Seandainya Rembulan Tiada


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Peminat Sains Qur’an/Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR

 

                Marilah kita awali artikel ini dengan berandai-andai. Seandainya Tuhan tidak menciptakan Rembulan. Sedikit-dikitnya Islam berpatokan kepada bulan, puasa lihat bulan, lebaran lihat bulan, sholat lihat bulan. Kalo rembulan ga ada tentu tidak ada lambang bulan bintang pada kubah masjid. Kalo ga ada rembulan ga ada pasang surut air laut. Kalo ga ada rembulan ga bakal ada lagu “di bawah sinar bulan purnama”. Kalo ga ada rembulan ga bakal ada yang ngerayain tahun baru Imlek. kalo ga ada rembulan keseimbangan gravitasi planet bisa terganggu. kalo ga ada rembulan bumi udah lama ancur.

            Bila kita melihat pergelaran sendratari Ramayana di Candi Prambanan saat bulan purnama, pasti kita akan berdecak kagum oleh keindahan suasanannya. Semua orang yang hadir pasti senang melihat tarian megah yang dilatarbelangkangi oleh Candi Prambanan dan rembulan terebut. Keduanya melengkapi tari-tarian agar terlihat semakin cantik dan megah untuk dinikmati.

            Pertanyaannya, apakah para penonton sadar bahwa rembulan yang melatarbelakangi tarian tersebut telah berumur kurang lebih 8 juta kali umur Candi Prambanan dan tariannya? Tepatnya, bulan tersebut dengan setia telah mendampingi planet bumi sejak 4 miliar tahun silam. Judul artikel ini adalah merupakan salah satu dari bagian buku “Menyibak Rahasia Sains Bumi dalam Al-Qur’an”dari Ir. Agus Haryo Sudarmojo, Dai dan Presiden Direktur Murakabi Agung Wijaya (halaman 59-62).

            Seandainya manusia tahu betapa besar manfaat bulan bagi makhluk hidup di atas planet bumi, pastilah mereka akan tersungkur, bersujud, dan terkagum-kagum kepada Sang Pencipta bulan tanpa menghiraukan pergelaran tarian Ramayana. Begitu besarnya nikmat Allah SWT yang dilimpahkan buat umat-Nya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Al-Rahman 55:13).

            Mari kita lihat penelitian yang pernah dilakukan oleh negara adidaya Amerika Serikat. Pada bulan November 1969 saat awak Apollo 12 meluncur dari bulan, mereka memasang reflektor yang mengarah ke bumi. Sesampainya di bumi para peneliti mengarahkan sinar laser ke reflektor tersebut untuk mengukur waktu yang dibutuhkan cahaya untuk pulang pergi ke bulan.

            Percobaan tersebut menunjukkan bahwa bulan berputar menjauh, hingga suatu saat nanti akan menghilang. Kita tidak perlu mencemaskan hal itu selama 15 miliar tahun ke depan, kecuali bila asteroid telah menabrak bulan lebih dahulu.

            Gaya pada pusat bumi dan bulan masing-masing menghasilkan tenaga putaran (torque) pada permukaan bumi dan menimbulkan gaya percepatan pada bulan. Hal ini menyebabkan perpindahan energi putaran dari bumi ke bulan sehingga putaran bumi melambat berkisar 1,5 milidetik per abad, dan mengakibatkan orbit bulan menjauh 3,8 cm per tahun.

            Bulan yang mengitari bumi berdiameter 3.476 km. Ukuran itu sangat besar bila dibandingkan dengan bulan yang dimiliki Planet lain, seperti Photos yang berdiameter 27 km dan Deimos yang berdiameter 15 km. Kedua bulan tersebut mengintari Planet Mars. Bulan kita juga lebih besar daripada bulan Planet Pluto yang berdiameter 2.324 km.

            Pada awalnya bulan hanya berjarak 23.000 km dari bumi, tetapi sekarang bulan berjarak 385.000 km dari bumi. Ini berarti pada masa yang akan datang bulan akan semakin jauh dan akan tampak semakin kecil di langit. Bahkan, suatu saat bulan tidak bisa lagi menutupi matahari saat gerhana.

            Jika bulan tiba-tiba menghilang maka akan diprediksikan dengan mudah bahwa seluruh hari manusia di muka bumi akan mengalami kekacauan. Efek pertama yang akan muncul bersifat sementara, namun sangat dahsyat, yaitu tidak adanya pengaruh kendali dari bulan. Hal itu menyebabkan keadaan laut menjadi kacau seperti dulu sebelum bulan terbentuk. Gelombang air pasang yang dahsyat akan membanjiri seluruh pantai di muka bumi. New York, London, dan Tokyo akan lenyap seperti Atlantis. Dampak gelombang tsunami di sepanjang lembah Lautan Pasifik akan memicu gempa bumi dan membangunkan gunung api. Selama beberapa minggu atau bulan, tornado, angin topan, dan badai salju akan menghancurkan bumi kita. Setelah itu, barulah datang bencana yang sebenarnya.

            Bersamaan dengan menghilangnya bulan, bumi akan terlempar keluar orbitnya karena didorong oleh energi gerak yang masih tersisa sesaat sebelum bulan menghilang. Hal ini mengakibatkan orbit bumi terhadap matahari akan berubah. Kemiringan poros bumi juga akan berubah sehingga mempengaruhi perubahan musim untuk selamanya di muka bumi. Perubahan musim itu tergantung pada seberapa besar kemiringan poros bumi. Kita yang berada di belahan bumi tertentu akan mengalami musim dingin yang membeku. Ada pun di belahan bumi lainnya akan mengalami musim panas yang mendidih. Karena bulan menghilang, cuaca akan berlangsung seperti itu.

            Air laut akan tetap pasang sepertiga kali air pasang sebelumnya, karena air pasang tersebut hanya dipengaruhi oleh gravitasi matahari. Kondisi itu berlangsung stabil tanpa mengalami surut. Selanjutnya, rantai makanan akan terputus satu per satu sehingga membuat bencana bagi makhluk hidup yang ada di permukaan bumi.

            Allah SWT telah menjelaskan kondisi tersebut di dalam Surah Luqman ayat 29.

Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing jalan sampai pada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Luqman 31:29).

            Orang-orang yang mau berfikir akan menyadari bahwa Sang Khalik telah menetapkan bulan dan matahari akan lenyap sampai batas waktu yang ditentukan-Nya. Hal ini sesuai dengan hasil percobaan yang telah dilakukan para ilmuan sejak tahun 1969.

            Bulan memang berputar mengelilingi bumi dan perlahan menjauh hingga suatu saat akan menghilang. Jika Allah menghendaki, bulan akan lenyap dalam waktu dekat karena ditabrak oleh asteroid.

Masihkah kita berani menyombongkan diri di hadapan Sang Khalik, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang telah menciptakan bulan dengan sengaja untuk kita?

Bagaimana senadainya bulan tidak tercipta mendampingi bumi atau tiba-tiba lenyap, apakah manusia mampu menyombongkan diri kepada Sang Khalik? Astaghfirullah…Terima kasih Ya Allah, betapa besar dan tak terhingganya nikmat yang Engkau berikan kepada kami.

Marilah kita selalu mengucapkan Subhanallah dan Allahu Akbar setiap melihat bulan di atas langit yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s