Pentingnya Kehadiran Kereta Api di Riau


Ir. Rony Ardiansyah, MT.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik sipil UIR

            Gerbong kereta api yang terletak di Simpang Tiga pekabaru merupakan saksi bisu bahwa, di Kota ini, lebih luasnya di Riau daratan pernah jaya dengan sejarah perkeretaapian. Meskipun kereta api dan jalan rel yang ada dulu adalah sebagai kereta apian barang, seperti kereta api pengangkut bahan tambang yang melalui Logas. Sudah barang tentu kereta api yang kitan nanti-nantikan kedatangannya adalah merupakan kereta api penumpang yang up to date, dengan kecepatan tinggi yang pasti dapat menangkut penumpang dalam skala besar.

            Penantianan panjang kehadiran transportasi darat yang lebih nyaman, yaitu kereta api. Kayaknya tak kunjung tiba jua. Seperti yang pernah diberitakan media masa beberapa  tahun yang lalu, bahwa paling lambat sekitar 2008 mendatang, proses Desain Engineering Detail (DED) rel kereta api selesai dan selesai DED akan segera dilakukan pembangunan fisikmya. Menurut Ir. Feizal Qomar Karim, M. Eng, lokasi-lokasi yang akan dibanguna adalah sebagai berikut; Sintong-Duri sepanjang 70 km, kemudian Pekanbaru-Muaro Padang, Pekanbaru-Logas Kuansing selanjutnya menuju Sawahlunto-Sinjunjung, atau dari Pekanbaru-Pelalawan selanjutnya menuju Logas.

            Selama ini permasalahan-permasalahan transportasi darat pada jalan raya, acapkali menimbulkan kemacetan. Ada dua pokok permasalahan di samping kemacetan, yaitu ”Jalan yang dilalui sering rusak” dan ”kapasitas angkut yang rendah”. Dengan hadirnya kereta api di Riau ini, tentulah diharapkan agar transportasi ini bisa memberikan suatu nilai plus dan mempunyai keunggulan khusus yang tidak tidak dimiliki bentuk transportasi lainnya. Dengan kereta api memungkinkan jangkauan pelayanan transportasi  barang dan orang untuk jarak pendek, sedang, dan jauh dalam kapasitas angkut yang besar. Lebih dari itu, yang sangat diharapkan adalah kehandalan keselamatan perjalanan yang lebih baik dibandingkan dengan bentuk transportasi lain. Hal ini karena kereta api mempunyai jalur tersendiri yaitu berupa jalan rel, dan fasilitas terminal yang tersendiri pula sehingga tidak terpengaruh oleh kegiatan lalu-lintas transportasi non kereta api, yang dengan demikian terjadi konflik dengan jenis transportasi lainnya sangat kecil.

Dalam aspek lingkungan pada umumnya pengaruh transportasi dianggap negatif, yaitu menghasilkan polusi udara, kebisingan, getaran, dan penggunaan energi. Teknologi sarana dan prasarana kereta api terus berkembang termasuk dalam mengatasi masalah polusi, kebisingan dan getaran. Polusi udara, baik oleh gas buangan maupun pertikel dan kebisingan serta getaran oleh kereta api dengan bentuk transportasi kendaraan bermotor darat lainnya relatif kecil, apalagi untuk jenis kereta listrik; terlebih lagi bila dihitung berdasarkan jumlah penumpang/barang yang terangkut.

            Dalam hal pengunaan energi, penggunaan energi kereta api untuk kereta relatif kecil dibandingkan dengan bentuk transportasi yang lain. Penggunaan energi oleh bentuk transportasi dapat dipahami melalui besarnya konsumsi energi Bahan Bakar Minyak (BBM). Seperti yang diungkapkan oleh Ir. Suryo Hapsoro Tri Utomo. Ph.D dalam bukunya ”Jalan Rel”. Untuk kereta api dengan volume angkut 1500 orang, dengan konsumsi energi BBM berkisar 3 liter/km, sehingga memerlukan konsumsi energi BBM 0,002 liter per orannya. Bandingkan untuk pesawat terbang dengan volume angkut 500 orang, dengan konsumsi energi BBM berkisar 40 liter/km, sehingga memerlukan konsumsi energi BBM 0,08 liter per orannya. Sedangkan untuk kapal laut dengan volume angkut 1500 orang, dengan konsumsi energi BBM berkisar 10 liter/km, sehingga memerlukan konsumsi energi BBM 0,006 liter per orannya.

            Besarnya daya yang diperlukan oleh jenis-jenis transportasi untuk memindakan satu ton barang adalah sebagai berikut ini. Pesawat jet misalnya, memerlukan daya untuk memindahkan satu ton barang membutuhkan 300 (tanaga kuda), Truk jalan raya, memerlukan daya untuk memindahkan satu ton barang membutuhkan 20 (tanaga kuda), Kapal laut, memerlukan daya untuk memindahkan satu ton barang membutuhkan 1,5 (tanaga kuda), bandingkan dengan kereta api, memerlukan daya untuk memindahkan satu ton barang membutuhkan 3 (tanaga kuda).

            Akan tetapi yang perlu menjadi catatan disini adalah disamping keunggulan-keunggulan seperti yang telah dikemukakan di atas, kereta api juga mempunyai beberapa kelemahan-kelemahan. Seperti, memerlukan fasilitas sarana dan prasarana yang khusus (tersendiri) yang tidak bisa digunakan oleh bentuk transportasi lainnya. Sebagai konsekwensinya perlu disediakan alat angkut yang khusus yaitu lokomotif dan gerbong. Karena fasilitas sarana dan prasarana yang tersendiri (khusus), maka membutuhkan investasi, biaya operasi, biaya perawatan, dan tenaga yang cukup besar dan pelayanan barang dan penumpang hanya terbatas pada jalurnya.

            Berikut ini saya ingin menyajikan beberapa perbedaan teknis antara ”Jalan Raya” dengan ”Jalan Rel Kereta Api”, seperti yang kita ketahui bahan jalur jalan raya terbuat dari perkerasan fleksibel, perkerasan kaku, atau perkerasan composite, sedangkan bahan jalut jalan rel berupa batang-batang di atas pondasi elastis. Bila lalu-lintas jalan raya bisa digunakan oleh berbagai jenis lalu-lintas, dari pejalan kaki, sampai kendaraan berat, akan tetapi jalur jalan rel hanya disediakan untuk pergerakann kereta api yang terjadwal.

            Karena digunakan oleh berbagai jenis kendaraan, maka kecepatan kendaraan pada jalan raya harus dibatasi, lain halnya dengan  jalan rel karena tidak ada hambatan pada jalurnya, maka kecepatan yang relatif tinggi lebih dapat dicapai. Kendaraan berjalan pada jalan raya menimbulnya gesekan yang tinggi antara roda (karet) dengan permukaan jalan, sedangkan kereta api berjalan kerena adanya gesekan antara kepala rel (baja) dengan  roda baja. Gesekannya relatif rendah, yaitu kira-kira 20% gesekan antara roda (karet) kendaraan pada permukaan jalan raya. Perpindahan jalur jalan raya melalui pertemuan atau persilangan jalan, sedangkan perpindahan jalur pada jalan rel melalui peralatan khusus, dikenal sebagai ”Wesel”.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s