”Stonehenge” Bangunan Tonggak Kuno 5000 Tahun Silam Seberat 26 Ton


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U

Dosen Teknik sipil UIR

Stonehenge yang berada di Provinsi Wilshire, Inggris atau Batu-batu terkenal yang setiap tahunnya dikunjungi jutaan orang tersebut, dibangun pada 5.000 tahun silam. Berat rata-rata tonggak batu tersebut mencapai 26 ton, yang paling tinggi mencapai 10 meter, ketinggian rata-rata di atas 4 meter, ditata dengan bentuk bundar, di atas 2-4 buah tonggak batu yang berdiri tegak yang berdekatan melintang sebuah batu. Stonehadge secara total ada 83 buah batuan, saat ini hanya 3 buah yang telah di-scanning, tim pemeriksa memastikan bahwa setelah semua di-scanning mungkin akan ditemukan semakin banyak benda ukiran. Mereka mengatakan, dengan menggunakan laser berdaya rendah men-scanning tidak akan merusak struktur batu.

Sebenarnya apa kegunaan Stonehenge? Apakah kuil? Ramalan cuaca? Tempat mengubur? Atau digunakan orang dahulu untuk memastikan musim matahari, atau almanak astronomi yang digunakan untuk menghitung periode gerhana matahari dan bulan? Masih merupakan misteri yang tak terpecahkan. Namun, ada setitik keterangan, yakni jika dalam sejarah manusia raksasa itu ada, maka bagi manusia-manusia raksasa akan mudah sekali mendirikan batu-batu yang besar dan mahaberat itu.

Stonehenge pernah dianggap sebagai tempat pendaratan extraterrestrial, bahkan beberapa orang mengaku melihat UFO di tempat itu. Situs yang dianggap tempat keramat bagi penganut agama Celtic kuno itu konon dibangun oleh penyihir Merlin, yang memindahkannya secara gaib dari Gunung Killaraus di Irlandia. Ada pula yang percaya bangunan itu adalah buatan setan.

Namun, penemuan sejumlah arkeolog Inggris belum lama ini menunjukkan bangunan misterius yang dinominasikan menjadi tujuh keajaiban dunia baru itu dibangun oleh sekelompok orang yang tinggal di dekat situs tersebut. Para arkeolog itu menemukan satu kampung yang hanya terdiri atas beberapa rumah kecil dan kemungkinan merupakan tempat tinggal para kuli bangunan yang mendirikan monumen megalitik terbesar di Inggris Selatan itu. Mereka menemukan perkampungan ini ketika tengah mempelajari Stonehenge.

Bangunan ini terbilang unik. Semuanya terbuat dari batu dan berdiri melingkar. Namanya, Stonehenge. Bangunan ini merupakan monumen prasejarah paling ngetop di Inggris. Letaknya ada di Dataran Salisbury, wilayah Wiltshire, Inggris –sekitar 137 km di barat daya London. Kalau dilihat dari ketinggian, batu-batu itu melingkar-lingkar dalam beberapa lapis. Semula, ada juga lingkaran batu-batu pada bagian yang paling luar. Sayangnya, lingkaran itu sekarang hanya tinggal puing-puing.

Di bagian dalam, ada lingkaran yang lebih kecil. Pada bagian utama monumen terdapat trilithons –bangunan ini berupa dua pilar batu dengan sebuah batu terlentang di atasnya yang mirip dengan pola tapal kuda. Di dalam ini, ada juga batu-batu yang lebih kecil, juga dalam bentuk tapal kuda.Tapi, monumen ini lebih dari sekadar kumpulan batu. Ada henge atau parit dan pinggiran sungai yang mengeliling lingkaran batu itu. Ceritanya, Stonehenge ini dibangun sekitar 5.000 tahun yang lalu. Monumen tersebut dibangun dalam tiga tahap selama hampir 2.000 tahun pada periode antara 3000 SM dan 1400 SM.

Untuk membawanya, mereka menyeret satu per satu batu besar itu ke tempat tersebut. Padahal, sebuah batu saja bisa seberat empat ton dengan tinggi sekitar dua atau tiga meter. Ih, kebayang berat banget. Satu lingkaran terdiri atas 80 batu biru. Sebagian batu biru di Stonehenge ini berasal dari Pegunungan Presely di Wales Stonehenge, Wiltshire. Setelah pembangunan berlangsung sekitar 1.300 tahun, konstruksinya makin lengkap. Jajaran batu-batu yang menghadap pada arah sinar matahari terbit akan terlihat sangat indah ketika jarak matahari paling jauh dari garis khatulistiwa. Boleh dibilang inilah bukti ketertarikan orang-orang di masa Neolitikum dan pengetahuan mereka pada astronomi. Ada yang menyebutkan, Stonehenge juga dipakai untuk pemujaan pada matahari.

Penghitungan waktu karbon menunjukkan kampung itu berasal dari 2600 sebelum Masehi, hampir bersamaan dengan periode pembangunan Stonehenge. Parker Pearson menyatakan Piramida Giza di Mesir juga dibangun pada masa yang sama. Namun, sejumlah arkeolog meragukan usia situs itu karena Stonehenge telah beberapa kali direnovasi. Materi arkeologi itu pernah digali dan dipendam lagi dalam berbagai riset, sehingga sulit menentukan kapan konstruksi aslinya dibangun (berbagai sumber).***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s