Jalan Kereta Api Kematian


Ir. Rony Ardiansyah, MT.

Dosen Teknik sipil UIR

Artikel ini sudah pernah dimuat di Riau Pos

 

 Sekitar tahun 1910 Inggris merancang jalur kereta api untuk menghubungkan Thailand dengan Burma (sekarang Myanmar). Jalur kereta api ini melaui Sungai Mae Klong, di  Kanchanaburi. Jembatan di atas sungai Mae Klong, di  Kanchanaburi yang sangat terkenal sebagai ”The Bridge over the River Kwai”, adalah bagian dari jalur jalan kereta api maut ini. Rencana tersebut dibatalkan setelah menyadari banyaknya kendala alam berupa hutan lebat serta tebing curam yang sulit ditembus.  

“… Apa salahnya rencana mereka kita wujudkan,” teriak para jenderal Jepang yang bernafsu menyerbu India. Apalagi, hanya itu satu–satunya jalur yang masih aman dari gempuran Sekutu untuk memindahkan pasukan berikut mengangkut peralatan perang mereka dari Singapura dan Malaya menuju ke garis depan pertempuran di Burma.

Begitu bersemangatnya pimpinan militer Jepang jika pembangunan rel kereta api sepanjang 415 km. Terdiri dari 303 km di wialayah Thailand dan 112 km di wilayah Myanmar, antara Kanchanaburi di Thailand dan Thanbyuzayat di Burma semula direncanakan selesai lima tahun, malah lebih singkat. Jalur tersebut harus rampung satu tahun dengan batas waktu Agustus 1943. Bagaimana caranya, sementara pasukan Jepang sedang sibuk perang? “… Kerahkan tawanan perang Sekutu, bentuk romusa, tenaga kerja paksa.”

Sejak Juni 1942 tidak kurang dari 61.000 tawanan perang berkebangsaan Inggris, Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, Belanda, dan Denmark, ditambah 200.000 lebih romusa(dari sumber B. Kusuma Majalah Konstruksi, berkisar 300.000)  asal Indonesia, China, dan India berangsur–angsur didatangkan.

Jalur kereta api ini, juga dikenal sebagai ”Jalan Kereta Api Kematian”, karena saat pelaksanaan membangun jembatan maut ”The Bridge over the River Kwai”, banyak berjatuhan korban tenaga kerja karena sakit, kurang makan, kelelahan dan penganiayaan, yang mencapai lebih 15.000 orang tawanan. Diantaranya, diperkirakan 3.000 orang Belanda, 100.000 orang tenaga romusa dan 1.000 orang dari pasukan Jepang.

Dengan peralatan seadanya, diguyur hujan, digigit beragam penyakit, dan diimpit kelaparan, mereka dipaksa menebas hutan serta merambah bukit untuk membangun jalan dan jembatan agar jalur kereta api segera selesai. Balok–balok besi pembangun jembatan adalah besi bekas yang dirampas dari Pabrik Gula (PG) Padokan di selatan Yogyakarta (sesudah dibangun lagi, kini menjadi PG Madukismo) karena Jepang saat itu sudah tidak mungkin mendatangkan besi dari wilayah lain.

Dari sumber lain (Julius Pour, Kompas) yang  saya himpun, menjelaskan bahwa di tempat terpencil semacam ini kematian sangat akrab dan setiap hari hadir; penyakit, kelaparan, dan beragam bencana menyebabkan 16.000 tawanan perang Sekutu dan 100.000 lebih romusa menemui ajalnya ketika membangun jalur kereta api antara Kanchanaburi–Thanbyuzayat. Tidak aneh bila akhirnya lintasan tersebut dikenang dengan sebutan Railway of Death, Jalan Kereta Api Kematian. Menurut penghitungan, setiap satu bulan pembangunan merenggut 7.250 korban atau sehari rata–rata 240 nyawa. Dengan kata lain, setiap kilometer jalur kereta api tersebut telah memakan 280 nyawa manusia.

Baru setelah keringat, air mata, sekaligus tetesan darah para tawanan perang serta pekerja paksa terkuras habis, tanggal 25 Oktober 1943 atau molor empat bulan dari rencana awal, pembangunan jalur kereta api penghubung Burma–Thailand dinyatakan selesai dengan upacara pembukaan di atas jembatan Sungai Kwai.

Pada sisi lain, mengingat jembatan tersebut terletak di lembah terbuka tidak tertutup hutan sehingga lebih mudah diserang dari udara, sejak awal pembangunan dan juga setelah selesai, berkali–kali pesawat terbang Sekutu berusaha menghancurkannya.

Jembatan yang dibangun dengan menelan ribuan nyawa manusia tersebut praktis hanya bisa dimanfaatkan Jepang satu tahun lebih sedikit. Pesawat pengebom B–24 RAF Inggris yang diterbangkan Letnan Kolonel Bill Henderson akhirnya berhasil menghancurkan tiga tiang penyangganya pada 2 April 1945. Dengan demikian, jembatan tersebut putus dan otomatis lumpuh.

Perang sudah berakhir di antara mereka. Dengan cerdik, masyarakat dan Pemerintah Thailand memanfaatkan jembatan tersebut sebagai tempat tujuan wisata. Ratusan wisatawan asing dari segala penjuru dunia setiap hari datang menonton jembatan kereta api ini sambil berziarah untuk mengenang kerabat atau rekannya yang tewas. Mereka semuanya dengan bersemangat membanjiri lokasi terpencil yang dulunya berada di tengah hutan lebat, tetapi sekarang tumbuh menjadi kota wisata.

Sekarang Jembatan Sungai Kwai tersebut, sudah direnovasi. Selain tetap digunakan untuk lalu lintas kereta api, menarik banyak pengunjung untuk berjalan kaki menyusuri jembatan tersebut, menyeberangi sungai Kwai. Di sekitar jembatan, dibangun banyak monumen dengan prasasti, yang melukiskan sejarah pembangunan jalan kereta api tersebut.***

3 responses to “Jalan Kereta Api Kematian

  1. Terimakasih pak beritanya cukup informative dan bahasanya juga mudah di cerna, terimakasih pak

  2. Sungguh tidak berperikemanusiaan penjajah itu.

  3. Di Jawa tepatnya di Pekalongan katanya orang dulu juga ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s