukan pemadatan yg lebih baik.
    Untuk setiap 1% udara, kekuatan akan menurun 5 sampai 6%.
    Rongga udara akan menambah permeabilitas, yg akan mengurangi ketahanan beton. Tidak mampu menghadapi cairan yg gak agresif maupun pelapukan akibat cuaca (weathering), menyebabkan karatan, juga akan mengurangi lekatan beton dgn baja. Perawatan (curing) , meliputi: Jumlah air di dalam beton cair sebetulnya sudah lebih dari cukup (sekitar 12 liter per ak semen) untuk mnyelesaikan reaksi hidrasi. Namun sebagian air hilang karena menguap sehingga hidrasi selanjutnya terganggu.
    Karena hidrasi relatif cepat pd hari-hari pertama, perawatan yg ling penting adalah pada umur mudanya. Kehilangan air yg cepat juga menyebabkan beton menyusut, terjadi tegangan tarik pada beton yg sedang mengering sehingga dpt menimbulkan retak. Beton dirawat sebanyak 7 hri akan lebih kuat sekitar 50% daripada beton tidak dirawat.

  5. muhammad fauzi

    Selamat siang Pak, lulusan fresh graduate teknik sipil universitas sumatera utara, saya ingin bertanya apakah ada persyaratan ketebalan beton minimal untuk penggunaan vibrator ? apakah topping beton tebal 5 cm harus menggunakan vibrator mesin untuk pemadatannya ? terima kasih.

  6. Sdr. Muhammad Fauzi, tujuan menggunakan vibrator adalah untuk pemadatan beton. Tentu beton yang sulit dipadatkan adalah pengecoran yang cukup tebal, sedangkan beton yang tipis saya kira tidak perlu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s