Masalah Sepele Penyebab Banjir


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Pengamat Perkotaan, Dosen Magister Teknik Sipil UIR

                Setiap hujan mengguyur kota, satu per satu titik genangan pun bermunculan bagaikan penyakit cacar yang bermunculan menyebar rata keseluruh tubuh. Baru beberapa menit hujan deras turun, tak jarang pengguna lalu-lintas yang bersepeda motor mendapat hadiah keciprakan air dari mobil yang berlalu-lalang. Maki-memaki antara pengguna lalu-lintas pun mengwarnai semaraknya hujan di tengah kota, begitulah kondisi dramatis di jalan-jalan utama kota Pekanbaru.

            Menanggapi hal ini Kepala Dinas Kimpraswil Pekanbaru pun berusaha membela diri dengan melampar bola panas dan mengatakan, penyebab genangan air tidak lain karena masyarakat juga. Bahwa sampah masyarakat yang dibuang kedalam slokan dan semenisasi jembatan di atas parit yang asal jadi menjadi salah penyebab banjir. Apakah benar penyebab utamanya karena masyarakat juga ?

            Memang persoalan banjir dan genangan di Pekanbaru merupakan permasalahan yang cukup rumit dan pelit, akan tetapi kebanyakan dari titik-titik genangan ini dikarenakan oleh masalah yang simpel. Sebenarnya penyebab utama terjadinya banjir dan genangan di kota Pekanbaru ini atau  70 % genangan dari ratusan titik genangan yang ada hanya disebabkan oleh masalah yang sangat sepele, yakni tidak mengalirnya air pada titik genangan ke saluran yang ada di pingir jalan. Bila diamati dengan seksama pada menit-menit pertama  hujan deras turun badan jalan sudah tergenang sampai beberapa puluh centimeter, sedangkan saluran pembuang terdekat masih kosong melompong karena tidak ada saluruan dari badan jalan ke drainase kota.

            Meskipun benar adanya, bahwa sampah sebagai salah satu penyebab banjir, namun penyebab utamanya genangan kota ini adalah karena buruknya sistem drainase di sepanjang jalan utama kota. Sebaiknya petugas Kimpraswil kota terjun langsung kelapangan dan lakukan survey pada saat hujan turun, dan segera memperbaiki saluran sodetan dari badan jalan kesaluran kota terdekat dan tinjau kembali sistem drainase yang ada sekarang ini.               

       Bila sodetan yang ada di sepanjang jalan sudah mulai tersumbat atau tidak direncanakan khusus untuk bisa segera mengalirkan air badan jalan ke riol kota di sisi kiri kanan jalan, jelas sudah melanggar kaedah sistem drainase. Karena sasaran pembuatan drainase seharusnya bisa segera mengalirkan air hujan/air secepat mungkin keluar dari permukaan jalan dan selanjutnya dialirkan lewat saluran samping, menuju saluran pembuangan akhir.

Selain sampah yang dibuang masyarakat dan sodetan yang tidak beres tadi, genangan juga disebabkan karena tidak adanya saluran crossing jalan. Misalnya di jalan Sudirman depan Awal Bros, jalan menuju air port dekat jalan Adi Sucipto, ketika hujan turun air melintasi permukaan jalan aspal dengan derasnya karena tidak ada gorong-gorong atau box culvert. Tidak jarang air melintasi permukaan aspal ini terhalang oleh median jalan yang salah kapra seperti di jalan Kaharuddin Nasution, sudah jelas jalannya sempit masih dipasang median jalan. Jadi bukan hanya pengguna lalu-lintas yang menjadi amburadul, akan tetapi sampai-sampai air pun bingung harus mengalir kemana. 

Disisi lain. saya kira tidak sedikit anggaran yang dikeluarkan untuk pembuatan drainase perkotaan, tentu dengan satu tujuan utama adalah untuk menghindari terjadinya genangan air permukaan. Penanggulangi drainase di kota Pekanbaru selama ini masih bersifat parsial, artinya sama dengan menyelamatkan tempatnya masing-masing, alias menyelesaikan masalah dengan masalah baru.

            Adapun mengenai masalah konstruksi bangunan drainase itu sendiri juga sama sekali tidak ada keseragaman, jangankan antara satu lokasi dengan lokasi lainnya, pada satu badan jalan yang sama pun dibuat berbeda letak ketinggian tanggulnya. Saya tidak habis pikir, mengapa tanggul-tanggul drainase dikota ini dibuat begitu tinggi dari permukaan badan jalan (30-40 cm). Coba lihat di Jalan Garuda, sampai dengan jalan di depan pasar pagi yang menghubungkan Jalan Durian dengan jalan garuda, serta Jalan Jenderal yang menghubungkan Jalan Soekaroni Hatta dengan Jalan Serayu. Elevasi tanggul menjulang tinggi dari badan jalan, lagi pula yang menarik adalah; elevasi sisi kiri dan sisi kanan mempunyai perbedaan yang sangat menyolok.

            Dengan dibuatnya tanggul yang tinggi itu jelas menghambat aliran air atau sekurang-kurangnya memperlambat aliran air hujan itu, Sehingga air hujan akan di badan jalan yang akan merusak lapisan perkerasan jalan, bahkan dapat merusak lingkungan sekitarnya di sekitar jalan. Konstruksi tanggul yang menjulang tinggi keatas itu adalah pekerjaan sia-sia yang menghabiskan anggaran secara percuma, bayangkan 40 cm pasangan bata+plesteran apabila dikalikan sekian ribu meter, sudah berapa duit yang terbuang dengan percuma?  Bukan hanya itu dengan tanggul yang tinggi itu, seakan-akan memaksa masyarakat untuk menimbun halaman dan pekarang rumah atau tokonya, hal ini terjadi pemborosan yang semestinya tidak perlu terjadi.

            Seharusnya dalam perencanaan saluran drainase harus berdaya ’Guna’ dan berdaya ’Hasil’  (efektif dan efisien), perencanaan drainase harus sedemikian rupa sehingga fungsi fasilitas drainase sebagai penampung, pembagi dan pembuang air dapat tercapai. Disamping itu pemilihan dimensi dari fasilitas drainase haruslah mempertimbangkan faktor ekonomis dan faktor keamanan.

            Selokan di sepanjang badab jalan atau yang dinamakan ”selokan samping” seperti contoh-contoh tersebut diatas harus bisa menampung dan membuang air yang berasal dari permukaan jalan, dan yang berasal dari daerah pengaliran sekitar jalan itu. Dan yang tak kalah pentingnya dalam merencanakan drainase haruslah mempertimbangkan pula segi kemudahan dan nilai ekonomis dari pemeliharaan sistem drainase tersebut.***

2 responses to “Masalah Sepele Penyebab Banjir

  1. sanggat membantu saya..
    mau nnya . .buku ap yang bagus untuk mengupas lebih dlam teori ini?
    terima kasih sbelum nya..

  2. baca saja buku-buku tentang drainase perkotaan atau buku drainase karangan Ir. S.Hindarko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s