Gempa Bumi yang Mematikan


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Dosen Pasca Sarjana Teknik Sipil UIR

                Gempa Tangshan, Cina, 1976. Gempa bumi diyakini sebagai gempa paling mematikan pada abad ke-20. Pada awalnya Cina mengabarkan kepada dunia bahwa jumlah korban meninggal adalah 650.000 orang. Namun kemudian sejak saat itu, berkeyakinan jumlahnya berkisar 240.000 hingga 255.000 orang, angka yang diyakini oleh banyak ahli sebagai terlalu rendah. Dr. George-Carayannis, yang ahli gunung berapi dan gempa bumi yang termasyhur di dunia, mengatakan kepada United Press International (UPI) bawah kira-kira sebanyak 700.000 hingga 750.000 orang tewas dalam gempa bumi ini.

            Setahun sebelum gempa bumi Tangshan, ilmuan Cina menggunakan jaringan stasiun monitor dan perlengkapan yang baru, mereka berhasil meramalkan gempa bumi di Haicheng pada waktunya guna mengevakuasi penduduk, sehingga menyelamatkan nyawa yang tak terhitung bnayaknya. Namun demikian sistem ini gagal pada tahun 1976 dan satu-satunya tanda penundaan gempa bumi berkekuatan 8,3 ini bersifat alami: cahaya eneh tampak di langit, ikan emas melompat dari tangki mereka, ayam-ayam tidak mau makan, dan berlari ke sana kemari seolah-olah berada dalam keadaan panik, kumpulan tikus berlari cepat mencari tempat persembunyian, dan ketinggian air di sumur mulai naik turun secara acak. (Kegagalan pemerintah untuk memperungatkan malapetaka semacam ini dengan semestinya mungkin merupakan alasan mengapa pemerintah Cina terus-menerus berikeras bahwa jumlah korban meninggal akibat gempa bumi itu lebih rendah dibanding apa yang diyakini oleh sebagian besar ahli.

Menurut laporan, pada pukul 3.42 waktu setempat, suatu dataran sejauh hampir sebelas kilometer di bawah permukaan Tangshan mulai bergerak. Gerakan tanah yang kasar ini telah merobohkan 96 dari 100 rumah (total 650.000 rumah), dan 90 dari 100 pabrik.  Pusat pembangkit listrik hidroelektrik hancur, jembatan-jembatan runtuh, tempat penampungan juga menjadi puing. Setiap jalan di wilayah ini telah hancur, dan jalanan yang terentang lebih dari 400 mil (640 km) di daerah ini terkoyak dan tidak bisa digunakan akibat gempa bumi.

Gempa bumi Tangshan tidak membuat orang menjadi takut, dan keputusan untuk membangun kota itu di wilayah yang sama pun ditetapkan. Usaha pembangunan secara besar-besaran membutuhkan waktu hampir sepuluh tahun, dan memakan biaya mendekati $8 juta.

Gempa Kobe, Jepang 1995. Gempa ini disebut sebagai bencana paling mahal sepanjang masa. Yang paling menakjubkan dari kekuatannya adalah bahwa gempa tahun 1995 ini telah menghancurkan dan menewaskan ribuan korban (5.502 orang tewas) yang sama sekali tidak menduganya, dalam waktu sekitar dua puluh detik, dari awal hingga akhir, pada pukul 5.46 pagi hari-gempa bumi terjadi selama 20 detik, dan dibutuhkan waktu selama satu dekade untuk memulihkannya.

Hanya dua puluh detik. Waktu rata-rata yang dibutuhkan oleh para pembaca untuk membaca paragraf pertama dalam bab ini. Nyaris 180.000 gedung di perkotaan telah rusak atau hancur. Di Pelabuhan Kobe, lebih dari 90% dari 187 tambatan kapal di pelabuhan rusak. Hanshin Expressway sepanjang beberapa kilometer telah runtuh di bebrapa tempat. Pada tanggal 25 Januari, sembilan hari setelah gempa bumi menghantam, sebanyak 367.000 rumah tangga di Kobe masih belum memperoleh aliran air bersih.

Gempa Kobe telah menyoroti kerapuhan gedung-gedung dan konstruksi jalan bebas hambatan Kobe, sumber-sumber pengamanan publik dan pemadam kebakaran, juga responnya terhadap bencana. Sejumlah sistem telah gagal; dan banyak juga yang bekerja; sejumlah porgram baru perlu diterapkan.

Gempa dan Tsunami Aceh, 2004. Gempa dahsyat berkekuatan 8,8 skala richter diperkirakan sedikitnya 160.000-230.000 orang tewas dan ribuan lainnya mengalami luka-luka, dinyatakan hilang, serta kehilangan tempat tinggal.Gempa tektonik tersebut terjadi sekitar pukul 8.00 waktu Indonesia Barat yang serta merta meluluhlantakkan sebagian wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Menurut ahli geofisika dari US Geological Survey, Julie martinez, gempa di samudra Hindia ini adalah gempa terdahsyat sejak tahun 1964. Kawasan yang paling parah terkena imbas gempa terbesar sejak 1964 ini adalah asia Tenggara dan Asia Selatan. Daerah tersebut adalah Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Di dua daerah ini saja jumlah korban meninggal diperkirakan mencapai 115.000 orang atau bahkan lebih.

Setelah terjadinya gempa dan gelombang tsunami ini, sebagian besar kalangan terhenyak bukan saja oleh jumlah korban yang ditimbulkan sangat besar. Belakangan ini diketahui juga bahwa wilayah Kepulauan Indonesia mempunyai potensi bencana tsunami yang bahkan jauh lebih besar daripada Jepang. Indonesia dan Jepang sama-sama sering mengalami gempa bumi, longsor, erupsi, vulkanik, dan tsunami karena secara geografis berada di wilayah yang dikenal dengan sebutan The Pasifik Ring of Fire, yang memanjang dari Kamchatka Alaska, Jepang, Sumatera, Jawa, Bali, Lombaok, Flores, Sulawesi, sampai Filipina.

Patahan-patahan Pasifik lebih rentan terhadap gempa tsunami yang sebenarnya mempunyai siklus atau rentan waktu cukup panjang sekitar 100 sampai 250 tahun. Selain itu, posisi Indonesia yang berada di persilangan antara Benua Asia dan Australia, serta Samudra Pasifik dan Samudra Hindia (Indonesia) juga membawa konsekuensi bencana dengan spektrum yang lebih bervariasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s