Benahi Genangan Air Kota Pekanbaru


Persoalan genangan air (istilah populernya; Banjir) kota Pekanbaru, hingga detik ini masih menjadi permasalahan besar kota Bertuah. Miliaran rupiah dianggarkan untuk membenahi drainase perkotaan untuk setiap tahunnya. Tetapi apa kenyataan yang kita hadapi dari tahun ke tahun, tiada lain Kota Pekanbaru bukannya bebas dari banjir dan genangan, namun malahan sebaliknya. Banjir dan genangan tak pernah tuntas dapat diatasi, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, bagaikan menyelesaikan masalah dengan masalah baru. Sampai kapankah banjir dan genangan Kota ini dapat ditanggulangi?

Meskipun Dinas Kimpraswil telah berulang-ulang mengklaim melalui media masa, bahwa dari puluhan titik banjir dan genangan hanya tinggal beberapa titik saja yang belum teratasi. Hingga akhir-akhir ini dinas kimpraswil juga mengadakan pembersihan anak-naka sungai dalam kota. Tetapi apa kenyataannya yang tampak, banjir semakin mengganas naik dan mengalir dengan derasnya dipermukaan jalan raya. Akibat kondisi sistem drainase yang buruk, air pun menjadi bingung mencari tempat yang lebih rendah, sampai-sampai median jalan raya pun terpaksa dibongkar untuk mencegah terjadinya banjir.

Cukup mengherankan juga yaa. Tanpa merasa berdosa kini, kasuddin kimpraswil pun meng-ekspos temuan berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan Kimpraswil bekerjasama dengan Royal Haskoning, konsultan Belanda menemukan 104 titik genangan baru di Kota Pekanbaru (itu pun masih ada ratusan titik yang belum ditemukan).  Semoga identifikasi dan pembuatan peta drainase tidak sekedar identifikasi doang, lebih penting dari itu adalah realisasinya. Jadi, konsultan dari Belanda sekalipun tidak akan ada artinya, bila tidak ada penanganan yang nyata dan tuntas. Apa tidak terbalik, menurut saya bukan konsultan Belanda yang kita butuhkan, seharusnya  manajemen realisasi (pelaksanaan yang nyata) nya dari Belanda-lah yang kita butuhkan.

Debit banjir akan semakin bertambah besar dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, apalagi dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan pesatnya pembangunan berbagai bangunan fasilitas umum, jalan raya, gedung, ruko, mal, dan perumahan elit dan non elit, tanpa memperhitungan resiko kehilangan daerah resapan. Itulah yang menyebabkan koefisien aliran (run off) bertambah beberapa kali lipat dalam setahunnya, secara otomatis debit banjir juga akan bertambah beberapa kali lipatnya.

Sementara itu, Dinas Kimpraswil pun sibuk membenahi titik-titik genangan secara parsial saja. Genangan satu teratasi tetapi tidak lama muncul lagi titik genangan baru, bagaikan gali lubang tutup lubang. Pembenahan lebih difokuskan kepada daerah genangan saja, bukan kepada sistem drainase secara menyeluruh sebagai satu kesatuan. Mulai dari tanggul-tanggul yang menjulang tinggi sebagai penghambat air masuk ke riol kota, drainase tersier, scunder, sampai kepada saluran induk (primer) harus ditangani sebagai satu kesatuan sistem drainase.

Seiring dengan terus bertambahnya debit banjir kota ini, mau tak mau, senang atau pun tak senang, drainase induk yang ada harus segera dibenahi. Darinase induk (primer) yang ada harus segera diperbesar dimensinya, segera dikruk kalau memungkinkan ditambah lebarnya. Tetapi apa kenyataanya, sungai-sungai kota yang ada seperti Sungai Umban Sari, Sungai Air Hitam, Sungai Sibam, Sungai Setukul, Sungai Pengambang, Sungai Ukai, Sungai Sago, Sungai Senapelan, Sungai Limau dan Sungai Tampan, Sungai Sail dan sebagainya semakin hari semakin menyempit oleh endapan dan tumpukan sampah. Pemenahan sungai-sungai pembuang ini berkesan hanya sekedar mempercantik dinding dan tanggul salurannya saja, tanpa diperdalam apalagi diperlebar.

Sungguh disayangkan, pembagunan gedung-gedung disekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) drainase induk ini, nyata-nyata melanggar Perda Nomor 14 tahun 2000. Secara tegas Perda ini menyatakan bahwa; Garis Sempadan Sungai bertanggul ditetapkan dengan batas lebar 5 (lima) meter, dihitung dari tepi lajur pengaman sungai. Apalagi untuk Garis Sempadan Sungai tidak bertanggul yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter ditetapkan 10 (sepuluh) meter, dihitung dari tepi jalur pengaman sungai pada waktu ditatapkan. Tetapi apa kenyataannya, banguan disekitar DAS ini ada yang dibangun dengan jarak 0 (nol) meter dari tanggul sungai. Bahkan anehnya ada juga bangunan yang dibangunan bukan dengan jarak nol meter, tetapi minus (bangunan di atas drainase).

Salah satu penyakit yang memperlambat aliran air pada drainase induk di kota Pekanbaru, adalah penyempitan-penyempitan pada box culvert sebagai crossing jalan.Untuk apa saluran induk yang lebar tetapi pada crossing jalan mengecil, sehingga dengan sendirinya akan memperkecil debit aliran. Hal ini tidak boleh dibiarkan berlarur-larut, box culvert yang ada pun harus segera dibenahi atau ditambah box culvert baru yang terletak berdampingan dengan box cuvert yang ada. Coba kita ingat-ingat, apakah kimpraswil pernah memperbesar (memenahi) box culvert sungai dalam kota lima tahun terakhir ini? Jawabannya singkat dan jelas dan tidak bertele-tele; ”tidak” .

Contah kasus. Seperti genangan di kompleks Perumahan Damai Langgeng kecamatan Tampan, yang setiap saat berlanganan dengan genangan air setiap kali hujan turun, kok sama sekali tidak termasuk salah satu lokasi genangan yang diekspos di media. Padahal Komplek Damai Langgeng khabarnya sebagai tolok ukur penilai perumahan bukan hanya untuk kecamatan Tampan, tetapi sebagai barometer perumahan kota Pekanbaru. Dan penyebabnya pun simple, hanya karena pecahnya gorong-gorong yang tak diperbaiki kimpraswil, tetapi malah diurug begitu saja.

Seharusnya Pemerintah Kota Pekanbaru perlu mengadakan pengamatan-pengamatan, yang dilakukan secara berkala dalam rangka kegiatan Eksploitasi dan Pemeliharaan (E&P) dan pengamatan menjelang datangnya musim banjir, secara teperinci telah dapat diketahui bagian-bagian bangunan pengendalian banjir yang lemah atau kritis. Hasil pengamatan ini hendaknya disusun menjadi daftar inventaris bangunan pengendalian banjir. Berdasarkan daftar Inventaris ini, dapat disusun program pemeliharaan dan perbaikan. Prioritas pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan hendaknya didasarkan pada fungsi bangunan sebagai pengendali banjir.

Beberapa jenis pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan darurat terhadap kerusakan bangunan pengendali yang sering diperlukan, misalnya perbaikan palung dan bantaran sungai. Palung dan bantaran sungai perlu dipelihara agar luas penampang basah dan kecepatan pengaliran tidak berkurang, sehingga kapasitas pengaliran sungai juga tidak berkurang. Pemeliharaan ini berupa pembersihan tanaman keras, bangunan, sampah yang mengendap atau menyangkut pada bangunan silang dan sebagainya.

Tanggul merupakan bangunan pengendali banjir yang membentuk alur sungai, kecuali tanggul Sungai Siak, sungai-sungai kecil lainnya yang menbelah kota Pekanbaru boleh dikatakan tidak dirancang adanya tanggul khusus untuk pengendalian banjir. Langkah awal pengaturan sungai-sungai ini hendakan bagaimana mengupayakan adanya  tanggul-tanggul pengaman meskipun pada lahan atau bantaran sungai yang sempit. Kedudukan poros, ketinggian mercu dan kondisi badan tanggul yang tidak layak, sering menjadi salah satu penyebab terjadinya luapan air sungai keluar palungnya (bayangkanlah bagaimana sungai tanpa tanggul). Oleh karena ini perbaikan tanggul hendaknya dilaksanakan sedini mungkin sebelum kerusakan menjadi semakin parah dan menimbulkan ancaman bahaya yang lebih besar. ***

oleh : Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U

3 responses to “Benahi Genangan Air Kota Pekanbaru

  1. tq pak rony atas ulasannya tentang banjir dan genangan di kota pekanbaru;
    kebetulan tahun ini dinas kimpraswil provinsi riau sedang menyusun masterplan drainase kota pekanbaru….jadi hal2 seperti yg diungkap pak rony tentu sangat bermanfaat bagi kami selaku konsultan

  2. Alhamdulillah sdr. bbpriyambodo, bila artikel saya ada manfaatnya buat orang banyak.

  3. saya jadi tertawa baca comment saya sendiri pak…itu tahun 2010 ya….masterplan yg saya buat adalah masterplan tahap satu meliputi kecamatan tampan dan payung sekaki; masterplan tahap dua tahun 2011 juga oleh provinsi meliputi kecamatan senapelan, sukajadi, limapuluh, sail, marpoyan damai; sekarang 2012 pak…..dilanjutkan oleh pak walikota Firdaus DED di 4 kecamatan yaitu senapelan, sukajadi, pku kota dan limapuluh; DED ini harus saya selesaikan sampai akhir tahun 2012 pak;
    dalam masterplan termasuk pengadaan fotoudara 1:2000 pak….jadi kota pekanbaru sudah punya peta 1/2000 yang amat rinci untuk menata aliran airnya/drainase dan petanya dapat digunakan oleh seluruh instansi di kota pekanbaru
    mohon masukan dari pak Camat Senapelan, Sukajadi, PKU Kota dan Limapuluh tentang daerah-daerah genangan banjir; pompanya di pinggir siak (senapelan, sago dan tj.datuk) masih berfungsi nggak ya?
    salam dari bandung/bbpriyambodo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s