Mengapa Jalan Kotaku Bergelombang?


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Dosen Teknik sipil UIR/Staf Pengajar Magister Teknik Sipil UII-UNILAK/Praktisi HAKI

Artikel ini Pernah dimuat di Harian Riau Mandiri

                Sepanjang jalan kenangan, kita bergandengan tangan. Sepanjang jalan bergelombang, kau peluk diriku mesra, hujan yang titik-titik, menambah nikmatnya malam minggu? Jalan bergelombang kotaku cukup meresahkan si-pemakai jalan, disamping berbahaya juga sangat tidak nyaman untuk dilalui, tetapi lain halnya buat segelintir anak muda yang menurutnya akan menambah ”nitmatnya bermalam minggu”.

Bukan laut saja yang bergelombang, bukan rambut saja yang kriting, tetapi jalan kotaku juga banyak yang bergelombang, keriting dan berlubang permukaan jalannya. Bila ingin tahu coba lewat saja di jalan Arifin Ahmad, goncangan mobil atau sepeda motor terasa melebihi gocongan ferry yang melintasi Selat Malaka. Coba saja lewati jalan Soekarno Hatta, terutama di sekitar depan hotel Ibis. Permukaan jalannya sudah puluhan kali tambal sulam, namun sebanyak itu yang telah ditambal, sebanyak itu pula yang retak dan berlubang kembali. Jalan berlubang di jalan Seokarno Hatta juga, tepatnya di depan Perumahan Damai Langgeng yang sudah berapa banyak menelan korban nyawa, dan ban truk yang acap kali pecah karena bergesekan dengan lubang aspal yang tajam itu.

Mengapa jalan kotaku bergelombang, keriting dan berlubang? Kita tidak perlu lagi mengkaji masalah non teknis yang luar binasa itu atau akibat perbuatan segelintir oknom yang tak bertanggungjawab, mereka bisa saja memakan tanah timbunan, tidak segan-segan mengunyah kerikil-krikil tajam bagaikan kacang goreng, aspal panas yang hitam legam rasanya pun sangat gurih bagaikan Gelamai, sampai-sampai cairan lem aspal yang sangat panas (prime coat dan tack coat) pun bisa ditelan bagaikan Bubur Ayam Jakarta.

Sejak dibukanya lalu lintas, perkerasan jalan kota akan menerima beban lalu-lintas. Akibat beban tersebut, perkerasan akan mengalami penurunan kinerja dan kualitas, yang berarti perkerasan mengalami kerusakan. Bentuk dasar kerusakan bisa berupa: fracture (misalnya: cracking, spalling), distortion (misalnya: permanent deformation, faulting), dan  desintegration (misalnya: stripping, reveling). Jenis kerusakan yang sering dijumpai oleh Bina Marga, berupa: retak (halus, kulit buaya, pinggir, sambungan jalan, sambungan pelebaran, refleksi, susut, slip), cacat permukaan (alur, kriting, amblas, sungkur, jembul), pengausan, kegemukan, dan penurunan di bekas penanaman ultilitas.

Marilah kita telusuri berbagai faktor-faktor teknis yang bisa mengakibatkan kerusakan jalan, sehingga jalan kotaku menjadi bergelombang, kriting dan berlubang. Tanah dasar yang dipadatkan (subgrade) merupakan faktor pertama yang harus diperhatikan, karena lapisan inilah yang mendukung langsung lapisan-lapisan perkerasan lainnya termasuk aspal yang ada dipermukaan jalan. Tanah dasar pada seluruh lebar jalan dan badan jalan dapat berada pada: daerah galian dan timbunan, atau permukaan jalan. Jika tanah setempat jelek, bila tidak diadakan pergeseran lokasi jalan atau diadakan perbaikan tanah maka, jalan itu bakalan bergelombang, retak dan berlubang.

Drainase Kota Pekanbaru terkenal dengan jelaknya. Apabila drainase sekitar badan jalan tidak berfungsi dengan baik maka, air akan masuk ke lapisan perkerasan jalan atau lapisan pondasi bawah (subbase course), dengan naiknya kadar air pada lapisan permukaan, daya ikat berkurang dan melemahnya ikatan batuan. Butiran permukaan yang lepas akibat ikatan yang lemah, akan berkumpul membentuk gundukan-gundukan dan butiran besar akan tampak di antara gundukan tersebut. Selanjutnya permukaan jalan akan tidak rata dan bergelombang.

Struktur lapisan pondasi bawah adalah bagian perkerasan yang terletak antara lapis pondasi dan tanah dasar. Fungsi lapisan ini adalah: sebgai penyebaran beban roda, lapisan peresapan, lapisan mencegah masuknya tanah dasar ke lapis pondasi, dan lapisan pertama pada pembuatan perkerasan. Di atas lapisan ini terletak lapisan pondasi atas (base course), yang merupakan bagian dari perkerasan yang terletak antara lapis permukaan dan lapis pondasi bawah. Fungsi lapisan pondasi atas adalah: sebagai lapis pendukung bagi lapis permukaan, sebagai pemikul beban horizontal dan vertikal, dan sebagai lapis perkerasan bagi lapis pondasi bawah.

Lapisan permukaan (surface course) atau yang kita kenal dengan lapisan aspal, yang dapat dilihat langsung ketika kita melintasi jalan-jalan raya dalam kota. Lapisan ini adalah bagian perkerasan yang paling atas. Sebagai lapisan teratas, lapis ini akan berhubungan langsung dengan roda kendaraan. Untuk fungsi lapis ini dapat meliputi seluruh atau sebagian dari fungsi struktural dan fungsi non struktural. Fungsi struktural, yaitu ikut memikul dan menyebarkan beban ke lapis bawahnya, sedangkan fungsi non struktural, misalnya: kedap air, membentuk permukaan yang rata dan tidak licin, serta sebagai lapisan anti aus.

Bila mutu aspal jelek ketebalan pun tidak memenuhi syarat, maka aspal akan mudah retak dan hancur. Rusaknya lapisan aspal menyebabkan air masuk kedalam lapisan perkerasan yang ada dibawahnya, yang akan merusak dan menghancurkan lapisan pondasi bawah. Maka lapisan aspal harus membentuk permukaan yang rata, agar kendaraan dapat berjalan dan memperoleh kenyamanan yang cukup. Harus juga membentuk permukaan yang tidak licin, sehingga tersedia koefisien gerak (skid resistance) yang cukup, untuk menjamin tersedianya keamaman lalu lintas. Sebagai lapisan anti aus yang berfungsi menahan aus yang selanjutnya dapat diganti lagi dengan yang baru.

Beberapa persyaratan aspal sebagai bahan jalan adalah sebagai berikut. Setelah berfungsu sebagai bahan jalan aspal yang dipilih harus mempunyai kekakuan atau kekerasan (stiffness). Aspal yang dipilihn harus juga mempunyai workabilitas yang cukup dalam pelaksanaan program pengaspalan. Hal ini akan mudah pelaksanaan penggelaran bahan tersebut dan juga memudahkan dalam memadatkan untuk memperoleh lapisan yang padat kompak. Aspal yang digunakan harus memiliki kuat tarik dan adesi yang cukup. Sifat ini sangat diperlukan agar lapis perkerasan yang dibuat akan tahan terhadap: retak/cracking (ditambah oleh kuat tarik), pengulitan/freeting/stripping (ditahan oleh adesi), dan goyah/raveling (ditahan oleh kuat tarik adesi).

Disamping itu. Sifat tahan terhadap cuaca diperlukan agar aspal tetap memiliki tahanan terhadap perubahan cuaca, misalnya konsistensi tidak banyak berubah akibat cuaca, sehingga kondisi permukaan jalan, misalnya konsistensi gesek/skid resistance, dapat memenuhi kebutuhan lalu lintas serta tahan lama (durable). Dan harapan kita agar di masa-masa mendatang jalan kotaku tidak lagi bergelombang, kriting dan berlubang.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s