Bumi Dipersiapkan untuk Manusia


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Peminat Sains Qur’an/Dosen Pasca Sarjana Mgister Teknik Sipil UIR

Saya teringat satu bait lagu cinta anak muda tempoe doeloe, “…………Bukan aku memuji-mu engkau satu di antara seribu”. Bait lagu tersebut di atas adalah memuji sang kekasihnya yang tiada tara, mungkin hanya ada satu di antara seribu. Akan tetapi keberadaan bumi di alam semesta ternyata sangat mengejutkan sekali, bukan lagi satu di antara seribu. Perhitungan kemungkinan untuk menemukan sebuah planet yang mirip dengan planet bumi di alam semesta ini minimal mempunyai perbandingan: 1/1.000.000.000.000 (triliun), dalam sebuah kumpulan 1000 miliar galaksi (gugusan bintang) yang selama ini teramati sains.

Data-data sains hasil penelitian selama berabad-abad menunjukkan bahwa dalam Galaksi Bimasakti yang berisi 100 miliar bintang sangat sulit ditemukan planet lain dengan kondisi seperti bumi. Kumpulan petunjuk ilmiah yang kian berkembang telah mendukung hipotesis ini.

Seorang ahli geologi, Ir. Agus Haryo Sudarmojo mengemukakan pendapatnya dalam buku yang berjudul: Menyibak Rahasia Sains Bumi dalam Al-Qur’an. Pertanyaannya adalah mengapa semua ini bisa terjadi? Apakah hanya karena sebuah kebetulan ataukah ada yang sengaja menciptakannya? Sejauh ini, di antara jutaan bahkan trilunan planet dalam galaksi kita, belum ditemukan planet lain yang benar-benar mirip dengan planet bumi. Jika bumi ini sangat langka, artinya kita sedang memenangkan sebuah “undian kosmis”, dan ternyata kita adalah plenet yang mujur dan kita berada ditempat yang sangat beruntung.

Semua hal di atas menunjukkan sebuah “rancangan cerdas” agar kehidupan berlangsung dan bertahan di Planet Bumi. Sedikit informasi ini pun sudah cukup menunjukkan bahwa keberadaan Planet Bumi bukan karena kebetulan atau terbentuk oleh serangkaian kejadian acak. Allah Swt, telah memaparkan hal tersebut di dalam (QS Al-Dukhan 44:38). Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan hag, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Seorang pakar astronomi, Donald Brownlee (NASA, Stardust Mission) mengemukakan pendapat dalam bukunya yang berjudul Rare Earth: Why Complex Life is Uncommon in the Universe. Menurutnya, ada kesan bahwa semesta ingin membuat planet yang serupa dengan bumi sehingga akan berkembang kehidupan di dalamnya seperti planet kita. Namun, ternyata kondisi alam yang mendukung kehidupan makhluk kompleks, seperti manusia, tumbuhan, dan hewan sangatlah langka di jagat raya.

Bila kita melihat masuk ke dalam orbit tata surya kita, zona yang hanya dapat dihuni oleh makhluk hidup seperti kita ternyata sangatlah sempit, yaitu dalam suatu zona yang disebut sebagai circumstellar habitable zona. Zona tersebut dimulai dari luar orbit Venus dan berakhir sebelum orbit Mars.

Jika posisi bumi 5% saja lebih dekat ke matahari maka Bumi akan mempunyai nasib yang sama dengan venus yang mempunyai efek rumah kaca tidak terkendali, kemudian suhu akan meningkat beberapa puluh kali. Sebaliknya, bila Planet Bumi 20% lebih jauh dari matahari, awan karbon dioksida (CO2) akan terbentuk dalam lapisan atmosfer bagian atasnya. Kondisi ini akan memicu siklus es dan hawa dingin yang pernah memandulkan Mars.

Matahari (sun) sebagai salah satu dari 200 miliar bintang yang ada di dalam Galaksi Bimasakti (Miky Way) ternyata juga berada dalam suatu zona sempit yang disebut Galactic Habitable Zone (Zona Galaksi Tepat Huni). Zona ini kaya dengan unsur-unsur logam, antara lain besi (Fe) dan Nikel (Ni) yang membuat Planet Bumi mempunyai inti dari besi sehingga dapat membuat selubung magnet sebagai pelindung dari ancaman badai magnetik dari matahari.

Bumi lahir saat matahari berumur dewasa kurang lebih lima miliar tahun yang lalu, bukan ketika matahari akan uzur lima miliar tahun lagi untuk meledak dan melenyapkan Planet Bumi.

Pada 65 juta tahun yang lalu sebuah asteroid raksasa menumbuk Planet Bumi. Berdasarkan data sains, kecepatan asteroid ini mencapai 140.000 mil/jam (kurang lebih 2 menit) melintasi benua Amerika). Ketika menumbuk bumi, ia masih sebesar gunung yang memyembul setinggi 35.000 kaki (10.606 m). Ledakan dasyatnya 6 juta kali ledakan Gunung St. Helens, atau 1 juta kali ledakan bom atom Hirosima, sehingga membentuk jejak kawah berdiameter seluas 160 km di daerah Chixulup, Teluk Yucatan, Mexico (sekarang).

Benturan tersebut terjadi di lautan sehingga menyebabkan gelombang tsunami yang sangat dasyat dengan ketinggian beberapa kilometer. Gelombang tersebut menjorok masuk ke daratan benua hingga ratusan kilometer dan mampu menyapu semua benda yang dilewati. Benturan astroid kebumi ini juga menyebabkan guncangan yang sangat dasyat di Bumi. Serpihan batuan asteroid tersebut terlempar hingga ratusan kilometer ke atmosfer, dan jatuh kembali ke bumi karena gaya gravitasi. Peristiwa ini menyebabkan hampir seluruh atmosfer bumi menyala.

Hal ini menyebabkan seluruh tumbuh-tumbuhan mati hampir bersamaan dalam kurun waktu 1-2 juta tahunan. Kematian masal ini diikuti oleh seluruh makhluk keluarga dinosaurus tanpa terkecuali, baik yang pemakan tumbuhan maupun pemakan daging, beserta dua per tiga spesies makhluk hidup lainnya, baik yang hidup di daratan maupun di lautan. Hal ini menyebabkan bumi terasa kosong selama jutaan tahun.

Ternyata jawabannya dapat diketahui puluhan juta tahun kemudian. Berdasarkan data-data palenotologi, kematian dinosaurus manjadi humus “hewani” bagi tanah di daerah tersebut sesudah zaman itu. Tempat punahnya hewan raksasa itu menjadi laboratorium alam terbesar di dunia, yaitu di daerah jura, Amerika Serikat, yang dimanfaatkan sebagai tempat penelitian manusia era modern terhadap kehidupan dinosaurus.

Hal yang paling penting ialah: Bisakah kita bayangkan bila dinosaurus belum punah?  Apa jadinya bila Nabi Adam a.s dan Siti Hawa yang secara terpisah harus keluar dari Jannah (Taman) karena melanggar larangan Sang Pencipta puluhan ribu tahun lalu, harus menghadapi kebuasan dinosaurus pemamgsa daging yang telah menguasai bumi selama ratusan juta tahun? Belum lagi harus bersaing dengan makhluk Homo Neanderthal yang baru punah 30 juta tahun yang lalu.  Hanya kata Subhanallah … Allahu Akbar … yang dapat kita ucapkan atas semua rencana cerdas Allah Swt, tersebut.

Akhirnya. Semua data sains tersebut menggiring kita untuk merenung bahwa Allah Swt, telah mempersiapkan dengan sebaik-baiknya keadaan rumah manusia di Planet Bumi. Allah telah menyambut kehadiran makhluk Homo Sapiens, seperti Nabi Adam a.s dan Siti Hawa, sebagai nenek moyang kita sejak 140 ribu-290 ribu tahun lalu (data Sains).***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s