Bangunan Istana Peninggalan Kerajaan Siak


Ir. Rony Ardiansyah, MT. IP-U

Dosen Teknik sipil UIR

                Pada tahun 1970-an, Siak Sri Indrapura merupakan sebuah kota kecil yang trisolir, transportasi sungai yang ada pada saat itu adalah kapal-kapal kayu dengan kecepatan rendah. Jangankan ada transportasi darat, jangankan ada mobil ditengah kota, sepeda motor yang ada paling-paling dua buah itu pun dikejar-kejar oleh anak-anak apabila melintas di jalan raya, yang badan jalannya hanya merupakan perkerasan dari tanah. Satu-satunya jalan yang sudah ter-aspal adalah jalan di halaman dan lingkungan Istana Sultan Siak.

            Sebagai anak-anak kota kecil, kami pun setiap hari pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Bangunan sekolah Taman Kanak-Kanak kami hanya terbuat dari dinding papan beratap seng, letaknya bertepatan di samping bangunan Istana yang Megah. Bukan hanya dinding-dinding sekolah saja yang terbuat dari papan, selain bangunan-bangunan istana, hampir semua bangunan rumah, toko, kantor di kota ini juga terbuat dari papan (kayu) dan beratap seng.

            Begitulah kondisi bangunan-bangunan yang ada di Siak Sri Indrapura yang gelap gulita pada malam hari karena tidak ada lampu PLN. Meskipun hampir setiap hari kami mondar-mandir disekitar bangunan istana, namun tidak terpikir oleh kami, bahwa kami sedang berada di suatu desa yang dulunya merupakan ibu kota kerajaan Siak yang megah, yang mempunyai daerah kekuasaan yang amat luas (termasuk Pekanbaru). Rupanya bangunan-bangunan yang berada di sekitar masa kecil saya adalah bangunan yang teramat sangat tinggi nilainya sejarahnya, bahkan tidak dapat dinilai dengan uang.  

Bangunan istana yang saya kenal pada saat kecil ternyata sampai dengan detik ini masih tetap berdiri kokoh, bahkan seakan-akan lebih kokoh dari dulu. Sisa-sisa kejayaan Kerajaan Siak masih tampak pada beberapa bangunan yang berdiri kokoh di Siak Sri Indrapura, bekas ibu kota Kerajaan Siak yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Siak. Meskipun usianya hampir mencapai dua abad, Istana Sultan Siak misalnya, hingga kini masih dalam keadaan baik, ada pula masjid dan makam Raja-raja Siak.

            Kerajaan Siak merupakan salah satu kerajaan Melayu Islam yang terbesar dan mencapai masa kejayaan pada abad ke-16 hingga 20. Kerajaan yang berpusat di Istana Siak itu didirikan tahun 1723 oleh Raja Kecil yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah. Raja Siak terakhir adalah Sultan Syarif Kasim II yang memerintah sampai tahun 1946. Istana ber-arsitektur paduan Eropa, Arab, dan India, ini berada di tepi Sungai Siak.. Dekat Istana juga terdapat Balai Kerapatan Tinggi, Makam Kotatinggi, dan sejumlah peninggalan kerajaan. Untuk mencapai kawasan itu, dari Pekanbaru dapat ditempuh melalui jalan darat lebih kurang 100 kilometer dengan waktu tempuh hampir tiga jam. Kabupaten ini dapat pula ditempuh lewat Sungai Siak yang lama perjalanannya lebih kurang sama dibanding lewat darat. Tersedia feri cepat yang melayari rute Pekanbaru-Bengkalis, tetapi singgah di Siak.

Kini, sebagai bukti sejarah atas kebesaran kerajaan Melayu Islam di Daerah Riau, dapat kita lihat peninggalan kerajaan berupa kompleks Istana Kerajaan Siak yang dibangun oleh Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889 dengan nama ASSIRAYATUL HASYIMIAH lengkap dengan peralatan kerajaan. Sekarang Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura dijadikan tempat penyimpanan benda-benda koleksi kerajaan antara lain : Kursi Singgasana kerajaan yang berbalut (sepuh) emas, Duplikat Mahkota Kerajaan, Brankas Kerajaan, Payung Kerajaan, Tombak Kerajaan, Komet sebagai barang langka dan menurut cerita hanya ada dua di dunia dan lain-lain. Di samping Istana kerajaan terdapat pula istana peraduan. Dinding Istana dihiasi dengan keramik yang berasal Eropa. Bangunan istana terdiri dari dua lantai, pada lantai dasar terdapat lima ruangan utama, sedangkan di atasnya ada empat ruangan

Istana Siak ini pernah direnovasi karena ada perkiraan terjadi penurunan pondasinya. Pelaksana proyek perbaikan ini dilakukan oleh Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kabupaten Siak, bekerja sama dengan tenaga-tenaga ahli konstruksi dari ITB Bandung. Prosesnya sudah mulai berjalan sejak awal 2004-hingga tahun 2005. Sejak tahun 2002, Pemkab Siak telah menganggarkan dana perbaikan Istana Siak sebesar Rp 2 miliar. Dana sebesar itu hanya cukup untuk mengembangkan tiga bangunan peninggalan utama Kerajaan Siak, yakni Balai Kerapatan Adat, Masjid Syahabuddin, dan Istana Siak.

Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Siak sejak dua tahun terakhir bekerja sama dengan ITB untuk mengkaji kondisi Istana Siak yang mengalami kerusakan di beberapa bagian. Kerusakan yang tengah dikaji secara mendalam adalah keretakan-keretakan di beberapa bagian dinding di lantai atas Istana Siak. “Pengkajian dan renovasi Istana Siak diarahkan untuk tetap mempertahankan kondisi asli dari Istana Siak. Ini dilakukan untuk melihat retak-retak di beberapa bagian dinding lantai dua. Kondisi istana akan tetap dipertahankan bentuk aslinya. ***

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s