Penggunaan Kayu Kampung


Ir.Rony Ardiansyah, MT

Dosen Teknik sipil UIR

            Unsur pekerjaan kayu hampir tidak mungkin bisa diabaikan dalam pelaksanaan suatu proyek konstruksi. Pamakaian kayu untuk bowplank, perancah (stuk), bekisting balok dan pelat lantai, sampai dengan pekerjaan kuda-kuda, kap, plafond, kusen, pintu dan jendela, masih tidak bisa terlepas dari material kayu. Saya sempat terkagum-kagum dengan indahnya dan begitu halusnya lantai  masjid ”Jihadu”di kota Padang Panjang, yang terbuat dari bahan kayu kelapa, di Pekanbaru juga terdapat banyak variasi perlengkapan interior yang terbuat dari kayu macang dengan seratnya yang begitu cantik, bahkan variasi bahan dari kayu macang ini juga dipergunakan untuk interior beberapa hotel di kota Batam.

            Ternyata banyak pilihan kayu sebagai bahan bangunan. Kayu-kayu tersebut, saat ini telah digunakan oleh masyarakat umum tetapi belum diketahui secara baik oleh pelaku jasa konstruksi atau pengembang. Ditinjau dari segi kekuatan kayu-kayu kampung tersebut menunjukkan kelas kayu yang tinggi, rata-rata mampu menahan lentur sampai 725 kg/cm2, dan mengantisipasi kuat desak sampai 500 kg/cm2, berdasarkan hal ini, kayu-kayu kampung tersebut cukup layak dan aman digunakan sebagai bahan bangunan. Apalagi secara estetika rata-rata mempunyai tekstur yang halus dan berserat lurus-berpadu.

            Permasalahn yang muncul kemudian adalah, kekurangan informasi tentang sifat dan penggunaan kayu di kalangan pengguna (pelaku jasa konstruksi dan masyarakat umum) harus diselesaikan, antara lain dengan adanya forum komunikasi antara lembaga penelitian tentang kayu dan hasil hutan, perguruan tinggi, pemerintah (depertemen pertanian-termasuk didalamnya) dengan pelaku jasa konstruksi dan masyarakat umum. Selain itu, publikasi dalam bentuk berbagai macam media cetak (poster, leaflet, buku, koran, dan lain-lain) perlu diciptakan dan ditambah dengan informasi tentang kayu, sifat dan penggunaannya.

            Marilah kita lihat bebarapat informasi tentang sifat dan penggunaan kayu kampung. Informasi ini penulis dapat dari mengikuti seminar sehari tentang Prospek dan kendala bisnis properti di Indonesia yang dilaksankan pada tanggal 15 Juni 2004, di kampus UII Yogyakarta. Dalam makalahnya yang berjudul ”Kayu Kampung Sebagai Alternatif Bahan Bagunan”, Yulianto P. Prihatmaji menjelaskan beberapa sifat kayu kampung dan penggunaanya, antara lain sebagai berikut.

Cassia Siamea lamk

            Kayu Johar atau Besi (cassia Siamea lamk), mempunyai berat jenis rata-rata 0,84 berarti pori-pori dan seratnya rapat sehingga daya serap airnya kecil. Kelas awetnya I, yang berarti mampu bertahan sampai 25 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya I-II, yang berarti mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat desak diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang kecil, daya retaknya tinggi, kekerasannya sangat keras dan bertekstur kasar serta berserat lurus berpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan agak sukar, sehingga hanya diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi saja.

Acacia mangium

            Kayu Akasia (acacia mangium), mempunyai berat jenis rata-rata 0,75 berarti pori-pori dan seratnya cukup rapat sehingga daya serap airnya kecil. Kelas awetnya II, yang berarti mampu bertahan sampai 20 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya II-I, yang berarti mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat desak diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang kecil, daya retaknya rendah, kekerasannya sedang dan bertekstur agak kasar serta berserat lurus berpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah, sehingga banyak diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi maupun bahan meibel-furnitur.

Litsea spp & Dehaasea spp & Cinnamomun spp)

            Kayu Wadang atau Medang atau Perawas atau Huru atau Tubulo(litsea spp & dehaasea spp & cinnamomun spp), mempunyai berat jenis rata-rata 0,67 berarti pori-pori dan seratnya cukup rapat sehingga daya serap airnya sedang. Kelas awetnya III-IV, yang berarti mampu bertahan sampai 10 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya II-V, yang berarti mampu menahan lentur diatas 500 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat desak diatas 300 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang kecil, daya retaknya rendah, kekerasannya lunak agak keras dan bertekstur agak kasar dan agak halus, serta berserat lurus agak bergelombang-berpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah sampai sedang, sehingga banyak diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi.

Fragraea Fragarans Roxb & Fragaea spp)

            Kayu Tembusu atau anan Burma, yellow-Heart atau Atisio Tembusu (fragraea fragarans roxb & fragaea spp), mempunyai berat jenis rata-rata 0,81 berarti pori-pori dan seratnya rapat sehingga daya serap airnya kecil. Kelas awetnya I, yang berarti mampu bertahan sampai 25 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya II-I, yang berarti mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat desak diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang sedang, daya retaknya rendah, kekerasannya sedang dan bertekstur agak halus, serta berserat lurus berpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah sampai sedang, sehingga banyak diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi.

Casuarina spp

            Kayu Cemara atau Eru atau Camara (casuarina spp), mempunyai berat jenis rata-rata 1,11 berarti pori-pori dan seratnya sangat rapat sehingga daya serap airnya sangat kecil. Kelas awetnya II-III, yang berarti mampu bertahan sampai 10 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya I-II, yang berarti mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat desak diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang sedang, daya retaknya sedang, kekerasannya tinggi dan bertekstur agak halus, sehingga banyak diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi.

            Selain kayu jenis diatas, masih terdapat kayu yang layak untuk bahan bangunan. Kriteria kayu yang dipaparkan adalah, syarat kayu dapat digunakan sebagai bahan bangunan adalah kuat, awet, berdimensi besar, mudah cara pengerjaannya dan dapat dibudidayakan (PIKA, 1981). Ditambah lagi oleh jenis-jenis kayu yang sudah dipakai oleh masyarakat, sehingga dapat diketahui keawetan, kekuatan dan kemudahan pengerjaannya dari pengalaman mereka langsung. Jenis kayu lain adalah dari tanaman yang berbuah. Kayu dari jenis ini relatif sulit ditemukan dipasaran karena fungsi utama dari pohon ini adalah diambil buahnya bukan kayunya, sehingga kayunya hanya akan diambil jika pohonnya sudah mulai tidak produktif.

Manilkara kauki Dub

            Kayu Sawo Kecik atau Sawo Jawa atau Sabua K. Timbudo(manilkara kauki dub), mempunyai berat jenis rata-rata 1,03 berarti pori-pori dan seratnya sangat rapat sehingga daya serap airnya sangat kecil dan kalau dimasukkan air kayu ini akan cenderung tenggelam. Kelas awetnya I, yang berarti mampu bertahan sampai 25 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya II, yang berarti mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat desak diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang kecil, daya retaknya rendah, kekerasannya tinggi bertekstur halus, serta berserat lurus agak bergelombang-berpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah, sehingga banyak diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi.

Nephelium Lappaceum L

            Kayu Rambutan (nephelium lappaceum l), mempunyai berat jenis rata-rata 0,91 berarti pori-pori dan seratnya rapat sehingga daya serap airnya kecil. Kelas awetnya III, yang berarti mampu bertahan sampai 10 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya I-II, yang berarti mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat desak diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang sedang, daya retaknya sedang, kekerasannya sedang dan bertekstur agak kasar, serta berserat lurus, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah sampai sedang, sehingga banyak diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi.

Artocarpus Indicus L.F

            Kayu Sukun (artocarpus indicus l.f), mempunyai berat jenis rata-rata 0,40 berarti pori-pori dan seratnya tidak terlalu rapat sehingga daya serap airnya agak besar. Kelas awetnya IV-V, yang berarti mampu bertahan sampai 3 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya III-V, yang berarti mampu menahan lentur diatas 360 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat desak diatas 225 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang sedang, daya retaknya sedang, kekerasannya sedang dan bertekstur agak kasar, serta berserat lurus berpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah sampai berat, sehingga banyak diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi.

Artocarpus Heterophyllus Lamk & Artocarpus spp

            Kayu Nangka atau Naoka (artocarpus heterophyllus lamk & artocarpus spp), mempunyai berat jenis rata-rata 0,75 berarti pori-pori dan seratnya cukup rapat sehingga daya serap airnya kecil. Kelas awetnya II, yang berarti mampu bertahan sampai 20 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya II-I, yang berarti mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat desak diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu kecil, daya retaknya rendah, kekerasannya sedang dan bertekstur agak kasar, serta berserat lurus berpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah, sehingga banyak diminati baik untuk digunakan sebagai bahan konstruksi maupun bahan meubel-furnitur.***

2 responses to “Penggunaan Kayu Kampung

  1. bagaimana dengan kayu kelapa?

  2. Juga bambu? (Kalau tumbuhan itu bisa dikategorikan sebagai kayu).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s