Sudah Benarkah Pengelolaan Air Buangan?


(Artikel ini pernah dimuat di Harian RiauMandiri)

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Dosen Teknik sipil UIR, Staf Ahli Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia, Staf Pengajar Magister Teknik Sipil UII-UNILAK

            Banyak hal di dunia ini yang berpotensi bagi manusia, sebagai penyebab sakit atau tidak sehat. Salah satunya adalah air buangan. Kekhususan sifat yang dimiliki oleh air buangan yang sudah umum diketahui adalah mengeluarkan bau yang tidak enak, mengganggu kenyamanan dan pemandangan, merupakan media penyakit. Sifat-sifat inilah yang menimbulkan sakit atau kondisi tidak sehat pada manusia untuk itu air buangan harus dikelola dengan benar.

            Pertanyaan yang perlu dijawab tuntas oleh Dinas Tata Kota (Distako) Pekanbaru adalah, apakah sudah benar perencanaan sistem pengelolaan air buangan dalam setiap pemberian IMB? Coba lihat saja berapa banyak pembuangan air bekas ruko/rumah di kota ini yang langsung ke riol kota; berapa banyak ruko/rumah di kota ini yang tidak memiliki tangki resapan, bak penangkap lemak dan sebagainya, limbah (dari septictank langsung dibuang ke riol kota), serta hampir tidak ada bangunan ruko yang mempunyai sistem pengelolaan air buangan yang benar.

            Setiap rumah tinggal akan menghasilkan air buangan, dari dapur, kamar mandi, atau juga dari kloset. Pencemaran lingkungan dan terganggunya kesehatan akan terjadi jika air buangan ini mengalami permasalahan dalam pembuangan dan alirannya. Air buangan di rumah tinggal ada beberapa jenis. Setiap jenis dapat dibedakan dari kondisi ke mana air tersebut akan dibuang. Apa saja yang termasuk dalam air buangan? Berikut ini penjelasannya (Rahayu, 2007) dan beberapa sumber lainya. 

 

Black water

            Air kotor dikenal dengan nama black water. Meskipun buangan dari closet termasuk limbah padat, tetap saja kotoran yang dibuang ada airnya, maka air dari closet termasuk air kotor. Begitu pula air dari bidet dan urinoir, termasuk dalam air buangan dari manusia. Kotoran manusia termasuk dalam golongan limbah padat organik, artinya limbah yang padat membusuk. Kotoran ini harus dibuang ke septictank dan airnya dialirkan ke resapan. Resapan bisa berupa pipa atau sumur. Penghuni rumah kurang dari 25 orang, cukup mengunakan resapan kecil.

Tangki septic (septic tank) sebenarnya serupa saja dengan bak penampungan air kotor, tetapi lebih ditujukan penggunannya untuk menampung air kotor buangan dari bangunan di tempat yang tidak terjangkau oleh riol umum/kota.  Prinsip kerja dari tangki septic adalah mengolah dan memisahkan antara air dengan kotoran dengan cara pengendapan.  Pengolahan dilakukan oleh bakteri anaerobic yang merubah kotoran baku menjadi Lumpur.  Air hasil pemisahan (70% lebih bersih) dialirkan keluar secara gravitasi dan diresapkan ke tanah, sedangkan hasil endapan (Lumpur) harus dibuang secara berkala dengan bantuan layanan mobil tangki air kotor pemerintah setempat.  Dengan demikian tangki septic biasanya terletak di luar bangungan (mudah dicapai mobil tangki) dan tidak ada peralatan pompa yang dipasangkan.

Air bekas yang mengandung sabun atau air bekas pel lantai, hendaknya jangan dibuang ke kloset agar tidak masuk ke tangki septic. Sabun akan membunuh bakteri pembusuk di tangki septic. Akibatnya tangki septic cepat penuh dan berbau. Dalam kondisi seperti ini, tangki septic perlu disedot atau diberi tambahan zat pengaktifan mikrobiologi.

Jarak 10 meter antara tangki septic (septic tank) dan sumur telah menjadi pengetahuan umum dan populer di masyarakat. Alasannya, agar air sumur tidak terkontaminasi dengan air tangki septic oleh bakteri patogen yang dapat mengganggu kesehatan. Alasan demikian tentu tidak salah. Hanya, dalam kenyataannya jarak 10 meter, terutama pada rumah-rumah padat penduduk atau perumahan type RSS, jarak sejauh itu sangat sulit diperoleh. Bisa saja terjadi antara sumur dan tangki septic di suatu rumah berjarak 10 meter, tetapi dengan tangki septic tetangga sebelah jaraknya kurang dari 10 meter.

Munculnya kemestian jarak 10 meter sumur dan tangki septic bermula dari bakteri E-coli patogen (bersifat anaerob) yang biasanya mempunyai usia harapan hidup selama tiga hari. Sedangkan kecepatan aliran air dalam tanah berkisar 3 meter per hari (rata-rata kecepatan aliran air dalam tanah di pulau jawa 3 meter/hari), sehingga jarak ideal antara tangki septic dengan sumur sejauh 3 meter per hari x 3 hari = 9 meter. Akan tetapi, mengapa harus dibuat 10 meter? Dari hasil perhitungan, jarak tempuh bakteri selama 3 hari hanya 9 meter. Adapun angka 10 meter setelah ditambah satu meter sebagai jarak pengaman. Itulah sekilas kisah angka 10 untuk jarak antara sumur dengan tangki septic.

Grey Water

            Siapa yang suka dengan bau dari got rumah? Sudah pasti tidak ada yang mau dan pasti mengeluarkan umpatan. Tetapi itulah yang terjadi. Terlebih di kota-kota besar, dimana limbah buangan dari rumah tangga semakin beragam dan sangat jarang warganya yang mau rajin membersihkannya. Akhirnya, lumpur memenuhi got dan bau menyengat sering tercium.  

            Air bekas atau grey water adalah air buangan yang berasal dari sink dapur, wastafel, floor drain kamar mandi. Air buangan ini termasuk air kotor tetapi bukan berasal dari kotoran manusia. Air bekas dari dapur biasanya masih mengandung lemak, bahkan kotoran berupa sisa makanan dari dapur. Sedangkan air bekas kamar mandi mengandung sabun. Lemak dari air bekas dapur, antara lain berasal dari mentega, santan dan minyak goreng. Lemak ini menempel pada dinding pipa. Semakin lama, tempelan lemak menumpuk akan menjadi kerak yang sulit dihilangkan. Selain memancing tikus untuk datang, tumpukan lemak akan menyumbat.

Solusi mengatasinya, perlu dibuat bak penangkap lemak. Sebenarnya bak ini perlu disediakan di setiap rumah. Pemisahannya bisa menggunakan bak lemak yang terletak di luar bangunan tetapi jauh dari trap. Pada intinya, begitu air keluar dari sink langsung ditangkap oleh bak penangkap lemak.

Storm Water

            Air hujan atau storm water terpisah dari air bekas. Air hujan sifatnya tidak mengandung sabun, lemak, dan limbah padat dari dapur. Air hujan dapat langsung disalurkan menuju buangan akhir. Air hujan harus langsung hilang dan jangan sampai menggenang. Genangan yang banyak akan menjadi banjir. Ini merupakan fenomena yang sering terjadi di perkotaan seperti juga kota Pekanbaru.

Sebagai perbandingan. Program pertama, menarik genangan air hujan ke sistem tata air. Hingga kini Jakarta memakai pola Van Breen (1923) yang dikembangkan pemerintah bersama NEDECO Belanda (1974, 1999) dan JICA Jepang (1997, 2004) menjadi Rencana Induk Pengelolaan Banjir dengan menata 13 sungai dan membangun Banjir Kanal Barat dan Timur. Program ini mencakup pengelolaan daerah aliran sungai, pengerukan berkala kedalaman sungai, serta pemeliharaan situ regulator dan waduk retensi sebagai terminal banjir dalam rangka storm water management.

Cara lain adalah dengan sumur resapan. Sumur resapan adalah salah satu rekayasa teknis konservasi air berupa bangunan yang dibuat sedemikian menyerupai bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu, diisi dengan bahan – bahan resapan (pasir, batu, dan ijuk) secara berlapis sampai rata dengan permukaan tanah yang berfungsi sebagai tempat penampungan dan sekaligus peresapan air ke dalam tanah. Pembuatan sumur resapan upaya memberikan imbuhan air secara buatan dengan cara menginjeksi air hujan sebagai media infiltrasi ke dalam tanah yang dapat diterapkan dikawasan permukiman, pertokoan, industri, sarana dan prasarana olah raga serta fasilitas umum. Adapun tujuan pembangunan sumur resapan untuk mengurangi erosi, menyimpan dan menaikan permukaan air tanah dalam rangka penyelamatan sumberdaya air.***

5 responses to “Sudah Benarkah Pengelolaan Air Buangan?

  1. TIPS MEMILIH SEPTIC TANK RAMAH LINGKUNGAN
    Beberapa jenis septic tank dan cara kerjanya yang dapat menjadi pertimbangan Anda, adalah:

    1. Septic tank konvensional (Bahan Beton – Pakai sumur resapan – Butuh lahan besar)
    Septic tank model ini menampung dan mengendapkan limbah (Minimal 24 jam) dan membiarkannya terurai oleh bakteri secara alamiah, kemudian cairan hasil akhir dari tanki ini akan diendapkan ke tanah melalui sumur resapan khusus. Secara berkala septic tank ini akan penuh (Bau & Tersumbat), sehingga HARUS disedot.

    2. Septic tank biologis (Fiber Bioseptic tank – Tanpa sumur resapan – Ukuran kecil & Praktis – BioSeven mulai 1,2 juta)
    Pada septic tank biologis, limbah akan terurai sampai aman untuk dimanfaatkan kembali, sehingga TIDAK PERLU disedot lagi.
    Saat ini ada beberapa jenis septic tank biologis berbahan fiberglass, dengan sistem biotech, biofilter, biocell, bioseptic, biopori, dll, yang telah beredar di pasaran. Septic tank jenis ini terdiri dari 3 bagian dengan fungsi yang berbeda-beda. Air limbah yang masuk ke septic tank ini akan masuk di bagian pertama, kemudian disaring dan dialirkan ke bagian ke dua, pada bagian kedua limbah diurai oleh bakteri (Media Cell) dan dialirkan ke kotak ke tiga untuk diurai lebih lanjut. Sisa penguraian dari bagian ke tiga akan dialirkan ke luar melalui tabung disinfektan yang mensucihamakan limbah (BEBAS BAU & KUMAN), sehingga aman, tidak mencemari lingkungan dan bisa langsung dibuang kesaluran drainase umum.

    BioSeven Online [HP:0888 0370 8872–JKT(021)50288232-SBY(031)78400430-email@bioseven.co.cc–www.bioseven.net] Green Environmentally Friendly Products

  2. Pak, saya sarankan juga ada gambar serta ukuran
    sehingga memudahkan untuk menerapkannya juga..
    sekaligus tambahan wawasan.
    terima kasih..🙂

  3. kebersihan tu sangat indah, apa lagi dengan benar memelihara lingkungan seperti buang sampah pada tempatnya tentu berhubungan denga pembuangan kotoran dari rumah tangga masing-masing seperti septic tank. itu sangat perlu di terapkan oada masyarakat indonesia. thank you

  4. indra dharmawan

    bagaimana bentuk atau skema gambar utk resapan greywater krn resapan dirumah saya menimbulkan bau got.terima kasih

  5. indra dharmawan | October 8, 2016 at 5:29 am | Reply | Edit
    bagaimana bentuk atau skema gambar utk resapan greywater krn resapan dirumah saya menimbulkan bau got.terima kasih
    Jawab.
    Sdr Indra, skemanya tergantung area lahan, yang jelas seperti keterangan di atas. Solusi mengatasinya, perlu dibuat bak penangkap lemak. Sebenarnya bak ini perlu disediakan di setiap rumah. Pemisahannya bisa menggunakan bak lemak yang terletak di luar bangunan tetapi jauh dari trap. Pada intinya, begitu air keluar dari sink langsung ditangkap oleh bak penangkap lemak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s