Pekanbaru Jangan Menjadi Kota Tanpa Bayangan


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Pengamat Perkotaan/Dosen Pasca Sarjana Teknik Sipil UIR

Hanya sedikit bangunan tua yang tersisa di Pekanbaru, itupun barang kali akan segera tergusur. Seperti Pasar Pusat telah dibangun Komplek Pasar Sukaramai, yang lebih dikenal dengan Plaza Ramayana. Jadi jika ingin bernostalgia dengan Pekanbaru tahun 70-an saja sekarang sudah susah. Dimana lagi Pasar Pusat yang dulu, yang dikenal dengan Blok M-nya Pekanbaru? Mana lagi Bioskop Lativa? Bioskop Asia? Kantor Walikota sebelah Wirabima mana? Semua itu telah lenyap ditelan masa yang tidak peduli dengan jasa zaman.

Kalau dilihat dari posisi perkembangan kota Pekanbaru berawal dari Pasar bawah dekat pelabuhan dimana terdapat ruko-ruko kuno terbuat dari kayu sekarang dipenuhi orang penjual ban Bekas dan pelek Racing. Kemudian di jalan Ir.H. Juanda dibelakang RRI di perempatan jalan Karet, terdapat bangunan berupa penginapan di depannnya tertulis “LOSMEN PAKANBARU” dilosmen itulah barangkali pusat kota Pekanbaru.

Di pasar Lima puluh dulu juga dekat dengan sungai Siak, terdapat terminal kereta api zaman Jepang. Erat kaitannya antara Pekanbaru dengan Sungai Siak, karena dari sinilah transportasi yang paling utama atau gerbang masuk kekota Pekanbaru. Didekat pelabuhan terdapat rumah kepala Bea Cukai. Sedangkan Wirabima yang dulu dan Kantor walikota dulu sudah dibangun Mall Pekanbaru.

Jika anda pernah ada di kota Pekanbaru mungkin anda pernah dengar kata Senapelan. Kata ini sering muncul di kota Pekanbaru; mulai dari nama Kecamatan, nama pasar, nama plaza, nama jalan, Nama Terminal angkot. Sebenarnya nama apakah senapelan itu? Tidak banyak yang tahu.

Sebenarnya kata senapelan itu berasal dari nama sebuah jalan yang terletak antara pasar bawah dan pasar kodim. Kenapa jalan itu bernama senapelan? Orang Belandalah yang memberi nama seperti itu. Jalan itu, yang kini bernama jalan senapelan terletak di bagian kiblat dan sedikit melingkari Masjid raya Pasar bawah tembus melewati RS Tentara kemudian melengkung tembus ke jalan yang sekarang bernama jalan Ahmad Yani, oleh orang Belanda dahulu dinilai jalan yang strategis, jalan yang tersembunyi, tidak kelihatan seperti ada jalan sehingga dapat menyebabkan orang menyelinap atau meloloskan diri sehingga jalan tersebut dinamakan “Ontsnappen overslaan” yang terjemahan bebasnya jalan menyelinap untuk membebaskan diri. Hingga kini nama jalan yang dibuat oleh Belanda tersebut berubah menjadi nama daerah yang dengan logat melayu menjadi Senapelan.

Kota yang tidak lagi memiliki lingkungan lama yang bernilai sejarah atau bangunan kuno yang lazimnya berpenampilan estetis, pada hakekatnya serupa saja dengan kota yang tak punya bayangan. Yang menurut Prof. Ir Eko Budhihardjo, MSc dan Ir. Sudanti Hardjohobojo, MS. Maksud kota tanpa bayangan adalah yang tidak menyiratkan sejarah masa lampaunya, alias tidak punyai sisilah dan tidak memiliki orientasi.

Korban-korban pembantaian dan penggusuran bangunan kuno bersejarah di segenap penjuru tanah air sudah terlalu banyak, dan diharapkan tidak bertambah lagi. Apalagi di Pekanbaru hanya tinggal beberapa bagunan kuno bersejarah lagi, kalau kecenderungan tersebut dibiarkan berlangsung, maka akan lenyap pulalah ciri-ciri khas dan jati diri Kota Pekanbaru yang tercermin antara lain dari keberadaan warisan arsitektur peninggalan masa lampau.

Warisan budaya harus dilihat sebagai asset integrasi suatu bangsa yang dapat beriuran menciptakan kebangsaan nasional. Latar sejarah secara fisik dan visual sepatutnya dijaga jangan sampai hilang atau terkubur bersama aktor-aktor pelakunya. “Old historic building should never die, neither fade away”, begitu kata kaum conservationstis.

Sekedar catatan kecil, Amerika Serikat yang dikenal sebagai  “A nation without a past”, saat ini telah menetapkan lebih dari 5000 kawasan bersejarah dan ratusan ribu bangunan kuno dengan berbagai ragam dan gaya konservasi.

Bila Pekanbaru tidak ingin menjadi kota tanpa bayangan seperti yang dimaksud Prof. Ir Eko Budhihardjo di atas, setidak-tidaknya ada empat syarat yang harus dipenuhi untuk menjamin kelancaran dan keberhasilan program konservasi.

Pertama, kesadaran dan komitmen yang tinggi dari para pejabat pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Kedua, keterlibatan sektor swasta dan pengusaha terkemuka, khususnya dalam penyisihan dana untuk kepentingan pelestarian warisan budaya.

Ketiga, penerapan sistem insentif dan disinsentif atau bonus dan sanksi dalam pelaksanaan program konservasi, misalnya dalam hal perpajakan atau perizinnan bagunan.

Terakhir, tetapi justru yang tidak kalah pentingnya adalah perangkat peraturan dan perundangan yang mantap guna mewadahi tuntutan perkembangan zaman, seperti tututan para wakil rakyat kita.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s