Manusiawikah Kota Ku ?


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Pengamat Perkotaan/Dosen Pasca Sarjana Teknik Sipil UIR


Dulu! Pekarangan bangunan yang luas berumputan hijau tertata rapi yang diselingi oleh pepohonan-pepohonan raksasa tetapi akrab, buah manggis dan rambutan bersemi dengan begitu lebatnya dicelah-celah dedaunan. Rumah berpagar tanaman, berdinding papan dan beratap sirap dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi melalui ventilasi dan jendela rumah, membuat sirkulasi udara yang nyaman dalam rumah kediaman masyarakat kota. Air dalam sumur-sumur gali di samping rumah bisa sebagai tempat bercermin karena jernihnya. Kolom-kolom ikan yang besar yang berisikan ikan-ikan peliharaan pun mengambil posisi di halaman yang luas itu .

Sekarang! Beton, beton, beton lagi, besi baja dan beton lagi. Tak ada yang manusiawi. Semua bentuknya kokoh, dingin, kasar, tak ramah dan pongah dalam balutan duniawi yang mengkilap. Tak ada ruang bagi yang berbaju kumal di sana. Berani mendekat dan seorang lelaki berseragam dengan kumis melintang dan badan kekar akan menendang pantatmu jauh-jauh. Tak ada ruang bagi kalian yang kumal, mungkin begitu sumpah serapah mereka.

Dulu! Jalanan tidak macet, tidak terpolusi oleh berbagai jenis polutan yang bisa berakibat maut. Kereta angin menjadi kendaraan favorit tanpa harus mempergunakan BBM yang langka dan mahal itu. Lalu lintas di jalan raya teratur dan tak pernah kenal macet. Meskipun jalanan belum keseluruhan teraspal, namun istilah pencemaran udara dan asap tak pernah dikenal.

Sekarang! Sementara itu jalan raya beralaskan aspal hitam itu juga ikut-ikutan menjadi makin tidak ramah pada kita pemakainya. Jari-jari di kedua tangan kita serasa tak cukup lagi menampung nama-nama ruas jalan yang pasti macet setiap harinya. Motor makin merajai setiap senti jalanan kita. Sopir-sopir dan para pengendara makin beringas di atas aspal yang kadang tergenang air kala hujan turun. Tak ada tenggang rasa, tak ada sifat mengalah. Jalanan bukan untuk para pecundang dan pengecut. Jalanan adalah metamorfosis rimba raya yang memberlakukan hukum rimba. Yang kuatlah yang menang. Anda takut berebut jalan dengan yang lain ?, pinggirkan kendaraan anda dan tunggulah hingga malam makin pekat agar anda bisa menguasai jalan sendirian. Karena jalan raya bukan tempat buat para pecundang dan pengecut.

Dulu! Banyak tanah lapang buat anak-anak bermain layangan dan sepak bola kara. Sungai-sungai kota masih jernih airnya, bisa dipergunakan tempat mencari ikan cukup untuk lauk sekali makan siang. Sungai yang mengalirkan air yang jernih sebagai tempat yang nyaman dan sehat untuk tempat berenang yang gratis.

Sekarang! Anak-anak kita tak punya tempat bermain selain ke Mall. Setiap hari libur hanya ada satu kata di bibir mereka. Ibarat robot yang telah terprogram. Setiap libur hanya mall dan mall yang mereka tuju. Mereka merengek minta diantar ke mall. Mereka merengek minta diajak bermain ke mall, mereka merengek bahkan untuk hanya sekedar jalan-jalan dan membuat otot kaki kita kaku kecapean.

Dulu! Anak-anak pun membantu orang tuanya mencari nafkah,  sepulang sekolah dengan mendagangkan jajanan. Mereka bisa memahami arti hidup bergotong-royong, masyarakat, tidak tamak, dan bisa saling menghargai di antara sesama anggota masyarakat. Yang mampu mau berbagi rezeki dan yang papah mau berbagi tenaga.

Sekarang! Lantai-lantai mall yang dingin itu akan menjadi guru terbaik bagi mereka untuk makin mengentalkan faham konsumerisme dan kapitalisme pada otak anak-anak kita. Dinding mall yang berwarna warni kadang terbuat dari kaca bening yang tebal dan tinggi itu mengajarkan sesuatu kepada anak-anak kita. Aku takut kalau yang mereka ajarkan itu adalah kerakusan, egoisme dan individualisme. Dan mall itu makin dingin,angkuh dan tidak manusiawi lagi. Parasnya yang elok seakan mencibir pada gerombolan anak-anak berpakaian kumal yang mengaduk-aduk bak sampah dan menawarkan payung kala hujan turun di seputaran mall. Tapi anak-anak kita menikmatinya..

Dulu! Anak-anak bermain kelereng dan kuaci di emperan-emperan teras rumah, tanpa membedakan siapa yang berdarah biru dan siapa yang berdarah hitam. Bermain “Patoklele” dan “Tak Tak” dengan sportivitas yang tinggi, legowo menerima kekalahan, tidak membanggakan diri bagi yang menang, sehingga dapat saling berbagi di antara sesama.

Sekarang! Hampir tak ada ruang luas yang murah bahkan gratis untuk mereka bermain. Hampir tak ada ruang yang luas yang memungkinkan mereka untuk berbagi dengan temannya yang lain,untuk belajar mengalah dan belajar menghargai perbedaan. Hampir tak ada ruang yang luas dengan rumput dan pohonnya yang hijau tempat untuk kami para orang tua yang sedang menunggui anaknya bermain untuk duduk santai di atas rumput dan menggunjingkan kelakuan pejabat yang makin binal dari hari ke hari. Tak ada ruang luas yang hijau dan teduh untuk kami mempelajari demokrasi yang murah atau malah gratis.

Dulu! Sementara Sang Ayah menangkap ikan di sungai-sungai bak nelayan tulen, Sang Ibu pun pergi keladang untuk bercocok tanam, cabe, singkong, kangkung dan bayam bisa dipanen setiap hari.

Sekarang! Sementara itu di berbagai sudut kotaku, ibu-ibu masih sibuk menenteng jerigen-jerigen kosong berbaris dengan tak sabar di sebelah sebuah mobil tangki. Anak-anak kecil menangis bosan di gendongan ibu mereka. Wajah kusut para ibu adalah wajah murung kota kita. Di sudut lainnya, ibu yang lain kebingungan mencari sebuah tabung baja berwarna biru untuk masak siang ini. Warung terdekat memasang harga yang sangat jauh di luar batas kewarasan. Pemilik warung menjadi sangat sombong, lebih sombong dari artis yang dimintai tandatangan oleh para penggemarnya. Tanpa sadar dia telah mencontoh pejabat yang dulu mungkin pernah dibencinya.

Kalender baru saja diganti, tapi aku sudah tahu apa yang kuharapkan dari kotaku. Bukan poster besar dan spanduk lebar bergambar senyum sang walikota yang kami mau. Bukan kata-kata, “ masih Walikota kami yang terbaik”, yang ingin kami dengar. Sudahlah, kami sudah bosan dengan senyum, janji dan manisnya bibir itu. Kami hanya ingin Pekanbaru lebih manusiawi, agar saudara-saudara kita bisa merasakan dirinya sebagai manusia, sama seperti kita. Bukan hanya sebagai sampah yang hanya layak mengaduk-aduk bak sampah. Aku, kamu dan kita semua hanya ingin Pekanbaru lebih manusiawi. Karena sesungguhnya kita cinta Kota Bertuah ini.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s