Category Archives: Artikel Teknik Sipil

Sanksi Kegagalan Pekerjaan Konstruksi

Ir.Rony Ardiansyah, MT

Dosen Teknik sipil UIR

            Sesuatu kebiasaan yang tidak terpuji tentang masalah kegagalan konstruksi di suatu proyek, pihak-pihak yang terkait selalu ada cara untuk  memilih langkah-langkah mengamankan dan menyelamatkan orang-orangnya yang terlibat dari pada mengamankan atau menyelesaikan masalah-masalah itu sendiri. Tidak jarang kondisi alamlah yang dikambing hitamkan untuk menyelamatkan kecerobohan dan kelalaian manusia-manusia yang seharusnya bertanggung jawab dalam kegagalan konstruksi tersebut.

            Padahal kita telah memiliki peraturan-peraturan dan per Undang-undangan yang baik, semestinya semua pihak yang terlibat harus sudah mulai menyadari pentingnya mengikuti aturan Undang-Udang (UU), bukan sibuk meyelamatkan diri dengan mengorbankan kepentingan negara dan bangsa ini atau demi penyelamatan diri yang mengorbankan kepentingan orang banyak.

            Marilah kita lihat bunyi pasal-pasal yang berkaitan dengan sanksi kegagalan konstriksi menurut UU RI No.18 tahun 1999 dan PP RI No.29 tahun 2000, antara lain sebagai berikut;

  Continue reading

”Begel” Penahan Geser Yang Tak Bisa Disepelekan

Ir. Rony Ardiansyah, MT.

Dosen Teknik sipil UIR

Secara umum, gaya geser dapat dikatakan sebagai gaya yang bekerja dengan arah tegak lurus terhadap bidang komponen struktur. Dalam mendesain suatu struktur bangunan, kekuatan geser harus diperhitungan dengan cermat, karena tidak jarang penyebab kegagalan bangunan yang disebabkan oleh gaya geser.

Dua lembar papan disusun berhimpitan yang digunakan sebagai titian untuk menyeberangi suatu slokan, kemudian diberi paku secukupnya untuk memperkaku kedua lembar papan tersebut. Apakah ada perbedaan kekuatannya, antara dua lembar papan yang dipaku dengan yang tidak dipaku?

Ternyata papan yang dipaku itu mempunyai kekuatan empat kali lebih besar dibandingan dengan dua lembar papan yang tidak dipaku, karena momen inersia papan yang dipaku itu empat kali juga lebih besar dari dua lembar papan yang tidak dipaku. Jadi, pada dua lembar papan yang tidak dipaku akan timbul gaya geser diantara kedua lembar papan itu, maka fungsi paku disini adalah sebagai penahan gaya geser.

Continue reading

Arti Angka-Angka di BOW

Ir. Rony Ardiansyah, MT.

Dosen Teknik sipil UIR

            Angka-angka atau koefisien yang terdapat dalam buku Analisa BOW yang selama ini masih dipergunakan dalam dunia jasa konstruksi terdiri dari 2 kelompok, yaitu; pecahan-pecahan/angka-angka satuan untuk bahan, dan pecahan-pecahan/angka-angka satuan untuk upah. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan dalam menyusun harga satuan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

            Dengan tulisan ini penulis mengajak kita untuk melihat kebelakang tentang bagaimana caranya orang mendapatkan angka-angka satuan, yang dipakai buat mengkalkulasi bahan-bahan dan upah yang diperlukan. Artikel ini juga bisa menjadi referensi untuk para mahasiswa teknik sipil, yang berminat untuk melakukan penelitian tentang koefisien bahan dan upah pada zaman yang serba canggih ini.

            Sampai saat ini sebagian besar orang hanya tahu memakainya saja, tanpa mengetahui dasar-dasar apa yang diambil dalam menentukan koefisien-koefisien yang terdapat dalam daftar analisa tersebut. Demikianlah menurut Ir. J.A. Mukomoko, dalam bukunya (Dasar-Dasar Penyusunan Anggaran Biaya).

Continue reading

Pasal-Pasal KUH Perdata yang Berkaitan Dengan Kontrak JAKON

Ir.Rony Ardiansyah, MT

Dosen Teknik sipil UIR

            Banyak sekali pasal-pasal dalam kontrak Jasa Konstruksi (JAKON) yang bunyinya identik dengan bunyi pasal-pasal Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata), sebagai contoh; “Semua kenaikan harga dan upah selama masa pembangunan menjadi tanggung –jawab pihak kedua sepenuhnya. Dalam hal memasukan penawaran, pihak kedua telah memperhitungkan kemungkinan ini. Kenaikan harga tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan kualitas pekerjaan”identik dengan pasal 1610 KUHP.

          Bunyi kontrak yang sering dijumpai identik dengan bunyi KUHPerdata pasal 1613 adalah ; “Pihak Kedua bertanggung jawab atas segala kerugian Pihak Pertama sebagai akibat perbuatan orang-orang yang dipekerjakan olehnya “. Dan yang identik dengan pasal 1612 KUHPerdata adalah ; “Apabila akibat dari adanya keadaan Force Majeure pekerjaan terpaksa harus dihentikan dan tidak dilanjutkan lagi, maka kepada kontraktor akan dibayarkan harga sebesar prestasi pekerjaan yang telah dikerjakan dan telah diterima. Kontraktor tidak berhak mengajukan tuntutan-tuntutan lain misalnya ganti rugi, dan sebagainya.

Pasal-pasal pada KUH Perdata yang berkaitan dengan perjanjian pekerjaan pemborongan Jasa Konstruksi (JAKON), misalnya pasal 1604 s/d 1617 dan pasal 1831, 1837, yang cukup membantu mengatasi permasalahan dunia pekerjaan pemborongan. Pada kesempatan minggu ini akan kita lihat satu per satu isi dari pasal-pasal 1604 s/d 1617 tersebut diatas, sebagai berikut ;

  Continue reading

Metode Pekerjaan Struktur Bawah Gedung

(metode konvensional, metode top-down, dan metode semi top-down)

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Praktisi  HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia)

Pertanyaan:

Dalam melaksanakan pembagunan gedung bertingkat atau bertingkat banyak kita kenal dengan beberapa metode pelaksanaan. Mohon jelaskan apa perbedaan: Sistem Konvensional, Sistem Top Down, dan Sistem Semi Top Down. Apa yang dimaksud dengan tiang King Post pada sistem Top Down?

Jawab:

Keberadaan bangunan sekitar gedung memberikan andil dalam proses penentuan metode pelaksanaan struktur bawah. Hal tersebut disebabkan oleh adanya pengaruh pergerakan tanah sekitar, kebisingan dan debu sering menjadi hambatan dalam pelaksanaan pekerjaan struktur bawah gedung. Metode pekerjaan struktur bawah gedung ini terdapat beberapa jenis. Penggolongan metode pekerjaan berdasarkan arah kerjanya dibagi menjadi tiga yaitu metode konvensional, metode top-down, dan metode semi top-down. Berikut dijelaskan mengenai metode-metode tersebut:

Continue reading

Perkembangan Konsep Quality Control

Ir.Rony Ardiansyah, MT

Dosen Teknik sipil UIR

            Konsep tentang kontrol kualitas pertama kali ditemukan dalam dokumen yang dibuat oleh Raja Hammurabi dari Babylonia (2123-2081 BC). Banyak hukum dan undang-undang yang dibuat pada masa pemerintahnya memiliki aspek pelayanan yang mangacu pada suatu standar tertentu. Salah satu hukum yang dibuatnya dalam bidang konstruksi adalah sebagai berikut; ”The person who build a house which fall down and kills the inmate shall be put to death”, yang artinya kira-kira ; “ Seseorang membangun rumah, dimana rumah tersebut rubuh dan mengakibatkan terbunuhnya si penghuni rumah itu, maka orang tersebut harus dihukum mati”.

            Kalau undang-undang Raja Hammurabi itu diterapkan pada zaman sekarang ini, saya rasa tidak ada orang yang berani menjadi kontraktor, apalagi menjadi seorang pimpro. Lepas dari masalah itu, dalam kesempatan minggu ini penulis ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk melihat perkembangan konsep quality control bersama Ir. Tuti Sumarningsih, MT dosen Magister Teknik Sipil UII Yogyakarta ;

Scientific Management

            Standar kontrol kualitas berkembang pesat di Inggris pada masa Revolusi Industri yang dimulai pada akhir abad ke 18. revolusi industri membawa perubahan yang sangat besar pada kehidupan masyarakat, memacu perkembangan metoda-metoda industri baru, serta merubah hubungan antara pedagang dengan pelanggannya.

            Revolusi industri membuat orang dapat memproduksi barang-barang dalam jumlah banyak dengan mempergunakan mesin. Peningkatan produksi yang sangat pesat pada akhirnya membuat pemilik pabrik tidak dapat lagi mengontrol semuanya secara langsung, sehingga muncul kebutuhan akan adanya manajer. Para manajer ini berusaha keras untuk meningkatkan efisiensi pada organisasi perusahaan. Salah satu pelopor manajemen yang memiliki peran besar adalah Frederick W. Taylor (1856-1915) yang memperkenalkan teori Scientific Management, atau yang sekarang dikenal dengan istilah produksi masal (mass production). Scientific Management didasarkan pada keyakinan bahwa organisasi berlaku seperti mesin, sehingga dapat dioperasikan dengan prinsip-prinsip scientific (ilmiah).

Continue reading

Klasifikasi “Tanah” Sebagai Bahan Konstruksi

Ir.Rony Ardiansyah, MT

Dosen Teknik sipil UIR

 

            Istilah tanah dalam bidang mekanika tanah dapat dipakai untuk mencakup semua bahan seperti lempung, pasir, kerikil dan batu-batu besar. Metode yang dipakai dalam teknik sipil untuk membedakan dan menyatakan berbagai tanah, sebenarnya sangat berbeda dibandingkan dengan metode yang dipakai dalam bidang geologi atau ilmu tanah. Walaupun system klasifikasi yang dipakai dalam mekanika tanah bermaksud untuk memberikan keterangan mengenai sifat-sifat teknis dari bahan-bahan itu dengan cara yang sama,  seperti halnya pernyatan-pernyataan secara geologis dimaksudkan untuk memberi keterangan mengenai asal geologis dari tanah.

            Coba kita perhatikan Sungai Kampar yaitu sungai penghasil material krikil dan pasir sebagai bahan bangunan. Mengapa pasir di Danau Bingkuang kualitasnya lebih bagus dari pasir di Tratak Buluh, dan pasir di Bangkinang kualitasnya lebih baik dari pada pasir Danau Bingkuang, serta mengapa Batuh pecah disekitar Koto Panjang atau batas Sumbar lebih baik kualitasnya dibandingkan krikil di Bangkinag ?.

            Jawabannya adalah karena semakin besar berat jenis suatu material tentu mutunya akan lebih baik . Sungai Kampar yang berhulu disekitar daerah Kota Panjang yang akhirnya  bermuara di sebelah selatan Selat Malaka, adalah melalui kota-kota secara berturut-turut sebagai berikut; kota Rantau Berangin, Bangkinag, Danau Bingkuang, Langgam, Dan Pangkalan Kerinci.

Continue reading

ANDAL, AMDAL dan Daya Dukung Lingkungan

Ir.Rony Ardiansyah, MT
Dosen Teknik sipil UIR

Riau sebagai propinsi yang sedang berkembang dan sedang pesat-pesatnya membenahi diri, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dengan pembangunan di segala bidang termasuk prasarana dan industri, seringkali masalah menjaga kelestarian lingkungan belum cukup mendapat perhatian. Salah satu contoh ialah, misalnya; kurangnya perhatian terhadap pencemaran air sungai Siak yang sudah sampai pada taraf yang sangat mengkuatirkan. Data dari Bappedal Wilayah I tahun 1998/1999 saja tercatat bahwa jumlah sampah disepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Siak mencapai 525 ton per hari. Terdiri dari sampah organik (70%), plastik (20%), logam (5%) dan kaca (5%).
Hasil penelitian Tim Rona Lingkungan Hidup Unri menyebutkan bahwa luas DAS Siak secara keseluruhan mencapai lebih kurang 16.608,895 Km2, dengan panjang alur sungai terdalam di Indonesia ini mencapai 300 Km dan kedalaman 5 hingga 15 meter, kondisi air sungai Siak terus dibabani berbagai limbah yang mengakibatkan beberapa hal. Diantara lain hilangnya daerah resapan akibat penebangan hutan, hilangnya vegetasi di sepanjang DAS Siak, Abrasi bibir sungai, tingginya sedimentasi, pendangkalan dan penurunan kualitas air secara fisika kimia dan biologi. (riau pos, 22-11-2003)
DAS Siak yang meliputi Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Siak, Kota Pekanbaru dan sebahagian Kabupaten Bengkalis. Pada tahun 1970 an, mutu air sungai Siak masih bersih, jernih dan banyak jenis ikan maupun udangnya, bahkan tanpa memasang umpan pada pancing sekalipun kita bisa mendapatkan “ikan juaro” .Saya masih ingat rumah saya yang terletak dipinggir sungai Siak di Siak Sri Indrapura, kami mandi dengan air sungai yang bersih dan jernih, bahkan air minumpun berasal dari sungai ini. Tetapi kualitas airnya sekaramg tidaklah seperti saat itu, penurunan kualitas dapat dilihat dari peningkatan industri yang menyebabkan kekeruhan air, senyawa toksik, logam berat serta naiknya BOD, COD dan turunnya DO (oksigen dalam air). Beban itu mengalir dari limbah industri dan pabrik, limbah rumah makan dan restoran, limbah rumah tinggal, sampah organik, plastik, logam dan kaca.
Kelestarian lingkungan dalam hal ini adalah yang bersifat dinamis dimana lingkungan tetap mampu mendukung taraf hidup yang lebih tinggi, berarti dampak yang ditimbulkan oleh pembangunan masih dapat diserap dengan baik oleh daya dukung lingkungan di sekitarnya. Dampak adalah segala perubahan lingkungan yang disebabkan oleh suatu kegitan , bisa jadi pembangunan proyek dan beroperasinya unit hasil proyek. Kegitan ini akan membawa perubahan yang positif maupun negatif terhadap lingkungan. Oleh sebab itu, maka harus didasarkan pada wawasan lingkungan dengan memperbesar dampak positif dan memperkecil dampak negatif.

Continue reading

Rice Husk Ask

(Sebagai material Pozzolan Dalam Beton)

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Praktisi  HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia)

             Pertanyaan: Kepada yang terhormat Pengasuh Rubrik, tolong jelaskan proses terjadinya Rice Husk Ask atau abu kulit gabah. Persyaratan apa atau suhu berapa  yang harus dipenuhi agar pembakaran gabah bisa menghasilkan Rice Husk Ash sebagai material pengganti semen atau sebagai material Pozzolan dalam beton.

Jawab:

Penggilingan padi selalu menghasilkan gabah yang cukup banyak yang akan menjadi material sisa. Ketika butir padi digiling, 78% dari beratnya akan menjadi beras dan akan menghasilkan 22% berat kulit gabah. Kulit gabah ini dapat digunakan sebagai bahan bakar dalam proses produksi. Kulit gabah terdiri dari 75% bahan mudah terbakar dan 25% berat akan berubah menjadi abu. Abu ini dikenal dengan Rice Husk Ash (RHA) yang mempunyai kandungan silika reaktif (amorphhous silica) sekitar 85-90%.

Continue reading

Siapakah Pemimpin Proyek (Pinpro) Itu?

Ir.Rony Ardiansyah, MT

Dosen Teknik sipil UIR

   Ketika masa kuliah saya sekitar tahun delapan puluhan. Pimpro (seharusnya ditulis ; Pinpro, berasal dari kata “Pin” singkatan dari Pemimpin dan “Pro” berasal dari kata Proyek), istilah ini sangat terkenal dan berkonotasi dengan sosok yang disegani, berpendidikan tinggi, teknokrat, dan kaya, serta merupakan  penentu kebijakan proyek dan lain sebagainya. Seseorang akan merasa bangga apabila disebut “pimpro”. Bagaimana dengan kondisi sekarang?. Seringkali kali kita mendengar bahwa pimpro harus bertanggung-jawab, pimro itu sebaiknya diganti, atau pimpro proyek itu melakukan mark up yang menyebabkan proyeknya terlambat atau retak-retak, dan sebagainya dan sebagainya. Siapakah Pimpro itu ?. Setelah membaca buku ; (Manajemen Proyek & Konstruksi oleh Ismawah Dipohusodo). Pada kesempatan ini penulis mengajak kita semua untuk melihat Siapakah Pemimpin Proyek itu dan apa saja peran serta tanggung jawab seorang “Pemimpin proyek”

Siapakah Pemimpin Proyek ?

            Peminpin Proyek adalah seseorang yang dapat menerima tanggung jawab untuk mengemban tugasnya dengan didasari oleh keyakinan bahwa sumber daya tertentu yang diberikan kepadanya layak untuk dapat dikelola dan diproses menjadi keluaran-keluaran yang diharapkan. Selain menggunakan seperangkat alat-alat manajemen yang tersedia, diharapkan dapat mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mempengaruhi, menyesuaikan, dan mengkoordinasi semua sumber daya tersebut dalam melaksanakan sebuah proyek atau lebih.

            Pemimpin Proyek adalah seseorang atau lembaga line terdepan yang berhadapan langsung dengan permasalahan di proyek-proyek. Menurut Istimawan Dipohusodo ; apabila Pemimpin Proyek, karena sesuatu hal, menutupi masalah-masalah yang timbul meskipun hanya untuk sementara saja, adalah merupakan keadaan yang membahayakan. Disadari atau tidak, apabila Pemimpin Proyek menyembunyikan permasalahan, berarti jalur wewenang untuk pengambilan keputusan oleh para pejabat pimpinan telah disumbatnya.

Continue reading