Manusia Memperkosa Lingkungan?


Ir. Rony Ardiansyah, MT.

Pengamat Perkotan/Dosen Magister Teknik sipil UIR

                Bila kita mau sedikit menoleh ke belakang, tak perlu jauh-jauh. Bandingkan saja kondisi lingkungan sekitar kita, apa yang terjadi dengan sungai-sungai sekarang bila dibandingkan dengan tahun 70-an saja. Saat itu, alias dulu. Sungai Siak dan anak-anak sungai di Kota Bertuah ini boleh dikatakan merupakan organisme yang mampu memamak biak benda-benda yang dibuang ke dalamnya dan memberikan pasokan air bersih yang memadai untuk kehidupan makhluk. Sedangkan sungai-sungai masa kini lebih mewujudkan tempat pembuangan sampah yang terbuka, dijelajali dengan limbah industri dan buangan rumah tangga yang tidak mungkin lagi mudah dicerna guna menghasilkan air yang sedikit bersih sekalipun.

               Kisah perjalanan air yang urut dan runtut itu telah memberikan kontribusi yang sangat vital pada daur kehidupan dan pembaharuan sumber daya alam. Sedangkan yang dilakukan oleh manusia, misalnya dengan membuat saluran drainase yang serba lurus dan berlapis semen kedap air, menjadikan air mengalir cepat ke laut, mengingkari fungsi sebagai pemberi kehidupan (life giving role). Selain itu pengaruh negatif yang lain adalah terbawanya lapisan tanah bagian atas yang subur, menipisnya air tanah, dan semakin parahnya banjir kota.

            Marilah kita ikuti kutipan dari tulisan Prof. Ir. Eko Budhiharjo, MSc dan Ir. Sudanti Hardjohubojo, MS dalam bukunya ‘Kota Berwawasan Lingkungan’, sebagai berikut ini. Konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan, dalam perkembangannya sering hadir dan dianggap sebagai kutup negatif, lawan dari pembangunan ekonomi. Keduanya seolah berhadapan secara dikotomis. Konflik ini perlu segera dicarikan toitik keseimbangan (optimal trade off) antara hari kiamat esok (doomsday) atau pertumbuhan ekonomi  nol persen (zero economic growth). Melainkan berupaya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang sekaligus juga selaras dengan pembangunan berkelanjutan.

            “The is no such thing as free lunch”, celoteh Barry Commoner (1971) atau “di dalam dunia fana ini tidak ada barang yang gratis”. Apabila seseorang membuang limbah ke sungai, pada dasarnya orang itu menggunakan sungai tersebut untuk mengangkut limbahnya secara Cuma-Cuma. Mau tidak mau orang lainlah yang akan memikul biayanya, misalnya dalam bentuk menurunnya hasil ikan atau bertambah mahalnya biaya penjernihan air. Inilah yang oleh para ekonom disebut dengan biaya eksternal atau biaya sosial.

            Dalam berbagai kegiatan manusia, terutama di bidang industri, kecuali keuntungan yang diperoleh juga terdapat apa yang disebut dengan ‘hidden cost’ atau ‘biaya tersembunyi’. Salah satu diantaranya adalah dampak negatif jangka panjang akibat pencemaran bahan-bahan kimia terutama B3 (Bahan Beracun Berbahaya) yang berasal dari limbah industri.

            Biaya tersembunyi ini sulit diperkirakan kapaa akan mincul. Namun apabila telah muncul akan menimbulkan suatu ‘kejutan’, misalnya dalam wujud gangguan penyakit atau ‘epidemi’ tertentu. Tidak memperhitungkan biaya sosial dan biaya tersembunyi ini dalam pembangunan, akan berarti menjauhkan tercapainya cita-cita pemerataan hasil-hasil pembangunan.

            Sebenarnya. Sejak zaman primitif manusia telah melakukan ‘serangan’ terhadap lingkungan alam dengan api, air, dan alat-alat buatannya. Akan tetapi sampai sekarang lebih setengah abad yang lalu, serangan tersebut hanya berlangsung pada tempat yang terbatas dan dengan langkah gradual yang pelan. Hubungan manusia dengan alam masih terasa akrab.

            Tetapi hari ini, kegiatan penyerangan manusia telah sampai pada taraf ‘memperkosa’ alam. Kebringasannya memanfaatkan sumber daya alam secara drastis telah melampaui kapasitas proses alami dalam pengembalian kesuburan tanah, yang notabene pembentukannya memakan waktu rubuan tahun. Hubungan manusia dengan alam mulai berubah tidak lagoi akrab tetapi terkesan eksploitatif, nyaris bermusuhan.

            Di Indonesia sendiri, yang terlihat cukup menyolok adalah penebangan hutan untuk ekspor (tanpa diikuti upaya peremajaan yang memadai) dan perluasan kota yang melabar, mencaplok tanah-tanah subur di pedesaan. Polis berkembang menjadi metropolis untuk kemudian membengkak menjadi Megapolis (beberapa kota besar luluh jadi satu) dan Ecumenopolis (negara kota). Akhirnya salah satu akan menjadi Necropolis (kota mayat).

            Tekanan penduduk dan transportasi yang mewadahi pergerakannya mengakibatkan semakin sempitnya lahan yang produktif untuk pertanian dan perkebunan, di samping terbatasnya kemampuan untuk menyimpan air. Hasil penelitian di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa kelahiran seorang bayi tiap 12 detik diikuti dengan lahirnya 1 mobil setiap 5 detik, dan telah mengakibatkan hilangnya 1 hektar lahan pertanian/perkebunan subur setiap menit.

            Kejutan peretama pada manusia, yang menyadarkan akan bahaya ditimbulkan oleh udara kotor, terjadi pada tahun 1952 yang dikenal dengan ‘The Great London Smog’. Kabut maut yang disebabkan polusi sangat besar yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor berbahan bakar bensin, pabrik berbahan bakar batu bara, dan cerobong asap rumah-rumah, juga pabrik industri di mana zat kimia dilepaskan ke udara sebagai bagian prosesnya. Kubah udara hangat ini berfungsi sebagai atap gas yang nyaris tak bisa ditembus, di atas kota London selama lima hari. Selama periode ini, 4000 penduduk London telah meninggal, tua dan muda.

            Asap dan gas panas kelabu atau hitam mudah dideteksi, tetapi gas-gas buangan yang tidak kelihatan karena tidak kelihatan karena tidak berwarna dan tidak berbau, sebetulnya tidak kalah berbahaya. Susahnya lagi, polusi udara tidak mengenal batas yang jelas. Polusi radio aktif dapat bertahan berbulan-bulan di atas atmosfir bumi dan menyebar kemanapun di dunia ini, bisa beribu-ribu kilometer dari sumbernya.

Sehubungan dengan Kabut maut London ini, berikut ini kita kutip ungkapan Charles Dickens, Hard Times, dalam buku ‘100 Bencana Terbesar Sepanjang Masa’ yang ditulis oleh Stephen J. Spignesi yang ungkapannya sebagai berikut ini. “Di kota, mesin-mesin dan cerobong-cerobong asap yang tinggi inilah yang menjadi sang naga asap yang tak bisa dimusnahkan, menjalar selamanya dan tidak akan pernah terurai”.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s